Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 46 Berpikir Ulang


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang kedua insan itu saling diam dengan pemikiran masing-masing. Terlebih setelah ucapan Lidia yang menginginkan hadirnya cucu dari pernikahan Reno dan Abi.


Jika diamnya Abi memikirkan, apakah bisa mewujudkan keinginan Mamanya kalau sampai saat ini pun Reno masih menggantungkan perasaannya. Bahkan untuk menyentuhnya saja belum pernah.


Sedangkan yang Reno pikirkan hampir sama dengan Abi. Hanya saja dalam benaknya tak sedikitpun berpikiran tentang anak. Bukannya tidak mau mempunyai anak, tapi dia masih mempunyai beban banyak dalam hidupnya.


Sesampainya di rumah, keduanya masih diam. Mereka berdua berjalan beriringan dan memasuki kamar masing-masing. Namun Abi mencegah langkah Reno yang hampir memasuki kamarnya.


“Ren, jangan pikirkan ucapan Mama tadi. Jalani saja hubungan ini layaknya aliran air, seperti yang kamu katakan padaku dulu.” Ucap Abi dengan tersenyum. Setelah itu dia masuk ke kamarnya lebih dulu.


Reno mengacak rambutnya frustasi. Hanya karena ucapan mertuanya, dia sampai mengabaikan Abi. Padahal sejak tadi sebelum menjemput Abi, Reno tampak senang karena akan melepas rindu pada perempuan itu. Akhirnya Reno memutuskan untuk masuk ke kamar Abi.


Ketukan pertama Abi langsung membukanya. Karena memang dia baru saja menutup pintu kamarnya.


“Ada apa?”


Grep


“Maafkan aku, Bi. Aku akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan. Mungkin kamu mengira aku sering mengabaikanmu.” Ucapnya sambil memeluk erat tubuh Abi.


Reno sedikit mendorong tubuh Abi hingga akhirnya mereka berdua terduduk di bibir ranjang. Reno membelai lembut rambut Abi. Kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Abi.


“Apakah kita bisa melakukannya sekarang?” tanya Reno tiba-tiba.

__ADS_1


Reaksi Abi tidak terkejut mendapati pertanyaan, tepatnya tawaran untuk melakukan hubungan badan. Memang Mamanya sudah banyak memberikan wejangan kalau jangan sekalipun menolak keinginan suami. tapi dengan tawaran seperti ini membuat hati Abi miris. Hanya karena ucapan mamanya yang meminta cucu, Reno jadi seperti ini.


“Lebih baik kamu istirahat saja, Ren. Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu ssangat sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini.” jawab Abi mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Apa kamu tidak mau melakukannya sekarang? bukankah Mama kamu tadi menginginkan cucu?”


Tepat sekali pikiran Abi. Ingin rasanya dia menangis sekencang-kencangnya. Hatinya begitu sakit dengan sikap Reno. Ternyata benar sampai saat ini pria itu belum mencintainya. Walau Reno mengatakan mencoba membuka hatinya.


“Mama dan Ayah sudah punya cucu dari Kak Chandra. Bahkan Kak Chandra akan memiliki anak lagi. jadi kamu jangan merasa bersalah dengan hal itu.” Ucap berusaha tenang dengan menahan sesak di dadanya.


Reno hany mampu terdiam. Dia tahu apa yang dia ucapkan salah. Namun lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan suasana hatinya saat ini. setelah itu dia beranjak dan keluar dari kamar Abi.


“Selamat beristirahat, Bi!” ucapnya sebelum menutup pintu kamar Abi.


Semenjak saat itu sikap Abi terhadap Reno masih seperti biasa. Hanya saja dia mencoba untuk tidak terlalu dekat dengan pria itu. Terlebih melakukan kontak fisik seperti pelukan dan ciuman. Rasanya Abi seperti wanita murahan saja jika dengan mudahnya Reno menciumnya.


“Bi, nanti malam aku ada undangan pesta ke salah satu rekan kerjaku. Kamu nggak apa-apa kan kalau sendirian di rumah?” ucap Reno saat sedang duduk di meja makan.


“Nggak apa-apa, Ren.” Jawabnya sambil tersenyum.


Bahkan untuk acara pesta saja Reno enggan mengajaknya. Sudah selama ini Reno enggan menagkui dirinya sebagai istri. Lalu mau sampai kapan hubungan ini berakhir?


Hari ini sedang libur dan nanti malam Reno akan datang ke pesta. Kebetulan juga Chiko datang untuk sekedar bermain. Setidaknya Abi tidak merasa jenuh, dan ada seseorang yang dia ajak bicara. Lagi pula Reno juga membiarkan Chiko bersamanya.

__ADS_1


“Apa Reno selalu sibuk seperti ini jika sedang weekend?” tanya Chiko yang sedang duduk bersama Abi di kursi taman.


“Ya seperti yang Om Chiko tahu.” Jawabnya cuek.


“Apakah kalian sedang bertengkar? Rasanya ada hal lain yang terlihat dari wajah kamu, Vi.” Tanya Chiko penasaran.


Abi mendapaati pertanyaan itu hanya tersenyum getir.


“Kayak pasangan normal saja bertengkar.” Jawabnya membuang muka.


Chiko semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Abi. Dia pun mencoba mengorek informasi.


“Entahlah Om. Sebenarnya statusku ini sebagai apanya Reno. Lebih baik seperti awal dulu saja yang menjadi pelayan untuk mengganti rugi kegagalan kerjasama Reno. Tidak seperti sekarang ini, yang tidak jelas. Aku bosan Om dengan ini semua. Aku merindukan kebebasanku seperti dulu. Terkurung di sini terus membuat hidupku tak berguna.” Keluh Abi sampai terisak.


Chiko sungguh tidak menyangka dengan hubungan rumah tangga sahabatnya yang seperti ini. dia mengira kalau hubungan Reno dan Viana baik-baik saja. ternyata salah. Tapi Chiko juga bingung bagaimana cara untuk menolong Abi. Bahkan untuk memeluk dan menenangkan perempuan itu saja Chiko masih berpikir ulang.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2