Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 161 Khawatir


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Chiko juga langsung kembali bekerja di perusahaan Reno. Meskipun Reno sahabatnya, namun ia juga harus tetap professional dalam bekerja.


Saat ini Chiko sudah berpakaian rapi dan hendak pergi ke kantor. Dia selalu berangkat sedikit lebih awal, karena biasanya Chiko akan sarapan di kantin terlebih dulu. Maklum nasib duda. Tidak ada yang membuatkan makan untuknya sarapan. Walaupun dia bisa masak, tapi hanya masak air.


Cklek


“Pagi!” sapa seseorang saat Chiko baru saja membuka pintu.


“Chelsea?” Chiko mengucek matanya seperti tidak percaya kalau kekasihnya saat ini sedang berdiri di hadapannya.


“Ayo, Mas kita sarapan dulu!” Chelsea justru menarik tangan Chiko dan membawanya masuk kembali ke dalam apartemen.


Chiko masih terkejut sekaligus senang karena pagi-pagi sudah dapat kunjungan special dari sang pujaan hati. Setelah itu dia duduk di kursi ruang makan. Sedangkan Chelsea tampak sibuk menyiapkan makanan yang tadi ia bawa.


Chelsea bersikap biasa saja di apartemen Chiko. Karena Chiko sendiri yang memintanya saat kemarin wanita itu mengantarnya pulang dari rumah sakit. Jadi, seperti sekarang ini, Chelsea menganggap apartemen Chiko seperti rumahnya sendiri.


“Ayo dimakan dulu, Mas! Kenapa bengong?” Chelsea menyodorkan piring di depan Chiko.


“Ah iya. Terima kasih. Jadi tidak sabar ingin dilayani seperti setiap hari.” Ucap Chiko dan membuat Chelsea tersipu malu.


Mereka berdua menikmati sarapan pagi itu berdua. Setelahnya, Chiko akan mengantar Chelsea pergi ke butiknya, karena kebetulan tadi Chelsea naik taksi.


***


Kini Chiko sudah tiba di kantor. dia tidak langsung masuk ke ruangannya, melainkan ke ruangan Reno.


Cklek

__ADS_1


“Ko? Kamu sudah sehat? Bukannya aku sudah bilang, istirahat dulu sampai kamu benar-benar sehat. Kamu jangan merasa tidak enak sama aku. kesehatan kamu lebih penting”


Chiko memutar bola matanya jengah. Bahkan saat ini dirinya masih berdiri di ambang pintu. Entah kenapa sehabatnya hari ini terkesan cerewet sekali seperti emak-emak yang sedang nawar sayur di pasar.


“Aku sudah sehat. Kamu jangan khawatirkan aku lagi.” jawab Chiko lalu duduk di kursi berhadapan dengan Reno.


Reno tampak lega mendengarnya. Setelah itu mereka berdua membahas masalah pekerjaan. Chiko juga menanyakan keadaan perusahaan, karena selama beberapa hari ini ia sedang dirawat di rumah sakit.


“Nanti siang kita ada meeting dengan klien dari Maklom Cosmetics.” Ucap Reno.


Chiko terdiam sesaat sambil mengingat nama perusahaan itu, yang sepertinya tidak asing di telinganya.


“Ada apa, Ko?”


“Maklom Cosmetics itu bukannya perusahaan yang dipimpin oleh Nona-“


Entah kenapa Reno melihat aneh pada sahabatnya saat mendengar nama Naomi. Dia pun dibuat penasaran, dan akhirnya bertanya.


“Kamu ada masalah dengan perusahaan itu? Atau dengan Ceo nya?” tanya Reno mencoba menebak.


“Nanti kamu saja yang meeting. Atau kamu bisa ajak Yoga. aku akan di kantor saja.”


Reno semakin penasaran dengan uacapan Chiko. Dia memang ingat dengan Naomi. saat itu Reno hanya sekali meeting dengan wanita itu. Bahkan tidak sampai selesai, sudah pulang lebih dulu.


“Tidak bisa begitu, Ko. Bukannya itu proyek kamu yang menangani? Justru aku tidak hadir tidak masalah. Karena hari ini aku ingin melihat langsung sejauh mana perkembangan kerjasama perusahaan dengan perusahaan Nona Naomi.”


Chiko hanya menghembuskan nafasnya pelan. Setelah itu ia kembali ke ruangannya, karena menurutnya sudah tidak ada hal penting lagi yang dibahas dengan Reno.

__ADS_1


“Tenang saja, ada aku.” teriak Reno sebelum Chiko benar-benar keluar dari ruangannya.


Chiko memasuki ruang kerjanya. Dia mulai menyalakan laptopnya. Namun pikirannya masih berkecamuk mengenai Naomi. Ceo dari perusahaan kosmetik yang terkenal yang sedang bekerjasama dengan perusahaan Reno.


Chiko mengingat saat pertama kali ia meeting dengan Naomi. saat itu Reno juga hadir. Namun sayangnya Reno ijin pulang lebih dulu. Sepanjang meeting, Naomi terus memperhatikan Reno. Benar saja wanita itu sepertinya tertarik dengan Reno. Hal itu terbukti saat tiba-tiba dengan beraninya Naomi memegang lengan Reno yang hendak pergi. dan setelah kepergian Reno, Chiko menegaskan pada Naomi kalau Reno sudah memiliki istri. Bahkan Chiko berbicara tegas dan sedikit mengancam, agar bisa bekerja dengan professional.


“Baiklah. Bagaimana kalau dengan Tuan Chiko saja? bukankah status anda sedang sendiri saat ini?” tanya Naomi kala itu. Bahkan nada bicaranya sedikit menggoda.


Pria manapun pasti akan tertarik dengan wanita cantik bermata sipit itu. Dan saat itu Chiko memang sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Bahkan dengan Chelsea saja tidak jelas. Jadi apa salahnya jika dia menyetujui ajakan Naomi. menurutnya tidak masalah, asal tidak melibatkan perasaan.


“Sayangnya saya tipe orang yang tidak suka terikat hubungan dengan seseorang.” Jawab Chiko akhirnya. Dia berkata seperti itu, agar Naomi tidak terlalu berharap banyak padanya. Yang ujung-ujungnya akan menyengsarakan dirinya sendiri.


“Pas sekali. Saya juga tidak suka terikat hubungan dengan seseorang. Jadi, bagaimana? Apakah kita bisa bersenang-senang?” ucap Naomi sambil mengulurkan tangannya.


Chiko juga merasa tidak keberatan. Akhirnya dia membalas uluran tangan Naomi. dan setelah pertemuan itu, mereka bertukar nomor ponsel. Chiko juga sempat berkencaan satu kali dengan Naomi. Bukan berkencan layaknya wanita dan pria ONS, melainkan hanya dinner biasa saja.


Kini Chiko merasa resah. Meskipun dia dan Naomi tidak terikat hubungan apa-apa, dia khawatir jika hal itu diketahui Chelsea.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2