Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 134 Siapa Dia


__ADS_3

Saat ini Reno dan Abi sedang berada di dalam kamar menemani Raffael. Beberapa saat yang lalu anak buah Reno mengabarkan kalau Chiko sudah sadar dan keadaannya lebih baik. Hal itu membuat Reno dan juga Abi lega.


“Sayang, apa kamu tidak ingin merayakan pesta pernikahan kita? Maaf, kalau pernikahan kita dulu terkesan menyiksa kamu.” Tanya Reno merasa bersalah.


“Tidak perlu. Aku sama sekali tidak membutuhkan pesta pernikahan mewah itu. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan rumah tangga kita sekarang ini, meskipun dulu sempat diawali dengan berbagai macam drama.” Jawab Abi.


“Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Lalu apa keinginan kamu? Apa kamu kita pergi berbulan madu?” tanya Reno dengan menyeringai kecil. Dan hal itu membuat Abi tergelak.


“Kamu ini ada-ada saja, Ren! Kita ini bukan pengantin baru lagi yang harus pergi berbulan madu. Apa kamu lupa sekarang ada Raffael? Meninggalkannya beberapa jam saja aku sudah merindukannya, apa lagi kita akan pergi berbulan madu yang pastinya akan menghabiskan waktu tiga sampai empat hari.”


Reno menghembuskan nafasnya pelan. Memang benar yang dikatakan istrinya. Akhirnya dia pasrah dengan penolakan Abi tentang pergi berbulan madu itu, dengan alasan anak.


“Ya sudah, aku tidak memaksa lagi. kamu bilang saja kalau ingin sesuatu, aku janji akan menuruti semua keinginanku,-“


“Yakin?” dengan cepat Abi memotong ucapan suaminya.


“Asal tidak kembali menjadi model.” Lanjut Reno seperti mengerti apa yang akan dikatakan oleh isrinya.


Dan benar saja, Abi langsung mengerucutkan bibirnya setelah mendengar lanjutan kalimat suaminya.


“Bukankah Daddy sudah mengatakan kalau beliau menginginkan cucu yang banyak.” Ucap Reno dan langsung mendapat cubitan di perut dari istrinya.


“Dasar mesuum!” ucap Abi dengan muka memerah.


“Lalu kapan aku sudah diperbolehkan berbuka puasa, hem?” tanya Reno sambil memeluk Abi dari belakang, namun suaranya terasa berat seperti sedang menahan sesuatu.


Abi merasa bulu kuduknya berdiri saat tengkuknya tiba-tiba dikecup oleh suaminya. dia berusaha kuat menolak, karena memang belum selesai masa nifasnya.

__ADS_1


“Ren, bersabarlah. Aku belum selesai.” ucap Abi.


“Baiklah.” Reno menjawab lalu ia bergegas duduk demi menahan gairaahnya agar tidak semakin menggila.


Abi tahu kalau suaminya sedang kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. keadaanlah yang membuat mereka tidak bisa untuk melakukan penyatuan terlebih dulu.


“Besok antar aku ke rumah sakit untuk berkonsultasi ke dokter.” ucap Abi mencoba mengubah topik pembicaraan. Dan dijawab oleh Reno dengan anggukan kepala.


***


Keesokan harinya, saat sedang sarapan bersama, Xander mengatakan kalau nanti sore akan pulang. pria itu juga mengatakan kalau kepulangannya sekalian mengaja kakak iparnya, yang tak lain Daddy Reno. Reno tampak terkejut karena Daddy-nya tidak memberitahunya.


“Memang Daddy kamu berencana akan ikut Om pulang minggu depan. Namun karena perusahaan Om tidak bisa ditinggal terlalu lama, jadi Om mengajaknya hari ini. Mungkin Daddy kamu belum sempat memberitahu kamu, Ren.” Ucap Xander.


“Ya sudah kalau begitu, Om. Nanti Reno akan pulang ke rumah dan menanyakannya langsung pada Daddy.” Pungkasnya lalu melanjutkan makan.


“Sayang, aku ke kantor dulu. Nanti usai makan siang kita pergi ke rumah sakit, sekaligus menjenguk Chiko.” Pamit Reno pada Abi yang sedang menggendong Raffael.


“Baiklah. Hati-hati, Papa! Semangat kerjanya!” jawab Abi sambil menirukan suara khas anak kecil.


Reno terkekeh mendengar ucapan istrinya, setelah itu ia mendaratkan ciuman pada kening Abi dan bergantian mencium pipi Raffael. Dan reaksi bayi itu langsung menggeliat saat merasakan bulu-bulu halus di area rahang Papanya menyentuh pipinya.


“Sudah-sudah! Kasihan dia terganggu tidurnya, Ren!”


“Baiklah. Coba kamu yang aku gituin, pasti senang sekali.” Jawab Reno menggoda istrinya. Abi langsung melotot tajam karena ucapan mesumm suaminya.


***

__ADS_1


Hari ini keadaan Chiko lebih baik dari kemarin. Walau ia masih belum bisa bergerak bebas akibat bekas lukanya belum kering. Jadi untuk makan saja, dia masih harus disuapi.


“Tuan, kok saya seperti sedang menyuapi kekasih saya, ya?” ucap seorang pria yang berstatus anak buah Reno.


“Kamu ini bicara apa. Jangan macam-macam!” jawab Chiko mendadak was-was.


“Saya kan hanya bilang seolah sedang menyuapi kekasih saya. Tuan jangan negative thinking! Saya masih normal.” Ucap pria itu mempertegas kalimatnya.


Chiko tak lagi menjawab. Dia sibuk mengunyah makanannya.


“Lagian kemana sih kekasih anda? Sudah jam segini masih belum datang lagi. padahal kemarin menunggui anda seharian.”


“Apa maksud kamu? Kekasih?” tanya Chiko bingung.


“Bagaimana sih Tuan ini? saat operasi sampai selesai operasi Tuan kemarin, ada seorang perempuan yang terus menemani Tuan. Bahkan saat anda masih dalam pengaruh obat bius pasca operasi, perempuan itu dengan setia menemani anda.”


“Kekasih? Siapa kekasihku? Selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita. Hanya ada Chelsea di hatiku. Tapi tidak mungkin dia yang melakukan semua itu. Dia juga pasti masih sakit hati karena ucapan dan perbuatanku dulu. Tapi kemarin aku merasa sentuhan lembut tangan seseorang di tanganku. Siapa dia?” Tanya Chiko dalam hati.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2