
Akhirnya tepat pukul dua dini hari bayi berjenis kelamin laki-laki itu lahir dengan selamat. Dengan air mata yang terus berlinang, Abi terus mengucap syukur dalam hatinya karena telah melahirkan seorang putra yang begitu tampan. Akhirnya penantian panjang selama kurang lebih sembilan bulan itu dibayar dengan kebahagiaan yang tidak ada tandingannya.
Setelah bayi itu diletakkan di atas dadanya dan dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), perawat mengambilnya lagi.
“Ma, dia sangat tampan.” Ucap Abi pada Mamanya yang sejak tadi berada di sampingnya.
“Iya, Sayang. Cucu Mama sangat tampan.” Sahut Lidia sambil mengulas senyum.
Tak lama kemudian setelah mendapat beberapa jahitan, Abi segera dipindah ke ruang rawat inap. Sedangkan bayinya akan diletakkan di ruang khusus bayi.
Sean yang sejak tadi menunggu di luar ikut bahagia setelah terdengar suara tangisan seorang bayi. Itu tandanya cucunya sudah lahir. Tak lama kemudian dia melihat Abi dipindah ke ruang rawat inap, dan pria itu mengikutinya bersama sang istri yang berjalan di belakang perawat.
Kini Abi sudah berada di ruang rawat VVIP. Matanya berkaca-kaca kala mengingat suaminya masih belum juga datang. Ada rasa khawatir bercampur kecewa dalam hatinya. Kecewa karena nyatanya Reno hanya berjanji saja akan menemani masa persalinannya, namun tidak ada buktinya. Dan khawatir jika terjadi sesuatu dengannya.
“Sayang, lebih baik kamu istirahat. Tenaga kamu harus segera pulih. Mama yakin Reno pasti sedang sibuk. Nanti Ayah kamu sendiri yang akan datang ke rumah untuk memastikannya.” Ucap Lidia yang seolah mengerti kegundahan hati anaknya. Sean pun mengangguk setuju.
Akhirnya dengan berat hati dan sedikit rasa lega, Abi menurut dengan perintah Mamanya. Dan memang benar tubuhnya harus segera pulih pasca melahirkan tadi. jadi ia memilih untuk beristirahat terlebih dulu.
**
Sementara itu kini Reno dan Chiko sedang berada di kantor. sejak sore tadi sampai saat ini dini hari. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul empat, baik Reno maupun Chiko masih fokus dengan layar laptop di hadapannya.
Reno sangat terkejut saat tiba-tiba keadaan perusahaannya hampir di ujung tanduk. Dia masih belum bisa mencari apa penyebab masalah itu dan siapa yang menyebabkannya. Yang terpenting saat ini ia dan Chiko fokus menangani masalah itu sebelum keadaan semakin terpuruk.
__ADS_1
Baik Reno maupun Chiko sama sekali tidak memegang ponselnya. Bahkan ponselnya sampai kehabisan daya pun mereka tidak tahu. Sedangkan sambungan telepon kantor memang sengaja dimatikan agar tidak mengganggu konsentrasinya.
Sebenarnya sejak tadi malam perasaan Reno tiba-tiba merasa tidak enak. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dan fokus dengan keadaan perusahaannya.
“Ren, ini sudah hampir pagi. apa kamu tidak pulang saja?” tanya Chiko yang sedang berada di ruangan yang sama dengan Reno.
“Tunggu sebentar lagi. setidaknya jika aku meninggalkan kantor, keadaan perusahaan sedikit lebih baik.” Jawabnya dengan mata yang tertuju pada layar laptop.
“Ingat ada istrimu yang sejak tadi menantimu pulang. bahkan sejak tadi kamu tidak memegang ponsel hanya untuk mengabarkan saja.”
“Astaga!” Reno mengacak rambutnya frustasi. Dia merasa sangat bersalah pada sang istri. Lalu Reno mengambil ponselnya ternyata ponsel itu sudah dalam keadaan non aktif karena kehabisan daya. Kemudian Reno mengisi batreinya sejenak sambil melanjutkan pekerjaannya sebentar.
Beberapa menit kemudian Reno mengaktifkan ponselnya. Dia sangat terkejut saat melihat begitu banyak panggilan dari mertuanya. Bahkan belasan pesan masuk juga dari nomor mertuanya. Fokus Reno hanya membuka pesan terakhir dari Sean yang berisi foto. Setelah berhasil membukanya, perasaan Reno semakin tak karuan saat melihat potret seorang bayi. Tubuhnya lemas seketika. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus penyesalan mendalam terhadap sang istri.
“Anakku sudah lahir, Ko! Jam dua tadi.” jawabnya lirih.
Chiko juga terkejut mendengar kabar itu. Dia tahu apa yang dirasakan Reno saat ini.
“Tenanglah! Lebih baik sekarang kamu ke rumah sakit. Serahkan semuanya padaku.” ucap Chiko sambil menepuk Pundak Reno memberi semangat.
Reno mengangguk. Setelah itu ia bergegas mencuci wajahnya terlebih dulu sebelum pergi ke rumah sakit.
Tepat pukul lima pagi Reno sampai di rumah sakit. Dia segera menuju ruang rawat istrinya. Perlahan ia membuka pintu kamar itu, dan terlihat mertuanya sedang tertidur di sofa. Sedangkan Abi juga sedang terlelap.
__ADS_1
Ingin sekali Reno menubruk tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat dan meminta maaf atas semua kesalahannya karena tidak bisa menemani masa persalinannya. Namun ia urungkan karena takut mengganggu waktu istirahatnya.
Reno duduk di samping brankar istrinya. Melihat perut sang istri yang sudah tidak buncit lagi. Reno memgang tangan Abi dengan lembut lalu menciuminya berulang kali.
Tanpa terasa Reno menitikan air matanya. dan membasahi punggung tangan Abi, hingga wanita itu perlahan bangun.
“Reno?” panggil Abi dengan suara tercekat karena melihat penampilan suaminya sangat jauh dari kata baik-baik saja.
“Sayang, maaf. Maafkan aku. aku benar-benar suami yang bodoh yang tidak bisa menjaga kalian. maafkan aku.” ucap Reno dengan suara lemah sambil memeluk Abi.
Abi pun ikut menangis mendengar ucapan suaminya yang sarat dengan nada sendu itu. Dia hanya mengusap pelan kepala suaminya.
“Anak kita sudah lahir. Dia sangat tampan seperti Papanya.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1