Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 172 Berziarah


__ADS_3

Perdebatan kecil adik kakak itu terus berlanjut meskipun Sean sudah menengahi. Justru Abi semakin memancing kekesalan sang kakak hingga membuat Chan gemas sendiri. Andai saja saat ini tidak ada Reno atau orang tuanya, Abi pasti sudah habis di tangannya. jadi Chandra hanya bisa mengacak rambut adiknya dengan gemas. Dan perdebatan itu berakhir saat mereka sudah memasuki pesawat.


Reno duduk di bangku bersama istrinya. Sedangkan Raffael ikut kakek dan neneknya. Pria yang akan dikaruniai anak kedua itu melirik sang istri yang tengah duduk bersandar. Tanpa banyak bertanya, Reno mengulurkan tangannya untuk memijit tangan Abi, atau apapun yang membuat Abi merasa tidak nyaman.


“Eh, nggak usah!” tolak Abi terkejut. Pasalnya tadi ia sedang memejamkan matanya.


“Nggak apa-apa, Sayang. Mana yang capek? Biar aku pijitin.” Tanya Reno.


“Beneran aku nggak capek. Aku hanya ingin cepat sampai saja, setelah itu tidur.” Jawab Abi lalu meraih tangan suaminya dan menciumi punggung tangan Reno.


Reno hanya tersenyum melihat sikap manja istrinya. Dia benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti Viana Abigail. Sosok perempuan yang awalnya dulu ia gunakan sebagai alat balas dendam. Namun nyatanya Tuhan memberikan jalan lain yang sangat indah.


Reno akui memang usia istrinya masih sangat muda. Namun, Abi cukup dewasa dalam menjalani biduk rumah tangga dengannya. Apalagi kini sudah ada calon janin yang kedua yang akan lahir. Hal itu semakin membuat Reno mencintainya berkali-kali lipat.


Tak jauh dari tempat duduk Reno dan Abi, Sean sejak tadi melihat kemesraan mereka berdua. Dia ikut bahagia melihat kebahagiaan anak perempuannya itu bersama sang suami. dalam hatinya ia berharap semua anak-anaknya nanti akan diberi kebahagiaan dalam hidup berumah tangga. Walaupun memang badai itu pasti datang.


**


Perjalanan kurang lebih selama satu jam akhirnya telah membawa mereka ke kota tujuan berlibur. Setelah turun dari pesawat, mereka sudah dijemput dua buah mobil yang akan mengantarnya menuju Villa.


Perjalanan dari bandara menuju Villa setidaknya memutuhkan waktu selama dua puluh menit. Mengingat tempatnya yang berada di kawasan pegunungan, hal itu semakin menambah rasa syahdu dalam perjalanan mereka. Apalagi yang sudah bekeluarga. Dan untuk yang belum berkeluarga hanya bisa gigit jari saja karena tidak ada pasangan yang menemani.


Kavi dan Mirza lah di sini yang nasibnya bisa dikatakan paling apes. Dua pemuda tanggung itu justru diserahi untuk menjaga tiga keponakannya sekaligus. Karena begitu sampai Villa, kakak-kakak mereka justru masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


“Za, taruh dong ponsel kamu! Bantuin aku jaga tiga krucil ini.” keluh Kavi karena melihat sang adik sejak tadi sibuk dengan game-nya.


“Ah berisik banget sih, Kak. Ini lagi seru-serunya.” Jawab Mirza dengan tatapan fokus pada ponselnya.


Kavi sangat tahu watak adiknya. Dia selalu mengalah dan juga malas untuk berdebat. Akhirnya menggendong Raffael dan mengajak dua anak Chandra menuju taman belakang Villa. Beruntungnya di sana ada mainan ayunan, sekaligus tempatnya luas.


Sementara Lidia yang baru saja berganti pakaian, ia keluar kamar untuk mencari keberadaan cucu-cucunya, namun tidak ada. Hanya ada si bungsu yang fokus dengan gadgetnya.


“Mama sumpahin mata kamu nggak bisa lihat cewek cantik!” celetuk Lidia tiba-tiba tepat di samping Mirza yang sedang fokus dengan layar gadget-nya.


“Yah, kalah!!!! Gara-gara Mama nih.” Gerutu Mirza lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Padahal kekalahannya karena terkejut dengan sumpah serapah yang keluar dari mulut Mamanya. Dia juga tidak mau hal itu menjadi kenyataan.


**


“Besok aku dan Viana mau ke rumah Om Xander loh. Tapi Om malah datang kesini.” Ucap Chandra.


“Memangnya ada apa? Sekarang juga kita sudah kumpul.”


“Kita rencana mau ziarah ke makam Papa. Sudah lama juga kita tidak ke sana.” Jawab Abi.


“Oh baiklah. Besok Om tunggu kedatangan kalian.” ucap Xander.

__ADS_1


“Aku juga besok ikut berziarah.” Ucap seseorang tiba-tiba.


Semua orang langsung memandang ke arah Lidia. Termasuk Sean, sang suami. mereka tampak heran sekaligus terkejut saat Lidia bilang akan ikut berziarah ke makam mendiang suaminya. pasalnya sejak dulu ia sama sekali tidak pernah berziarah ke sana semenjak hatinya sudah mantap untuk menjalani hidup berumah tangga dengan suami keduanya, yaitu Sean. Mungkin keputusannya saat itu untuk tidak lagi datang ke makam mantan suaminya karena dia tidak ingin teringat kenangan indah bersama mantan suami. Namun, sekarang ia sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya. Apa salahnya jika berziarah ke sana.


“Sayang, benar yang kamu katakan?” tanya Sean ingin memastikan.


Lidia menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum menatap suaminya.


“Aku sangat yakin.” Jawab Lidia dengan mantap.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


Guys othor punya cerpen baru bergenre romance. yukk mampir baca! tinggal klik profil othor, lalu cari cerpen dg cover seperti di bawah ini. ini jg cerita sedikit ttg dua anak jagoan Sean. Semoga suka🤗🤗


__ADS_1


__ADS_2