Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 144 Hamil Muda


__ADS_3

Dua mingu berlalu. Saat ini Chiko sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk menjemput Reno yang baru saja pulang dari luar negeri.


Rencana Reno yang akan menghabiskan waktunya di rumah Daddy-nya hanya satu mingguan terpaksa menjadi dua minggu karena keadaan istrinya yang sedang kurang sehat. Namun Abi selalu menolak untuk diajak periksa ke dokter dengan alasan hanya pusing saja. dan memang seperti itu adanya.


Belasan jam telah mereka lampaui hingga akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat. Chiko yang melihat sahabatnya segera beranjak dari duduknya untuk segera menyambut kedatangan Reno.


Reno pikir Chiko akan membantunya membawa koper yang sedang ia bawa. Ternyata tidak. Justru Chiko mengambil alih Raffael dari gendongan Bu Mira.


“Lama sekali kalian liburannya. Nggak tahu apa kalau aku tidak bisa menahan rindu pada Raffael.” Ucap Chiko sembari mencium pipi gembul bayi delapan bulan itu.


“Ya sorry banget. Akhir-akhir ini Vibi kurang enak badan. Jadi, aku menunda kepulangan.” Jawab Reno.


Chiko yang berjalan sambil menggendong Raffael sontak melihat ke arah Abi yang memang wajahnye terlihat sedikit pucat. Ada rasa khawatir dalam hati Chiko.


“Kamu baik-baik saja, Vi?”


“Ya. Mungkin hanya kelelahan saja, Om habis perjalanan jauh.” Jawab Abi memaksa senyum.


Dalam perjalanan pulang, Abi yang duduk di jog belakang bersama Bu Mira yang tengah menggendong Raffael memilih istirahat sebentar. Entah kenapa kepalanya kembali terasa pusing. Bu Mira pun tampak khawatir melihat keadaan majikannya.


“Tuan Reno, apa tidak sebaiknya kita membawa Nyonya Abi ke rumah sakit?” Usul Bu Mira.


Reno meminta Chiko agar menepikan mobilnya dan berhenti. Lalu ia menoleh ke belakang dimana istrinya sedang tidur bersandar pada jog mobil. Memang benar terlihat pucat bibir istrinya. Bahkan saat Reno menyentuh keningnya juga terasa hangat.


“Kita ke rumah sakit dulu, Ko!” Pinta Reno dengan cemas, dan diangguki oleh Chiko.


Sesampainya di rumah sakit, Reno membangunkan istrinya namun tubuh Abi semakin lemas. Reno juga tampak semakin panik. Setelah itu dia meminta petugas rumah sakit untuk membawakan kursi roda untuk istrinya.


“Ko, kamu pulanglah dulu bersama Bu Mira. Tidak mungkin juga Bu Mira ikut di sini bersama Raffael. Nanti biar aku minta Yoga yang mengantar mobilku kesini.” Pinta Reno pada sahabatnya.

__ADS_1


Setelah kepulangan Chiko, Reno masuk keruangan IGD dimana istrinya sedang ditangani oleh dokter. Reno pikir bahwa istrinya hanya diperiksa sebentar dan diberi obat, setelah itu pulang. ternyata tidak.


“Memangnya apa yang terjadi dengan istri saya, Dok? Kenapa harus dirawat inap?” Reno khawatir jika istrinya mengidap suatu penyakit yang tidak ia ketahui.


“Keadaan istri anda sangat lemah dan kekurangan cairan, Tuan. Ditambah kondisinya yang sedang hamil, jadi lebih baik Nyonya dirawat inap.” Ucap dokter memberi penjelasan sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.


Reno benar-benar terkejut mendengar penjelasan dokter di bagian akhir kalimat bahwa saat ini istrinya sedang hamil. Benarkah? Apakah dia harus senang atau sedih dengan kabar ini?.


Reno melirik ke arah brankar dimana saat ini istrinya sedang terbaring lemah. Reno sangat yakin kalau Abi mendengar semua penjelasan dokter baru saja. kemudian ia menghampiri istrinya.


“Sayang, apa kamu masih pusing?” tanya Reno dengan pelan.


“Ren, benarkah aku sedang mengandung?” tanya Abi dengan mata berkaca-kaca.


Entahlah apa yang dirasakan Abi saat ini. Rasanya dia juga belum siap hamil lagi, apalagi usia Raffael masih delapan bulan. Namun, ia juga tidak bisa mnolak rezeki yang diberikan oleh Tuhan.


“Aku senang. Tapi bagaimana Raffael nanti? Dia masih terlalu kecil untuk memiliki adik.”


Ternyata itu yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Reno akhirnya lega mendengar jawaban sang istri.


“Kamu jangan khawatir. Meskipun usia Raffael masih kecil, aku jamin dia tidak akan kehilangan kasih sayang dari kita. Kita tetap mengistimewakan anak pertama kita, Sayang. Kamu jangan berpikir yang macam-macam.”


Sepertinya kini perasaan Abi lega setelah mendengar nasehat dari suaminya. tak lama kemudian seorang perawat datang hendak memindahkan Abi ke ruang rawat inap.


Reno menghubungi mertuanya tentang kabar Abi yang tengah dirawat di rumah sakit. Bagaimanapun juga mertuanya harus tahu kabar ini, sekaligus nanti ia akan memberitahu kalau istrinya sedang mengandung anak kedua.


Benar saja, Lidia dan Sean segera datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari menantunya kalau saat ini Abi sedang dirawat di rumah sakit. Terlebih mereka baru saja pulang dari perjalanan ke luar negeri.


“Apa yang terjadi dengan Viana? kenapa kamu memaksakan pulang kalau keadaan istri kamu tidak sehat, Nak Reno?” tanya Lidia khawatir.

__ADS_1


“Lebih baik Mama dan Ayah masuk dulu. Nanti akan Reno jelaskan semuanya.”


Kini Lidia dan Sean sudah berdiri di samping brankar Abi yang masih menutup matanya. menurut hasil pemeriksaan dokter, keadaan Abi sudah lebih baik dari sebelumnya setelah diberi cairan infus.


Tak lama kemudian Abi mengerjapkan mata setelah mendengar suara berisi di sekitarnya.


“Mama, Ayah?”


“Sayang, apa yang terjadi denganmu? Kenapa memaksakan pulang kalau memang sedang sakit? Lihat, jadi seperti ini kan?” Lidia tampak mengomeli anaknya.


“Viana tidak bisa lama-lama di sana, Ma. Pekerjaaan Reno juga banyak. Viana nggak apa-apa, hanya kelelahan saja-“


“Dan juga sedang hamil muda.” Sahut Reno, sontak membuat Lidia dan Sean menatap ke arah menantunya.


.


.


.


*TBC


Wah gaspolll nih Bang Reno demi memenuhi keinginan Daddy-nya😁😁


Congrat ya, Bang🤗🤗😘


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


__ADS_2