
“Hamil?” Reno masih belum bisa mencerna ucapan Daddy-nya baru saja.
“Iya. Daddy yakin kalau istri kamu sedang hamil dan kamu yang ngidam. Tapi Daddy dan Mommy kamu dulu sama-sama ngidam. Kami berdua sama-sama hanya bisa makan roti tawar dengan selai dan minum susu hangat. Makanan lainnya tidak bisa masuk ke perut, apalagi bau bawang yang begitu menyengat.”
Reno terdiam. Entahlah perasaannya saat ini sedang berkacamuk. Jika benar Abi sedang hamil, itu berarti ada darah dagingnya dalam rahim sang istri. Sayangnya dia tidak bisa menemani masa-masa indah itu. Tapi setelah itu sudut bibir Reno tertarik ke atas membentuk senyuman tipis. Jika benar Abi sedang hamil, posisinya masih kuat dan perempuan itu tidak bisa pergi meninggalkan dirinya begitu saja karena ada calon buah hatinya. Kini Reno semakin bersemangat memenuhi permintaan Daddy-nya sambil mencari keberadaan Abi.
“Apakah Daddy yakin kalau istri Reno sedang hamil?” tanya Reno sekali lagi.
“Itu yang Daddy dan Mommy kamu alami dulu. Daddy berharap itu benar.” Jawabnya sambil tersenyum.
Cukup lama Reno dan Daddy-nya menghabiskan waktu di kamar. Tuan Hadiata juga banyak bercerita tentang masa-masa kehamilan istrinya dulu sewaktu mengandung Reno.
“Apakah Daddy boleh tahu wajah menantu Daddy?”
Seketika itu Reno mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto Abi. Tuan Hadiata tersenyum menatap wajah cantik menantunya yang terlihat jelas usianya masih belia. Pria itu juga bisa melihat kalau Abi adalah perempuan baik-baik dan sangat cocok dengan Reno.
“Meskipun Daddy belum pernah bertemu, tapi Daddy akan memberikan restu untuk kalian. semoga ada jalan terbaik untuk hubungan kalian berdua.” Ucap Tuan Hadiata dengan tulus.
**
Waktu berlalu. Reno tidak ingin menunda lagi untuk melakukan pencarian terhadap sahabat Daddy-nya. Karena dengan cepatnya mereka ditemukan, maka Reno juga akan cepat menemui istrinya. Entahlah, Reno sangat yakin kalau sebentar lagi Abi akan ia temukan. Terlebih setelah mendapat restu dari Daddy-nya.
Setelah mendapat beberapa informasi mengenai sahabat Daddy-nya, hari ini Reno memutuskan untuk pulang ke tanah air. Ternyata sahabat Daddy-nya itu tinggal di negara yang sama dengan Reno.
“Nanti Daddy akan berkunjung kalau kamu sudah menemukan anak-anak sahabat Daddy.” Ucap Tuan Hadiata saat mengantar Reno ke bandara.
__ADS_1
“Baiklah, Dad. Daddy jangan lupa jangan kesehatan dan jangan terlalu capek.” Ucap Reno lalu memeluk Daddy-nya dengan erat.
***
Sementara itu Abi kini tengah bersiap untuk melakukan pemotretan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil tawaran dari Xander tempo hari. Beruntungnya job itu tidak terlalu padat. Hanya beberapa kali pemotretan saja sesuai dengan prosedur perusahaan.
“Cantik sekali keponakan Tante!” Ucap Silvia yang baru saja memasuki kamar Abi.
“Tante tahu sendiri kan kalau sejak lahir Viana sudah dianugerahi wajah cantik.” Selorohnya bercanda.
Silvia hanya menggelengkan kepalanya menanggapi candaan Abi. wanita paruh baya itu tahu Abi berusaha menghibur hatinya sendiri. Silvia tahu kalau semenjak kehamilannya, hati Abi tidak baik-baik saja. siapa yang kuat, wanita di dunia ini mengandung tanpa ada suami di sisinya. Pasti rasanya sangat sakit.
“Apakah Om Xander sudah siap, Tan?” tanya Abi membuyarkan lamunan Silvia.
Untuk menjalani pemotretan perdananya kali ini Xander sendiri yang memilih akan mengantar Abi ke tempat pemotretan. Pria itu sangat posesif melebihi Sean. Terlebih Xander tidak ingin anak buah Reno menemukan keberadaan Abi.
Meskipun Xander tahu kalau Reza sudah pernah mengutarakan perasaannya terhadap Abi, dan ditolak oleh Abi, namun Xander tetap berharap Reza lah yang akan menjadi suami Abi suatu saat nanti.
***
Sementara itu saat ini Lidia tengah duduk termenung sendirian di balkon kamarnya. Wanita paruh baya itu sangat merindukan putri satu-satunya yang sudah satu bulan ini tidak bertemu.
Sejak Abi memutuskan tinggal bersama Xander untuk bersembunyi dari kejaran Reno, hampir setiap dua minggu sekali Lidia dan Sean akan terbang ke kota B untuk menjenguk Abi. namun kali ini sudah satu bulan tidak berkunjung. Semua itu karena pekerjaan suaminya yang begitu padat.
Cklek
__ADS_1
Sean memasuki kamar saat baru saja pulang dari kantor. dia melihat istrinya tengah duduk sambil melamun. Pria itu tahu kalau istrinya sedang merindukan putrinya.
“Sepertinya melamun kamu sangat seru, sampai suami pulang kerja tidak disambut.” Ucap Sean sambil memeluk istrinya yang sedang duduk.
“Maaf. Aku hanya merindukan Viana. kapan kita bisa menjenguknya?” tanya Lidia.
“Sean, tidakkah kamu bisa meminta Xander untuk tidak lagi menutup akses tentang Viana agar Reno bisa menemukannya?” lanjut Lidia.
“Bisa saja aku meminta pada Xander. Tapi kamu tahu bukan, kalau itu semua permintaan Viana. kalau kita memaksa Viana, aku khawatir dengan kandungannya.” Jawab Sean.
Lidia membenarkan ucapan suaminya. memang semua itu kehendak dari Abi. entah sampai kapan anak perempuannya itu akan memendam rasa sakit hatinya terhadap sang suami. dan masalah ini tidak boleh berlarut-larut. Harus segera diselesaikan. Lebih cepat akan semakin lebih baik.
“Aku ingin ke rumah Xander. Aku akan bicara dengan Viana dan aku akan mengajaknya pulang.” ucap Lidia.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1