
Abi sangat terkejut melihat Reno sedang duduk bersimpuh di bawahnya. Memang hatinya masih sakit, dan Reno lah yang menyebabkan semuanya. Tapi melihat apa yang dilakukan pria itu sekarang, ada seberkas rasa iba yang tertuju pada Reno.
“Bangunlah! Jangan seperti ini.” akhirnya keluar juga suara Abi.
“Aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkanku, Bi!” mohon Reno dengan mata berkaca-kaca.
Entahlah kenapa Reno menjadi selemah ini. Pria yang sejak dulu terkenal dingin dan arogan itu sangat jarang terlihat menumpahkan kesedihannya. Ataukah memang sebenarnya sikap Reno sangat lembut terhadap siapapun? Jadi sikap dingin dan arogannya itu hanya sebagai kedok.
Hal itu terbukti seperti sekarang ini. hatinya rapuh saat melakukan kesalahan yang fatal terhadap orang yang dicintainya. Ada rasa ketakutan yang sangat besar pada diri Reno jika Abi akan pergi meninggalkannya. Rasa takut yang pernah ia rasakan dulu saat ditinggalkan oleh Mommynya untuk selamanya.
“Bi, kamu boleh menghukumku. Asal jangan pernah meninggalkanku. Aku akui semua kesalahan yang aku lakukan semalam sangat fatal dan menyakitimu.” Mohon Reno dengan posisi yang masih sama.
Memang kepingan rasa sakit itu masih membekas dalam hati Abi. Apalagi ucapan dan hinaan Reno semalam sampai saat ini masih terngiang dalam benaknya. Namun namanya hati yang sudah mencinta, tidak bisa dipungkiri kalau Abi juga tidak tega melihat kesedihan di mata Reno. Selemah itukah hati seorang wanita jika sudah tertaut pada orang yang dicintainya? Semudah itukah dirinya memaafkan semua yang Reno lakukan semalam, hanya karena sebuah alasan, yang tak lain adalah cinta. Tapi memang kenyataannya seperti itu.
Mungkin Abi lah disini orang yang lebih dulu menaruh hatinya terhadap Reno daripada pria itu sendiri. Sejak pertemuan pertamanya dulu, saat mendorong Reno demi menyelamatkan nyawa pria itu, Abi seperti sudah terhipnotis oleh tatapan tajam dan murka dari sosok Reno. Entah kapan atau hanya sebuah mimpi, Abi seperti pernah menatap mata Reno sebelumnya. Hingga akhirnya, seperti sekarang ini. hatinya juga akan sakit jika melihat Reno menatap dan memohon seperti ini.
“Bangunlah!” ucap Abi setelah lama diam.
“Aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkanku, Bi!” ujar Reno sambil terus memohon.
“Bangunlah! Apa kamu tidak mengerti dengan Bahasa manusia?” ucap Abi dengan sedikit kesal. Pasalnya Reno sama sekali tidak paham dengan maksud ucapannya. Bukankah itu sudah cukup jelas, kalau meminta Reno untuk bangun, jadi dirinya sudah bisa memaafkan pria itu.
Setelah berhasil mencerna ucapan Abi, seketika itu Reno bangun dan langsung memelik erat tubuh wanitanya.
“Terima kasih, Bi! Terima kasih kamu sudah memaafkanku. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi. maafkan semua ucapan dan perbuatanku semalam.” Ucap Reno dengan masih terus memeluk erat tubuh Abi dan menciumi pucuk kepalanya.
__ADS_1
Abi merasa sesak dan tidak nyaman, mencoba untuk lepas dari pelukan Reno. “Aku mau ke kamar.” ucap Abi lalu berdiri.
Reno pun berjalan mengekor di belakang Abi masuk ke kamar. Abi masih belum menyadari hal itu. Ia kira Reno masih duduk di sofa.
“Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Reno tiba-tiba dan sudah ikut bergabung di atas ranjang.
Hampir saja jantung Abi copot saat mendengar suara Reno. Namun setelah itu dia mencoba untuk tetap tenang.
Abi merebahkan tubuhnya. Jujur saja badannya masih terasa sakit dan ngilu di bagian intinya. Dan hari ini ia benar-benar butuh waktu untuk istirahat.
Melihat wajah lelah Abi, Reno ikut berbaring di samping perempuan itu. Tangannya terulur lalu memeluk tubuh Abi dengan posesif.
“Maafkan aku sudah menyakitimu.” Bisik Reno.
Abi tetap diam dalam posisinya. Sama sekali tidak menolak pelukan Reno. Justru pelukan itu sangat hangat dan menanangkan. Hingga akhirnya dia terlelap damai. Reno yang mendengar dengkuran halus dari mulut Abi, mengulaskan senyum.
Cukup lama Abi tidur dalam pelukan Reno. Tapi Reno sama sekali tidak tidur. Tiba-tiba Abi mengerjapkan matanya saat merasa tenggorokannya kering. Reno yang seperti mengerti apa yang Abi butuhkan, pria itu bergegas mengambil segelas air di atas nakas.
“Apa sejak tadi kamu disini?” tanya Abi setelah minum.
“Iya. Aku takut jika kamu bangun dan pergi meninggalkanku.” Jawab Reno yang menurut Abi sangat lebay.
“Kamu mau kemana, Bi?” tanya Reno saat melihat Abi tiba-tiba bangun.
“Mau pergi-“
__ADS_1
Reno bergegas bangun dan memeluk Abi, hingga langkah perempuan itu terhenti. “Kamu jangan pergi, Bi! Please jangan tinggalkan aku!”
“Apa sih, Ren! Aku mau pergi ke kamar mandi.” jawab Abi kemudian.
Seketika itu Reno melepas pelukannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Abi tak mempedulikan Reno yang masih berdiri di posisi yang sama. Dia berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.
Cukup lama Abi berada dalam kamar mandi hingga membuat Reno cukup khawatir. Namun kekhawatirannya itu sirna setelah melihat Abi membuka pintu kamar mandi. tapi wajah Abi meringis seperti menahan sakit. Dan Reno tahu akan hal itu.
“Maafkan aku, Bi! Pasti sampai saat ini masih sakit, ya?” tanya Reno dan membuat Abi sedikit tak nyaman.
“Aku akan bertanggung jawab untuk menyembuhkannya.” Ucap Reno sambil berjalan mengekor di belakang Abi.
“Bagaimana?” tanya Abi serius.
“Dengan melakukannya lagi dan penuh kelembut-, awwwww” reno meringis sambil memegangi perutnya yang baru saja mendapat cubitan dari Abi.
.
.
.
*TBC
Sorry, karena othor kasian sama Bang Reno, jadi dimaafin deh😁😁✌️
__ADS_1
Happy Reading‼️