
Beberapa menit setelah berkendara, akhirnya mobil Chiko sudah berhenti di depan sebuah Club malam yang sudah menjadi langganannya. Suasana tampak sepi, memang waktu masih siang. Namun di dalamnya Chiko yakin kalau ada orang, tepatnya manager Club di sana.
Menurut Chiko tidak sulit untuk meminta bukti rekaman CCTV di Club tepatnya di waktu ia menghabiskan satu malam dengan wanita bernama Chelsea. Karena dia hanya ingin lihat rekaman yang ada di area Club dan sekitar private room. Jadi, sama sekali tidak mengganggu privasi seseorang.
Chiko juga melupakan satu hal kalau saat itu dia mendatangi manager Club untuk menanyakan wanita yang telah menemaninya karena dia ingin memberikan tips. Tapi sayangnya manager Club mengatakan kalau wanita yang ia sewa justru kembali lagi setelah mengetuk pintu kamarnya tak mendapat sambutan.
“Shitttt!”
Tak ingin terlalu lama menunda waktu, Chiko segera menemui manager Club itu.
“Hai Bro! ini masih siang, apa kamu mau have fun sendirian?” sapa Darren si manager Club yang sudah kenal dengan Chiko.
Chiko mengatakan maksud kedatangannya. Awalnya Darren menolak dengan alasan privasi, namun Chiko bilang kalau hanya ingin melihat rekaman cctv di bagian luar saja tanpa mengganggu privasi pengunjung lainnya. Dan dengan memberikan beberapa lembar uang pada Darren, akhirnya pria berambut gondrong itu mau menunjukkan rekaman cctv sesuai permintaan Chiko.
Jantung Chiko berdegup semakin kencang saat melihat tubuh Chelsea hampir limbung di depan pintu kamarnya. Jadi, wanita yang menemaninya menghabiskan waktu satu malam itu adalah Chelsea.
“Thanks, Bro! aku pergi dulu.” Pamit Chiko pada Darren.
Sesampainya di dalam mobil, Chiko mencengkeram kuat setir mobilnya. Dia sungguh menyesali perbuatannya. Harusnya ia mendekati Chelsea dengan cara baik-baik. Kini dia yakin setelah keejadian itu, pasti Chelsea akan semakin membencinya.
“Tidak! Aku harus bertanggung jawab.” Gumam Chiko setelah itu memacu kendaraannya pergi meninggalkan Club.
***
Sementara itu Abi kini sedang beristirahat sendiri, tanpa ada yang menemaninya. Dia mempunyai firasat aneh antara Chiko dan Chelsea. Namun ia tidak ingin menduga-duga hal yang belum pasti kebenarannya.
Abi melihat jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul tiga sore. Lalu ia teringat dengan Raffael. Abi meraih ponselnya untuk melakukan panggilan video dengan Mamanya. Karena Raffaeel saat ini sedang berada di rumah Mamanya bersama Bu Mira.
__ADS_1
Wajah lucu Raffael membuat Abi menitikan air matanya. belum ada sehari meninggalkan bocah kecil itu, dia sudah dibuat rindu setengah mati. Setelah cukup lama menghabiskan waktu melakukan panggilan video, akhirnya Abi mengakhiri panggilan itu.
Cklek
Seseorang tiba-tiba membuka pintu ruang rawatnya. Orang itu tersenyum hangat menghampirinya.
“Sayang, bagaimana keadaan kamu? Maaf kamu sendirian tidak ada yang menemani.” Ucap Reno sambil menghujani ciuman di seluruh wajah istrinya dan berakhir di perut rata Abi.
“Nggak apa-apa, Ren. Kamu lihat sendiri kan kalau aku baik-baik saja meskipun sendirian.” Jawab Abi.
Reno juga tampak lega karena istrinya baik-baik saja. tadi ia sempat diberitahu oleh Chiko kalau istrinya sedang sendirian di rumah sakit, karena Chelsea sudah pulang. jadi, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan buru-buru agar bisa segera pergi ke rumah sakit.
Waktu juga sudah sore dan waktunya Abi mandi. wanita itu ingin mandi karena tadi pagi suaminya hanya menyeka beberapa bagian tubuhnya saja.
“Ayo aku antar mandi, atau kita mandi bersama saja?” ucap Reno sambil mengerlingkan matanya nakal.
“Tapi, Sayang! Bagaimana dengan infus kamu ini? aku bantu saja. janji deh nggak akan macam-macam. Tapi satu macam saja, hehehe”
Abi semakin merengut kesal. Bisa-bisanya suaminya berpikiran mesuum saat sedang di rumah sakit seperti ini. tapi memang benar, dia juga sepertinya kesusahan jika mandi sendiri. Akhirnya terpaksa Abi mengiyakan saran dari suaminya asal tidak berbuat macam-macam.
Reno berusaha mati-matian menahan sesuatu yang ada di bawah sana saat sedang mengguyur punggung mulus istrinya. Apalagi saat Abi menghadapnya langsung. ingin sekali ia menyerang dua bongkahan yang besar dan menantang itu. Tapi buru-buru ia menyadarkan diri kalau saat ini istrinya sedang sakit.
“Cepatlah, Ren!” ucap Abi membuyarkan lamunan suaminya.
Abi sangat yakin kalau saat ini otak mesuum suaminya sedang berperang batin saat melihat lekuk tubuhnya. Karena sejak tadi Reno hanya diam memandangi dua asetnya.
“Eh, iya. Maaf, Sayang!” ucap Reno dengan susah payah menelan ludahnya. Karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering saat melihat sumber air minum milik Raffael.
__ADS_1
“Reno!!!” pekik Abi saat suaminya nekat menyentuh dua bongkahan besar yang menggantung itu.
“Ma…maaf.” Mendadak nyali Reno menciut saat mendengar suara murka istrinya.
“Aku sudah bilang, kalau aku bisa mandi sendiri. Begini kan jadinya? Nggak pengertian banget, istri sedang sakit malah nekat.” Gerutu Abi sambil meraih handuk dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya terbelit selang infus.
“Biar aku bantu, Sayang!” Reno merasa bersalah dan takut dengan kemarahan sang istri. Namun Abi sama sekali tidak mengindahkannya.
Meskipun Abi meraih handuk dengan tangannya sendiri, namun Reno tetap membantunya untuk memakai pakaiannya. Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan Abi berjalan lebih dulu, dan Reno memegangi infus.
“Dokter?”
Abi dan Reno sama-sama terkejut saat melihat dokter dan seorang perawat sedang berada di dalam kamarnya. Pasti dokter mengira kalau dirinya dan Reno sedang berbuat yang tidak-tidak di kamar mandi.
“Maaf, membuat dokter menunggu lama.” Ucap Abi dengan malu.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Tapi alangkah baiknya menunggu sampai keadaan Nyonya benar-benar membaik.” Saran dokter sambil mengulas senyum tipis tertuju pada Abi dan Reno.
.
.
.
*TBC
😂😂😂😂
__ADS_1
Happy Reading‼️