
Reno dan istrinya menghabiskan waktu selama beberapa jam di hotel. Mereka berdua terbangun saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Itu saja karena Abi yang tiba-tiba merasa kelaparan. Lantas ia pun membangunkan suaminya untuk memesankan makanan pada pihak hotel.
“Ada apa, hem?” tanya Reno dengan mata masih terpejam.
Permaianannya tadi telah menguras tenaganya. Meskipun dia melakukannya dengan lembut, nyatanya Reno tidak puas jika hanya melakukan pelepasan satu kali. Alhasil setelah puas dengan beberapa kali klimakss, tidurnya pun sangat lelap dan enggan untuk bangun.
Abi mengerucutkan bibirnya saat melihat sang suami tak kunjung membuka mata. Karena perutnya sudah keroncongan, akhirnya ia memilih bangun terlebih dulu.
“Sayang, mau kemana?” tanya Reno saat merasakan pergerakan sang istri.
“Aku mau mandi setelah itu keluar untuk mencari makan.” Jawabnya ketus lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Reno menepuk keningnya setelah teringat kalau tadi istrinya juga mengeluarkan banyak tenaga. Pasti sekarang dia sedang kelaparan. Terlebih sedang ada calon buah hatinya di dalam rahim Abi.
Akhirnya ia mendial nomor telepon pihak hotel untuk memesan makanan, daripada harus keluar kamar.
***
Sementara itu tampak seorang pria tengah duduk sendirian di sebuah café. Sudah hampir satu jam ia datang ke café itu mengharapkan kedatangan sahabatnya. Namun sudah belasan kali panggilan, tak juga mendapat jawaban.
Chiko benar-benar heran, kemana saja Reno sampai tidak mengangkat panggilannya. Pria itu tadi hanya berpamitan akan mengantar istrinya periksa kehamilan ke rumah sakit setelah makan siang. Dan sampai sekarang tak kunjung ada kabar. Padahal saat ini Chiko ingin bicara serius dengan Reno mengenai seseorang yang sudah berhasil ia temukan identitasnya.
Karena bosan, akhirnya Chiko memilih untuk pulang saja. Yaitu pulang ke rumah Reno. Barangkali pria itu ada di rumahnya.
Namun saat Chiko hendak berdiri, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan keberadaan seseorang. Ah bukan seseorang, melainkan dua orang. Satu diantaranya Chiko sangat mengenalnya. Bahkan beberapa kali ia merasakan bibir perempuan itu. Tapi hati Chiko mendadak marah dan kecewa saat melihat seorang pria yang sedang duduk bersama Chelsea.
__ADS_1
Chiko mengepalkan kuat tangannya saat melihat kemesraan Chelsea dengan pria itu. Rasanya Chiko seperti sedang dihianati oleh Chelsea. Padahal status mereka bukanlah pasangan. Justru pria yang bersama Chelsea itu lah kekasihnya.
Chiko mengurungkan niatnya untuk pergi dari café itu. Dia masih ingin melihat apa saja yang dilakukan Chelsea dengan pria itu. Bukankah itu akan membuat hatinya semakin panas.
Tanpa sengaja kedua pasang netra itu bertemu. Chlesea terkejut ada Chiko di café ini juga. sedangkan Chiko sendiri terus menatap tajam mata Chelsea seolah meminta penjelasan siapa pria yang sedang bersamanya. Benar-benar lucu sikap Chiko. Pacar bukan, tapi ia merasakan terbakar cemburu.
Karena tidak nyaman dengan tatapan Chiko, akhirnya Chelsea memutuskan kontak mata itu dan ijin pada kekasihnya untuk pergi ke toilet. Berharap Chiko sudah pergi saat dirinya kembali dari toilet. Namun tanpa Chelsea ketahui, ternyata Chiko mengikutinya.
Chiko memastikan keadaan sekeliling aman sebelum akhirnya ikut menyusul Chelsea ke toilet. Dan sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Pria itu mempercepat langkahnya menuju toilet wanita. Kemudian menunggu beberapa saat dan memastikan bahwa tidak ada orang lain di sana selain Chelsea.
Cklek
Baru saja Chelsea membuka pintu toilet, namun tiba-tiba pintu itu ditutup kembali dengan paksa dan tubuhnya terhuyung masuk. Chiko segera membekap mulut Chelsea sebelum perempuan itu berteriak.
“Setelah beberapa kali bibir kamu aku nikmati, dengan tidak tahu malunya kamu bersenang-senang dengan pria lain.” Ucap Chiko sambil menatap Chelsea dengan kilatan penuh amarah.
“Lalu kamu mau mempermainkan perasaanku, hah?” ucapnya dengan suara tegas.
Kaki Chelsea mengayun hendak menendang senjata ampuh milik Chiko, namun dengan cepat Chiko menghindar. Otomatis bekapan di mulut Chelsea terlepas. Setelah itu Chiko meraup bibir itu dengan kasar menyalurkan emosinya pada Chelsea. Bahkan dengan berani Chiko sudah menuruni leher jenjang Chelsea untuk memberikan tanda di sana.
“Cukup, Chiko!” lirihnya sambil terisak.
Chiko menyadari kesalahannya segera menghentikan kegiatannya yang hampir kelepasan itu.
Plak
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipi Chiko. Setelah itu Chelsea keluar dari toilet tanpa mengucapkan sesuatu.
Chiko pun segera keluar dari toilet wanita sebelum dipergoki oleh orang. Dia merutuki kebodohannya yang telah bertindak impilsif pada Chelsea.
“Bodohhh!” umpatnya sambil merematt rambutnya dengan kasar.
Chiko kembali ke tempatnya tadi. dia sudah tidak melihat lagi keberadaan Chelsea maupun pria yang bersamanya tadi. akhirnya dia juga ikut pulang.
Sesampainya di rumah. lebih tepatnya di rumah Reno, ia melihat si pemilik rumah sudah berada di sana. Namun Chiko enggan menyampaikan hal penting yang sejak tadi ingin ia katakan pada Reno. Karena mood-nya sudah hancur.
“Sorry, Ko. Aku tadi sedang sibuk. Aku nggak melihat ponsel sama sekali. Ada apa?” tanya Reno sambil berjalan mengekor di belakang Chiko.
Chiko menghentikan langkahnya sebelum masuk ke kamar tanpa menoleh pada sahabatnya.
“Besok saja. aku lelah ingin istirahat.” Jawabnya datar lalu masuk ke kamar dan membanting pintu kamar cukup keras.
“Astaga nih duda karatan kenapa?” gumam Reno sambil menggelengkan kepalanya karena melihat sikap aneh Chiko.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️