Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 42 Merusak Mood


__ADS_3

Setelah kepergian Keano, Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa beruntung Viana tidak mengenal Keano. Menurutnya Keano sangat tidak pantas untuk menjadi suami anaknya. pria yang arogan dan ambisius.


Untuk saat ini Sean lebih memfokuskan diri pada perusahaan. Sementara mengenai Viana, dia sangat yakin pada Reno, kalau pria itu mampu menjaga istrinya dengan baik. Walau samapi saat ini Reno tidak membalas pesan yang ia kirim beberapa hari yang lalu.


***


Sementara itu Reno sedang berada di rumah, tepatnya di ruang kerjanya. Reno mengetatkan rahangnya saat baru saja menemukan siapa pelaku yang hendak menculik Abi saat di luar kota kemarin. Reno kenal dengan pria itu, tapi dia merasa tidak pernah ada hubungan dengannya. Apalagi dengan ayah dari pria itu yang tak lain adalah Tuan Alteza.


Sebenarnya bisa saja Reno menghubungi mertuanya, namun dia urungkan. Dia ingin mencari tahu sendiri apa motif Keano menculik istrinya. Apakah semua ini ada hubungannya dengan masalah mertuanya.


Baru saja Reno ingin melakukan pencariannya mengenai Keano, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dan itu adalah panggilan dari mertuanya, yaitu Sean.


“….”


“Malam juga, Tu… Ayah.” Jawab Reno yang hampir lupa kalau Sean adalah mertuanya.


“…..”


“Viana baik-baik saja, Yah. Sekarang dia sedang beristirahat.”


Cukup lama Reno berbicara dengan mertuanya melalui sambungan telepon. Awalnya Sean menanyakan kabar putrinya yang sudah lama tidak ada kabar. Setelah itu dia mengatakan pada Reno agar melindungi Viana dari bahaya, karena dirinya sedang ada masalah yang berdampak pada Viana. Meskipun Sean tidak menceritakan secara langsung, Reno cukup tahu bahwa sumber masalahnya memang berasal dari Tuan Alteza, lebih tepatnya Keano.


“Ayah jangan khawatir, Viana akan aman bersama Reno.” Pungkas Reno sebelum mengakhiri panggilannya.


Setelah berbicara dengan mertuanya, Reno memutuskan untuk istirahat. Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Reno berjalan memasuki kamarnya. Sebelum meraih handel pintunya, dia melirik ke kamar sebelah, dimana saat ini kamar itu dihuni oleh Abi. Reno teringat, sejak pulang dari kantor tadi dia sama sekali tidak melihat Abi. Dia juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang beberapa hari ditinggalkan, dan juga sibuk mencari pelaku yang menculik Abi.


Reno mengurungkan niatnya masuk kamar, dia memilih membuka pintu kamar sebelah untuk melihat Abi. Namun ternyata pintu kamar Abi dikunci.

__ADS_1


“Kenapa dikunci? Tidak biasanya dia mengunci pintu.” Gumamnya sedikit kesal.


Karena tidak bisa masuk ke kamar Abi, Reno akhirnya masuk ke kamarnya sendiri dan beristirahat. Lelah di tubuhnya membuat emosinya juga tak terkendali. Lebih baik tidur saja.


Keesokan paginya Reno terbangun dari tidurnya agak terlambat. Namun dia sudah melihat baju kerjanya sudah disiapkan. Tak hanya itu, gorden di kamarnya juga sudah terbuka. Tapi kenapa Abi tidak membangunkannya.


Reno segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi. hari ini dia ada meeting penting, dan harus secepatnya pergi ke kantor.


Usai menyelesaikan ritual mandinya, Reno menuruni tangga dengan pakaian kerjanya. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar suara percakapan antara Abi dengan Chiko di ruang tengah.


“Eh Ren, ayo buruan! Kamu nggak baca pesanku apa? Meeting hari ini dimajukan dan masih ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani.” Ucap Chiko.


“Sejak kapan kamu ada di sini?” bukannya menjawab, Reno justru memberi pertanyaan pada Chiko.


“Setengah jam yang lalu mungkin ya, Vi? Tapi beruntungnya ada Viana yang menemaniku.” Jawab Chiko sambil melirik Abi.


“Ren, masih ada waktu lah untuk kamu sarapan dulu. Apa kamu tidak lapar?” tanya Chiko menghentikan langkah Reno.


“Nanti saja aku bisa sarapan di kantor.” jawabnya acuh dan melanjutkan langkahnya.


“Tunggu sebentar!” cegah Abi lalu perempuan itu berlari ke ruang makan.


Reno semakin kesal dengan sikap Abi. Tapi dia juga tidak tahu alasan perempuan itu memintanya menunggu, tapi justru lari ke ruang makan. Dan beberapa saat kemudian Abi keluar dengan membawa box nasi.


“Ini buat kamu sarapn jika tidak sempat sarapn di rumah.” ucap Abi sambil menyodorkan box nasi.


Reno yang masih gengsi malas menerima box nasi itu. Seperti anak TK saja yang membawa bekal.


“Tidak perlu!” tolaknya dengan muka masam.

__ADS_1


“Ya sudah, Vi buat aku saja. lumayan buat makan siang nanti.” Sahut Chiko dan mengambil box nasi dari tangan Abi.


Namun belum sampai box nasi itu berada di tangan Chiko, Reno sudah terlebih dulu mengambilnya. Chiko dan Abi pun melongo melihat sikap Reno.


“Buruan, Ko! Katanya meeting dimajukan.” Ucap Reno dengan ketus.


Chiko pun terpaksa mempercepat langkahnya mengikuti Reno. Kemudian kedua pria itu pergi ke kantor dengan mengendarai mobil masing-masing.


Sesampainya di kantor, Reno berjalan sambil menenteng box nasi. Semua karyawannya tampak heran melihat atasannya berjalan sambil membawa bekal makan. Kesalahan Abi juga tidak memasukkan box nasi itu ke dalam paper bag, jadi semua karyawan tahu kalau atasannya sedang membawa bekal makan. Tapi Reno tetap acuh dan sama sekali tidak peduli.


Sesampainya di ruangan kerjanya, Chiko memberikan beberapa dokumen yang perlu ditanda tangani sebelum meeting dua puluh lima menit lagi.


“Sekarang keluarlah!” usir Reno.


“Memangnya kenapa kalau aku tetap di sini?”


“Aku nggak mau kamu merusak mood-ku saat sarapan.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


__ADS_2