Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 122 Naluri Orang Tua


__ADS_3

###Bagi yang tidak berkenan membaca bab ini atau selanjutnya, silakan skip atau unfav saja tanpa meninggalkan komentar yang tidak pantas###


***


Sesuai janji Reno pada Abi kalau hari ini ia akan meluangkan waktunya untuk ke rumah sakit, karena hari ini juga istrinya sudah diperbolehkan pulang. Meskipun sebenarnya pekerjaan kantor tidak bisa ditinggalkan.


“Ko, aku pergi dulu!” pamit Reno.


Chiko yang sedang berada di ruangannya hanya mengangguk. Namun kemudian ia memanggil Chiko agar mendekat padanya. Setelah itu Reno membisikkan sesuatu pada Chiko.


“Baiklah.” Jawab Chiko dengan ragu.


Kini Reno sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Lagi-lagi dia merasa aneh saat mengendarai mobilnya. Meskipun di belakangnya banyak kendaraan yang melintasi jalan yang sama dengannya, namun Reno merasa ada yang mengikuti. Tapi mobil itu mobil yang berbeda dengan yang mengikutinya kemarin.


Setelah beberapa saat, Reno sudah tiba di rumah sakit. Dia segera menuju ruang rawat Abi dimana istrinya sedang menunggu kedatangannya.


“Sebenarnya Mama bisa menghubungi Ayah kamu saja jika kamu memang sibuk di kantor, Nak Reno.” Ucap Lidia yang kini tengah menggendong Rafael.


“Reno sudah berjanji pada Vibi, Ma. Lagi pula pekerjaan kantor tidak sepadat kemarin.” Sahut Reno.


Setelah semuanya siap, Reno membawa koper yang berisi baju-baju istrinya. Setelah itu seorang perawat masuk dengan menyiapkan kursi roda untuk Abi. sementara itu Lidia menggendong cucunya.


Sebelum mereka keluar dari ruangan itu, Reno terlebih dulu mengecek ponselnya. Setelah semua amakn, barulah ia keluar.


“Mobil kamu baru, Ren?” tanya Abi saat baru saja seorang satpam mengantar mobil Reno di depan lobby rumah sakit.


“Nggak. Hanya mobil lama saja yang jarang aku pakai, dan sudah lama aku taruh di apartemen Chiko.” Jawabnya tenang.

__ADS_1


Abi pun percaya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dengan dibantu ileh suaaminya. Setelah itu disusul Lidia yang menggendong Rafael.


Dalam perjalanan pulang, Reno terlihat diam sambil mengawasi kendaraan yang berada di belakang mobilnya. Dia merasa aman karena merasa tidak diawasi lagi.


Sesampainya di rumah, kedatangan mereka sudah disambut oleh Silvia dan dua anak perempuannya. Begitu juga dengan dua adik Abi. sedangkan Chandra dan istrinya masih belum bisa hadir.


“Om Xander kemana, Tan?” tanya Reno saat baru saja meletakkan koper.


“Katanya tadi ke rumah Daddy kamu. Mungkin masih ingin melepas rindu.” Jawab Silvia.


Reno mengangguk tersenyum. Dia merasa lega setelah dipertemukan dengan keluarga barunya, yaitu Xander. Setidaknya Daddy-nya tidak merasa kesepian berada di negara ini. mengingat selama ini memang waktunya dengan sang ayah terbagi antara pekerjaan dan juga istrinya.


Reno mengantar istrinya masuk ke dalam kamar. meskipun keadaan Abi sudah pulih lebih cepat daripada persalianan Caesar, namun wanita itu masih perlu istirahat dengan cukup. Sedangkan Rafael masih bersama Lidia.


“Sayang, setelah makan siang nanti aku akan kembali ke kantor. apa kamu tidak keberatan?”


“Ehm, maaf. Apa kamu juga tidak keberatan kalau beberapa waktu ke depan sebaiknya kita tinggal di sini saja dulu? Aku takut kalau aku masih sering lembur justru tidak bisa menemani kamu dan Rafael jika kalian tinggal di rumah. jadi kita tunda dulu kepindahan kita.”


Abi mengangguk. Padahal sebenarnya dia juga ingin mengatakan hal itu. Karena jujur saja dia masih membutuhkan Mamanya untuk membantu merawat Rafael. Dan dia juga masih butuh banyak belajar dari Mamanya dalam hal mengasuh anak.


***


Sementara itu saat ini Xander sedang berada di rumah Reno. Rumah yang saat ini sedang ditempati oleh Tuan Hadiata bersama Chiko.


Sejak tadi pagi Xaander sudah berada di rumah kakak iparnya. Xander masih ingin melepas rindu dan berbincang lebih banyak lagi dengan keluarga satu-satunya yang tersisa.


Saat ini Xander sedang makan siang berdua dengan Tuan Hadiata. Xander menatap wajah kakak iparnya dengan penuh rasa haru. Dia tidak menyangka kalau di usianya yang sudah senja, pria itu masih terlihat kuat dan bersemangat. Apalagi mengurus perusahaan. Walau tidak ikut terjun langsung. Xander juga tidak menyangka kalau kakak iparnya adalah sahabat dari Tuan Billal, yang tak lain bos dari Sean sekaligus mantan suami Lidia.

__ADS_1


“Kapan Kakak siap ikut Alex pulang? bukankah Kakak juga akan berziarah ke makam Tuan Billal?” tanya Xander.


“Nantilah, Lex. Apa kamu akan pulang ke kota B dalam waktu dekat?” tanyanya balik.


Xander menjawab dengan mengendikkan bahunya. Karena memang dia masih belum tahu akan pulang kapan, karena semalam Sean melarangnya pulang terlebih dulu sebelum masalah Reno selesai.


“Aku masih belum bisa pergi kemana-mana selama keadaan Reno masih seperti ini.” ucap Tuan Hadiata.


Deg


Xander terkejut dengan ucapan kakak iparnya. Apakah pria itu tahu tentang masalah yang dihadapi oleh Reno saat ini.


“Maksud Kakak apa?” tanya Xander pura-pura tidak tahu.


“Naluri orang tua itu sangat kuat, Lex. Meskipun aku tidak tahu apa masalah yang sedang dihadapi oleh Reno. Namun aku tahu kalau dia sedang tertimpa masalah berat. Kamu tahu kan kalau kemampuanku sudah tidak seperti saat muda dulu. Jadi, maukah kamu membantu keponakanmu itu? Aku tahu kalau Reno itu sangat keras kepala seperti mendiang Mommy-nya. Tapi aku harap kamu membantunya, tanpa sepengetahuan dia.”


Xander tidak bisa berkata-kata. Dia membenarkan ucapan kakak iparnya. Sepandai apapun kita menutupi masalah, yang namanya naluri orang tua itu sangat kuat. Akhirnya Xander hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Aku tidak mau kehilangan Reno. Putraku satu-satunya.” Ucap Tuan Hadiata dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2