Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 126 Sangat Tepat


__ADS_3

Malam ini Abi tidur seorang diri di kamarnya. Beberapa hari sepeninggal suaminya, Mamanya selalu menemaninya tidur kalau malam tiba. Lidia takut terjadi sesuatu dengan putrinya jika membiarkannya tidur sendiri. Namun malam ini Abi berusaha menunjukkan perubahan kalau perlahan hatinya mulai ikhlas menerima kepergian sang suami dengan meminta tidur sendiri. Sedangkan anaknya tidur bersama Lidia.


Semenjak kepergian Reno, jiwa Abi sangat terguncang. Dia yang masih masih memilih bayi belum genap satu bulan harusnya masih memberikan ASI pada Raffael, namun sayangnya ASI-nya tidak bisa keluar. Alhasil dengan terpaksa Raffael harus minum susu formula.


Abi meerebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk sebuah figura foto suaminya. wanita itu menciumi foto Reno dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi untuk keluar.


Isakan Abi perlahan melemah, hingga akhirnya ia menutup mata dan terlelap dalam mimpi.


Malam ini Abi tidur sangat nyenyak. Bahkan lebih nyenyak dibandingkan beberapa terakhir ini. tubuhnya terasa sangat hangat kala merasakan pelukan dari orang yang sangat ia cintai.


Meskipun dalam keadaan terlelap, Abi bisa merasakan pelukan itu nyata. Bahkan ia juga ikut membalas pelukan hangat itu. Namun sayangnya Abi enggan membuka mata karena takut itu hanya mimpi. Meskipun kenyataannya memang benar mimpi, Abi masih ingin terus menikmati pelukan Reno. Kalau bisa ia tidak akan bangun, agar bisa merasakan pelukan itu.


Menjelang pagi hari Abi terbangun dari tidurnya. Wanita itu perlahan membuka mata. Melihat sekeliling dan hanya ada dirinya seorang yang sedang berbaring di atas ranjang. Seketika dadanya terasa sesak. Ternyata semalam hanya mimpi. Walau pelukan itu terasa sangat nyata.


“Kenapa di sini?” gumam Abi tampak bingung saat melihat figura foto suaminya ada di atas nakas. Padahal ia sangat ingat dengan jelas kalau semalam tidur sambil memeluk foto suaminya.


Tok tok tok


Lamunan Abi buyar ketika terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Ia bergegas membuka pintu itu dan ternyata mamanya sedang menggendong Raffael yang sedang menangis.


“Mungkin dia nyari kamu, baru terbangun langsung menangis.” Ucap Lidia.


“Terima kasih, Ma.” Jawab Abi lalu mengambil Raffael dari gendongannya.

__ADS_1


Abi membawa masuk Raffael ke dalam kamarnya. Dia menimang bayi laki-laki itu sambil menciumi pipinya.


Waktu masih sangat pagi, Abi menggendong Raffael lalu membuka jendela kamarnya untuk mencari udara segar.


“Kenapa ini terbuka? Apakah semalam aku lupa menguncinya?” gumam Abi saat melihat jendela kamarnya ternyata tidak terkunci.


Tak lama kemudian Raffeael mulai menggeliatkan badannya. Bayi itu tampak sangat lucu di saat matanya masih tertutup, namun lidahnya dijulurkan. Tanpa sadar Abi menyunggingkan senyuman melihat itu.


“Maafkan Mama, Sayang!” ucapnya pilu sambil menatap Raffael yang mempunyai garis wajah dominan dengan Reno.


**


Selama beberapa hari, bahkan setiap malam Abi merasakan hal yang sama saat sedang tidur. Yaitu selalau ada seseorang yang memeluknya. Pelukan yang mampu membuatnya tidur lelap. Bahkan rasa sedih karena kehilangan sang suami perlahan sirna. Karena Abi meyakini kalau suaminya masih ada di sekitarnya, walau tidak bisa dilihat secara kasat mata.


Benar saja, hal itu terulang lagi. di tengah malam Abi merasa pelukan hangat itu menyambangi tubuhnya. Tidak hanya itu. Bahkan Raffael juga sama sekali tidak menangis. Mungkinkah bayi itu juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.


Hari ini Abi sengaja mendatangi makam suaminya. semenjak kematian Reno hingga sampai saat ini Abi baru mendatangi makam itu lagi. karena hatinya kali ini sudah siap untuk menatap batu nisan yang terukir nama suaminya.


Abi menaburkan bunga di atas makam Reno. Ia berusaha kuat untuk menahan tangisnya, namun tidak bisa. Bahkan semakin deras air matanya mengalir saat kepingan kenangan muncul dalam benaknya.


“Reno, maafkan aku jika sampai saat ini aku belum mempercayai bahwa kamu telah meninggalkan aku dan Raffael.” Ucap Abi sambil terisak pilu.


“Viana!” panggil seseorang hingga membuat Abi mendongak menatap seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

__ADS_1


“Om Chiko? Ada apa, Om?” tanya Abi lalu mengusap air matanya.


“Maaf aku tadi mencarimu di rumah. ternyata Tante Lidia bilang kalau kamu sedang di sini.”


“Ada apa, Om?”


“Ehm, Daddy ingin bertemu denganmu. Beliau ingin berpamitan padamu kalau besok Daddy akan pulang. Nanti malam aku akan menjemputmu untuk menemui Daddy.” Ucap Chiko dan membuat hati Abi semakin sesak.


***


Sementara itu Sean dan Xander sudah mendapatkan laporan dari orang suruhannya kalau Tian, Keano, berseta Papanya sudah berhasil ditangkap dan sedang diamankan di markas khusus milik Sean. Namun kedua pria paruh baya itu tidak langsung memberikan pelajaran pada mereka. Mungkin Sean dan Xander masih menyiapkan sesuatu sebelum menghabisi ketiga pria baj***an yang telah menghilangkan nyawa Reno.


“Lalu kapan waktu yang tepat untuk kita mengeksekusi mereka?” tanya Xander.


“Lusa. Dan waktu itu sangat tepat.” Jawab Sean dengan seringai tipis di bibirnya membayangkan saat melihat ketiga pria itu meregangkan nyawa.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2