
Dan mereka berdua malam itu menghabiskan malam di balkon apartemen dengan saling berpelukan, menumpahkan segala kelelahan setelah perjalanan jauh tadi. hingga akhirnya Reno mengajak Abi masuk ke dalam untuk beristirahat.
***
Selama ditinggal Reno melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, pekerjaan Chiko dan Yoga semakin bertambah. Seperti hari ini saja. atau lebih tepatnya tiga hari kepergian Reno, kedua pria itu setiap hari hampir lembur.
“Yog, sepertinya hari ini kita bisa pulang sedikit lebih awal. Meskipun lembur. Tapi semua data yang masuk tadi sudah aku cek semua dan sudah selesai.” ucap Chiko sambil meregangkan ototnya.
“Syukurlah, Tuan. Karena badan saya juga sedang kurang fit hari ini.” jawab Yoga dengan nada lemah.
Chiko sangat tahu betapa banyaknya tugas Yoga akhir-akhir ini. dia juga merasa kasihan dengan sekretaris Reno itu.
“Makanya lebih baik buruan kamu cari istri, Yog! Biar ada yang merawat jika sedang sakit begini.” Ujar Chiko memberi solusi.
“Lebih baik anda dulu saja, Tuan. Sebelum usia anda kadalwarsa.” Jawab Yoga dan langsung pergi meninggalkan Chiko.
“Sialann!!” umpat Chiko.
Setelah beberapa saat kemudian Chiko sudah menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu bergegas keluar dari ruangannya dan segera pergi ke café. Setelah seharian dibuat penat dengan pekerjaan, Chiko memutuskan untuk sejenak ngopi di café.
Mobil Chiko keluar dari Gedung perkantoran Reno dan melaju menuju sebuah café langganannya. Café tersebut tidak jauh dari apartemennya. Dan café itu juga lah tempat dimana dulu ia pernah memergoki Gavin sedang bertemu dengan seseorang yang sempat ia curigai.
Chiko sudah santai sesudah memesan minuman. Tangannya kini sibuk memainkan gadgetnya sembari menunggu pesanannya datang. Namun, tiba-tiba saja…
Bruk
Ada seseorang yang tiba-tiba saja terjatuh dan duduk di pangkuan Chiko. Entah bagaimana kejadian pastinya, tiba-tiba perempuan itu sudah duduk begitu saja. untung saja ponsel Chiko tidak ikut terjatuh karena terkejut dengan kejadian itu.
“Hati-hati dong, Mas bawa kalau bawa pesanannya!” ucap perempuan itu yang masih kesal sambil memarahi pelayan café yang sedang tertunduk takut.
__ADS_1
“Maafkan saya, Nona!” jawab si pelayan dan langsung pergi.
Sementara perempuan itu masih belum sadar dimana sekarang posisinya. Seingatnya dia tadi mencoba menghindar dari tumpahan minuman yang sedang dibawa seorang pelayan café. Dan dengan cepat dia duduk di sebuah kursi pengunjung. Namun ternyata bukan kursi yang ia duduki, melainkan pengunjungnya.
“Eh, kursinya kok agak empuk ya.” Batin perempuan itu.
Setelah merasa ada yang aneh, perempuan itu segera melihat sekeliling, termasuk kursi yang ia duduki. Alangkah terkejutnya saat dia melihat sosok pria dengan rahang kokoh, dan sorot mata yang tajam sedang tertuju padanya.
“Astaga!!” Pekiknya dan langsung berdiri.
Chelsea kini ingat kalau dia sepertinya mengenal pria itu.
“Mau kemana kamu, Nona?” cegah Chiko dengan cepat.
Chelsea kembali duduk di pangkuan Chiko tanpa peduli dengan tatapan pengunjung lain yang sebagian menertawakannya.
“Maaf, Tuan! Maafkan saya. saya benar-benar tidak sengaja.” Ucap Chelsea ketakutan.
Chiko masih memeluk tubuh Chelsea agar tidak berhasil melarikan diri lagi. sedangkan Chelsea terus meronta ingin segera pergi.
“Diamlah! Jika kamu masih bergerak, aku akan melakukan sesuatu yang akan mempermalukan kamu di depan orang-orang.” Ancam Chiko sambil berbisik tepat di telinga Chelsea.
Akhirnya Chelsea menurut. Chiko masih membiarkan posisi Chelsea seperti itu. Dan tak lama kemudian pesanan Chiko datang. Chiko memerintah Chelsea untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Namun, dia masih mengancamnya agar Chelsea tidak kabur.
Setelah Chiko menghabiskan minumannya, pria itu segera meengajak Chelsea keluar café dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dan lagi-lagi Chelsea menolak ketakutan.
“Menurutlah! Atau aku akan berbuat sesuatu yang aku inginkan.” Ucap Chiko ambigu.
Alhasil Chelsea nurut dengan perintah Chiko. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Chiko membawa Chelsea keluar dari café. Di tengah perjalanan yang cukup sepi, Chiko menghentikan mobilnya.
__ADS_1
“Tuan, sebenarnya apa mau anda?” tanya Chelsea gugup.
“Apa kamu kenal dengan Viana?” tanya Chiko dan Chelsea hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Perlu kamu tahu kalau suami Viana adalah sahabatku. Pertanyaanku tidak ada hubungannya dengan sahabatku maupun Viana.” Ucap Chiko dan semakin membuat Chelsea bingung.
“Kamu ingat saat kita bertemu di café tadi pertama kali dulu? Yang berujung kamu pingsan? Sekrang katakan padaku, siapa pria yang kamu temui saat kamu baru saja memasuki café dulu?” tanya Chiko.
Chelsea bingung sekaligus lupa. Karena kejadian itu sudah lama. Dia mencoba mengingat tapi sangat lama menurut Chiko.
“Cepat katakan!” ucap Chiko yang kini sudah mendekatkan wajahnya dengan Chelsea.
Chelsea seketika terkejut sekaligus gugup saat merasakan hembusan hangat nafas Chiko yang menerpa wajahnya. Chiko sendiri tidak bisa berpikir jernih saat melihat bibir mungil Chelsea.
“Ak.. akhmmpp…” Chiko tidak tahan akhirnya mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Chelsea. Setelah bisa merasakan manis bibir Chelsea, Chiko justru menginginkan lebih.
“Stop, Tuan!!” Chelsea dengan cepat mendorong tubuh Chiko. Dia sungguh tidak menyangka dengan kejadian baru saja.
“Ciuman pertamaku!” gumam Chelsea sambil memegangi bibirnya.
“Aku akan melakukannya lagi, jadi itu bukan lagi ciuman pertamamu, melainkan ciuman keduamu, jika kamu masih belum mau mengatakan siapa pria yang kamu temui dulu.” Ancam Chiko dengan tersenyum smirk.
“Sebastian!!!” ucap Chelsea spontan lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️