
Xander memeluk Reno dengan erat. Rasa benci terhadap Reno menguap begitu saja setelah tahu kalau Reno adalah keponakannya. Xander terus mengucapkan kalimat maaf pada Reno dalam pelukannya.
“Maafkan, Om!” ucap Xander dengan lirih.
Reno yang sejak tadi berada dalam pelukan Xander jujur saja merasa sangat nyaman. Hatinya yang sejak tadi dipenuhi amarah oleh ucapan Xander yang mengatakan kalau dirinya tidak pantas menjadi suami Abi, kini perlahan amarahnya memudar.
“Sama-sama, Om. Reno juga minta maaf.” Jawab Reno setelah mengurai pelukannya.
Tuan Hadiata terlihat heran melihat reaksi anak dan adik iparnya. Sepertinya memang kedua pria itu terlihat pernah berselisih. Namun dia tidak ingin bertanya langsung.
“Ada apa ini?” tanya seseorang yang baru saja datang.
“Xander, kamu jangan merencanakan hal buruk pada menantuku!” tuduh Sean pada sahabatnya. Karena tadi dia sempat melihat Xander sedang memeluk Reno. Dan Sean khawatir kalau sahabatnya itu akan merencanakan hal buruk terhadap Reno. Mengingat sejak dulu Xander selalu menjodohkan Abi dengan Reza.
“Ck, kamu jangan berburuk sangka dulu.” Jawab Xander tidak terima.
Akhirnya Tuan Hadiata tidak tahan lagi untuk bertanya tentang hubungan Reno dan Xander. Lalu Sean yang menjawab. Bahkan ia menjelaskan secara detail kalau Xander pernah memukuli Reno sampai babak belur.
“Maaf, Kak. Semua itu hanya salah paham. Bukankah kamu sudah memaafkan Om, Ren?” ucap Xander sambil mencari pembelaan terhadap si korban.
Sean justru kini yang tidak mengerti. Setelah itu Tuan Hadiata menjelaskan semuanya. Dia sangat terkejut.
Kini mereka kembali masuk ke dalam ruang rawat Abi. semua orang tampak bahagia. Ternyata ada anugerah yang sangat indah di balik kelahiran putra pertama Reno. Namun dalam hati Reno sendiri masih tidak tenang. Dia merasa kebahagiaan keluarga kecilnya sedang dalam bahaya. Terlebih setelah mengetahui dalang di balik kekacauan dalam perusahaannya.
Saat ini Reno sedang menggendong Raffael. Nama untuk bayi yang sangat tampan itu.
__ADS_1
Abi tersenyum menatap sang suami yang sedang mengecup pipi Raffael dengan gemas. Namun dalam hati Abi terbesit rasa iba saat melihat wajah lelah suaminya. entah masalah perusahaan seperti apa hingga membuat wajah Reno terlihat sedang memikul beban yang sangat berat. Walau Reno sendiri berusaha menutupinya.
“Ada yang kamu butuhkan, Sayang?” tanya Reno setelah meletakkan Raffael pada box bayi.
“Tidak. Aku hanya butuh Papanya Raffael.” Jawabnya dengan tersenyum.
Reno memegang lembut tangan istrinya, lalu mengecupnya dengan lembut penuh perasaan.
“Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku selalu ada di sisimu di saat masa pemulihan seperti ini. namun aku justru sangat sibuk dengan pekerjaan kantor. aku janji setelah semuanya selesai, aku akan menggantikan waktu itu dengan selalu menemanimu.” Ucap Reno penuh penyesalan.
“Aku nggak apa-apa, Ren. Yang paling penting kamu tetap jaga kesehatan. Lagi pula keadaanku sudah membaik. Kemungkinan besok sudah diperbolehkan pulang.”
“Kamu jangan khawatirkan aku. syukurlah aku sangat senang kalau kamu sudah sehat. Besok akan aku luangkan waktuku untuk ke sini menjemputmu.” Ucap Reno dan hanya diangguki oleh Abi.
Reno, Sean, dan Xander pamit keluar dari ruang rawat Abi. mereka memberikan waktu untuk Abi agar bisa beristirahat dengan dengan nyaman. Begitu juga dengan Lidia yang selama dua hari ini tak beranjak sedikit pun dari ruang rawat anaknya.
Kini Reno, Sean, dan Xander sedang berada di sebuah kantin rumah sakit. Kantin yang tak banyak pengunjungnya karena waktu juga sudah malam.
Reno tampak bingung dan heran saat mertuanya mengajaknya bicara serius. Namun dia tetap saja mengikuti ajakan mertuanya.
“Ren, Ayah sudah tahu masalah di perusahaan kamu. Bahkan siapa yang menyebabkan kekacauan itu.” Ucap Sean.
Reno hanya mengangguk samar. Dia sudah tidak heran kalau cepat atau lambat mertuanya pasti mengetahui semua itu.
“Reno bisa menyelesaikannya sendiri, Yah. Dan tolong jangan sampai Daddy tahu dengan masalah ini. Reno tidak ingin membuat Daddy sakit hanya dengar kabar buruk ini.” ucap Reno.
__ADS_1
Xander yang sejak tadi diam menyimak, akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya. Lalu Sean pun menceritakan permasalahannya. Permasalahan yang awalnya bersumber dari dirinya. Yaitu perjodohan yang dibuat oleh Tuan Alteza secara sepihak tanpa persetujuan darinya.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Ren! Om akan membantumu.” Ucap Xander.
Reno hanya menggeleng pelan menatap wajah mertua dan Omnya secara bergantian.
“Tolong, biarkan Reno yang menyelesaikan ini sendiri. Lagi pula sudah ada Chiko yang membantu di perusahaan. Dan perlahan keadaan perusahaan membaik. Bolehkah, Reno minta tolong satu hal?” pinta Reno dan kembali menatap wajah Sean dan Xander secara bergantian.
Sean dan Xander saling lirik sebelum akhirnya mengangguk. Kedua pria itu beranggapan bahwa Reno akan meminta bantuan dalam hal lain.
“Apapun yang terjadi nanti, Reno minta pada Ayah dan Om Xander agar selalu menjaga Vibi dan Raffael dengan baik.” Ucap Reno.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, Ren?” tanya Xander merasa ada yang janggal dengan ucapan keponakannya itu. Sedangkan Reno hanya menjawab dengan gelengan kepala dan tersenyum simpul.
“Nggak apa-apa, Om. Hanya itu saja permintaan Reno. Ya sudah, Reno pamit ke ruangan Vibi dulu.” Pungkas Reno lalu pergi meninggalkan dua pria paruh baya yang masih kebingungan itu.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1