Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 98 Ngidam


__ADS_3

Pandangan Tuan Hadiata menerawang kembali ke ingatannya masa lalu. Dimana saat dirinya mengalami kecelakaan hebat bersama sang istri setelah melakukan perjalanan bisnis dari luar kota.


Kecelakaan yang telah merenggut nyawa istri tercintanya sekaligus Mommy dari Reno. Saat itu usia Reno masih kecil dan dititipkan kepada neneknya.


Tuan Hadiata bersama sang istri yang kritis saat itu langsung dilarikan ke rumah sakit. Namun saat dalam perjalanan, istri Tuan Hadiata sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sedangkan Tuan Hadiata sendiri membutuhkan perawatan intensif karena banyak mengeluarkan darah.


Di saat itulah datang seorang sahabat Tuan Hadiata yang kebetulan sedang ada proyek pekerjaan. Orang itu mengetahui kabar buruk dari keluarga sahabatnya pun ikut merasakan duka mendalamnya. Kemudian saat Tuan Hadiata membutuhkan donor darah, sahabatnya itu lah yang mendonorkan darahnya. Kebetulan darah mereka sama. Dan tidak mungkin meminta donor dari Reno, karena masih di bawah umur.


Setelah Tuan Hadiata sadar dan tahu kalau sahabatnya yang mendonorkan darah untuknya, pria itu sangat berterima kasih. Bahkan saat Tuan Hadiata ingin memberikan imbalan, sahabatnya menolak mentah-mentah.


“Bagaimana pun juga aku mempunyai hutang nyawa padamu.”


“Kita ini sudah lama bersahabat. Jadi kalau kamu mau membalas budi, biarlah anak-anak kita saja nanti yang akan menjadi keluarga. Agar hubungan kita tetap terjaga dengan baik.”


“Anak-anak kita? Kamu jangan bercanda! Kamu saja belum menikah sampai sekarang.”


“Kamu lihat jari manis ini! bulan depan aku akan menikah.”


Tuan Hadiata mengusap sudut matanya yang berair mengingat kenangan itu. Sebenarnya sudah lama dia meminta Reno untuk mencari keberadaan sahabatnya ataupun keluarganya. Namun nyatanya Reno tidak mau dan memilih pergi mengurus perusahaan.


Sedangkian Reno tampak terdiam. Ada rasa sedih saat melihat raut wajah Daddy-nya ketika mengenang masa lalunya.


“Maaf, Dad. Bukan Reno ingin mengeluh. Tapi keadaan perusahaan Reno akhir-akhir ini sedang bermasalah. Ditambah lagi masalah Reno dengan Vibi, istri Reno.” Ucap Reno merasa bersalah.


“Apakah kamu akan menolak permintaan Daddy ini? bahkan Daddy sudah tidak lagi memaksa kamu menikahi anak sahabat Daddy?” Tanya Tuan Hadiata dan Reno menjawabnya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


“Untuk perusahaan, serahkan sama Daddy. Biar orang suruhan Daddy yang akan menganganinya. Lalu untuk istri kamu, apa Daddy boleh tahu masalah apa yang terjadi dengan kalian?”


Akhirnya Reno pun menjelaskan semuanya. Semua kesalahan yang ia lakukan hingga menyebabkan istrinya pergi. Bahkan sudah empat bulan lebih dirinya tidak bisa menemukan istrinya. Tuan Hadiata pun terkejut. Ternyata sampai saat ini anaknya masih menaruh dendam terhadap orang yang menyebabkan kematian Mommy-nya.


“Reno, bukankah Daddy sudah ingatkan berkali-kali. Daddy sudah ikhlas atas kematian Mommy kamu. Tidak perlu lagi kamu membalas perbuatan orang yang menyebabkan kecelakaan itu. Ingat, Tuhan tidak tidur. Biar tangan Tuhan yang bekerja. Sekarang kamu tahu sendiri bukan, akibat rasa dendam itu, kamu harus ditinggalkan istri kamu.”


“Maafkan Reno, Dad!”


“Tapi kali ini Daddy ingin kamu mencari keberadaan sahabat Daddy dan anak-anaknya. untuk istri kamu, kamu bisa menacarinya kemudian.”


Reno benar-benar dilemma dengan permintaan Daddy-nya. Walau sudah tidak dipaksa lagi untuk menikahi anak sahabatnya. Lalu bagaimana dengan Abi.


“Daddy yakin, kamu bisa menemukan istri kamu. Mungkin memang menantu Daddy itu sedang ingin menyendiri.”


Akhirnya Reno menganggukkan kepala tanda menuruti permintaan Daddy-nya. Sedangkan untuk Abi, Reno juga tetap memerintah orang-orangnya untuk terus memantau gerak-gerik keluarga Sean.


Anak dan ayah itu duduk saling berhadapan di meja makan. Namun tiba-tiba saja Reno menutup mulut dan hidungnya saat mencium bau masakan yang ada di hadapannya. Buru-buru Reno menjauh dari meja makan dan memuntahkan isi perutnya.


Tuan Hadiata heran sekaligus terkejut. Setahunya keadaan Reno sejak tadi baik-baik saja. tapi kenapa tiba-tiba seperti itu. Dengan berjalan tertatih, Tuan Hadiata mengikuti Reno. Dan terlihat Reno sedang mengeluarkan semua isi perutnya.


“Dad, maaf Reno tidak bisa menemani Daddy makan siang. Reno akan ke kamar saja.” ucap Reno setelah membasuh mulutnya dengan air.


“Apa kamu sedang sakit? Tapi kamu juga belum makan siang, Ren!” Tanya pria itu khawatir.


“Reno nggak apa-apa, Dad. Entahlah sudah beberapa bulan ini Reno tidak bisa makan nasi dan sejenisnya. Nanti Reno akan meminta pembantu untuk membawakan roti tawar yang diolesi selai dan segelas susu hangat. Reno masuk dulu, Dad.” Pamit Reno kemudian.

__ADS_1


Tuan Hadiata terperangah mendengar ucapan Reno baru saja. lebih baik sekarang dirinya makan dulu, setelah itu meminta pembantunya membawakan makanan yang diminta Reno tadi.


Usai makan siang, Tuan Hadiata menuju kamar Reno. Kebetulan pembantunya juga baru saja membuatkan makanan sesuai pesanan Reno tadi.


Saat Tuan Hadiata masuk, terlihat Reno sedang makan roti tawar itu dengan lahap. Pria tua itu menyunggingkan senyum tipis seolah mengerti sesuatu.


“Dad, setelah makan siang Daddy harus istirahat. Apakah Daddy sudah minum obat?” tanya Reno menghentikan sejenak kegiatan mengunyahnya.


“Tingkah kamu mengingatkan Daddy saat Mommy kamu sedang mengandung kamu dulu.” Ucap pria itu mengabaikan pertanyaan Reno.


“Maksud Daddy apa?” Tanya Reno bingung sendiri.


“Ya, Daddy dulu juga ngidam seperti kamu saat ini saat Mommy kamu sedang hamil.”


Deg


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


__ADS_2