
Setelah dirawat kurang lebih selama lima hari, hari ini akhirnya Reno sudah diperbolehkan pulang. Reno hanya pulang berdua saja dengan Abi, karena Chiko sudah pulang lebih dulu, kemarin. Hal itu dikarenakan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama.
Abi dan Reno langsung menaiki taksi yang akan mengantarnya ke bandara setelah mereka berdua baru saja keluar dari rumah sakit. Untuk barang-barang Abi yang ada di penginapan sudah disiapkan tadi pagi.
Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju bandara. Sejak tadi tangan Reno sibuk mengotak-atik ponselnya untuk mencari tahu tetang seseorang yang hampir menculik Abi.
Dari plat mobil milik pelaku yang berhasil ia lacak, menunjukkan bahwa orang itu suruhan dari orang yang sangat berpengaruh dan sangat sulit untuk menemukannya. Tapi Reno tidak putus asa. Dia akan terus mencari siapa pelaku itu sebenarnya, dan apa motif perbuatannya.
Sedangkan Abi hanya diam menatap jalanan, karena merasa diacuhkan oleh Reno. Beberapa saat kemudian taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di bandara. Abi dan Reno bergegas keluar. Sementara sopir taksi mengambilkan koper Abi yang ada di bagasi. Bahkan Reno masih sibuk dengan gadgetnya. Hingga Abi harus mendorong kopernya sendiri.
Abi memilih diam dan tidak mengganggu kesibukan Reno. Entahlah Abi jadi meragukan perasaan Reno. Menurutnya, pria itu sungguh misterius. Ataukah memang Abi yang terlalu berharap.
Reno memasukkan ponselnya ke dalam saku saat sudah memasuki pesawat. Dia melirik kursi penumpang sebelahnya ada sosok perempuan cantik yang sedang duduk melamun sambil memandangan arah luar melalui jendela.
“Bi, maafkan aku!” ucap Reno karena menyesal telah mengabaikan Abi sejak tadi.
“Hmm… bolehkah aku istirahat? Aku sungguh lelah.” Jawab Abi dan berkilah ingin istirahat. Bukan badannya saja yang lelah, namun hatinya juga.
“Baiklah. Maafkan aku.” ucap Reno dan hanya diangguki oleh Abi.
Reno sejak tadi mengira kalau sedang bersama Yoga. karena kebiasaannya memang seperti itu jika sedang bepergian dengan sekretarisnya. Padahal sejak tadi ia fokus mencari tahu pelaku yang menculik Abi, tapi bisa-bisanya ia malah mengabaikan perempuan itu.
“Maafkan aku, Bi!” gumamnya sambil melirik Abi yang sedang menutup mata. Bukan hanya rasa sesal karena mengabaikan perempuan itu, tapi ada hal lain di hatinya yang masih mengganjal.
__ADS_1
***
Sementara itu saat ini tampak Sean sedang duduk ddi kursi kerjanya. Pria itu akhir-akhir ini tampak sibuk setelah kehilangan salah satu investornya.
Perusahaan Sean memang sudah besar, namun semua itu tak luput dari beberapa investor yang menanamkan saham di perusahaannya. Termasuk salah satunya adalah Tuan Alteza. Dan Tuan Alteza adalah satu-satunya investor terlama di perusahaan Sean, sekaligus hubungan keduanya sudah seperti saudara.
Sean sejenak menghentikan pekerjaannya. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Tuan Alteza. Hanya karena mengetahui bahwa Viana sudah menikah, pria itu langsung menarik sahamnya dari perusahaan Sean.
Memang sejak dulu pria itu sudah berniat menjodohkan Viana dengan putranya. Namun Sean tak terlalu menanggapi dengan serius. Sean juga mengatakan kalau urusan jodoh biarlah mereka yang menentukan. Kita sebagai orang tua hanya mendukungnya saja. namun ternyata Tuan Alteza tidak menggubris ucapannya.
Kring kring…
Terdengar suara deringan telepon dari sekeretarisnya. Sean pun mengijinkan orang yang ingin bertemu dengannya agar masuk ke ruangannya. Padahal sebenarnya ia sedang sangat sibuk dan tidak bisa diganggu.
“Siang, Keano! Duduklah!” jawab Sean dengan tersenyum ramah.
“Sepertinya Om Sean sangat sibuk, sampai sekretaris Om bilang tidak melayani tamu. Tapi sayangnya setelah tahu kalau aku yang datang, Om langsung mengijinkanku masuk.” Ucap Keano.
“Benar apa yang kamu katakan. Jadi lebih baik sekarang katakan apa tujuan kamu datang kesini?” tanya Sean dengan suara tegasnya.
“Baiklah. Apa Om benar-benar tidak merasa rugi karena kehilangan investor terbesar di perusahaan Om?” tanya Keano dengan sombong.
Sean awalnya memang merasa rugi dengan hilangnya salah satu investor terbesar di perusahaannya. Bahkan dia berniat ingin menjalin hubungan baik lagi dengan Tuan Alteza, terlepas dari perjodohan antara Viana dan Keano. Tapi setelah melihat sifat sombong Keano seperti ini, rasanya Sean mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1
“Mungkin memang belum rejeki perusahaan Om, Keano. Maaf, jika Papa kamu dan kamu masih menawarkan menanam saham di perusahaan Om dengan syarat menjodohkan kamu dengan Viana, Om tidak bisa. Papa kamu dan kamu sudah tahu bukan, kalau Viana sudah menikah.” Jawab Sean dengan tenang.
“Ah itu paling hanya alasan Om Sean saja. sebenarnya Viana belum menikah. Ayolah, Om! Siapa sih yang tidak ingin mempunyai suami sepertiku? Bahkan aku rela menolak ribuan wanita, demi menunggu Viana.” Ucap Keano dengan sombong.
Sean semakin muak dengan sikap Keano. Padahal Tuan Alteza tidak seperti Keano. Hanya saja pria itu selalu menuruti keinginan anaknya.
“Sekali lagi maafkan, Om. Om sudah biasa menghadapi masalah perusahaan seperti ini. Jadi Om tetap tidak bisa menerima menerima kembali jika Tuan Alteza akan menanamkan saham di perusahaan Om. Dan mengenai pernikahan Viana, itu memang benar adanya. Tapi Om sengaja merahasiakan semuanya, termasuk suami Viana.”
Keano menjadi naik pitam. Usahanya membujuk Sean ternyata sia-sia. Padahal sudah lama dia mendambakan sosok Viana, walau Viana sendiri sama sekali belum bertemu dengannya.
“Baiklah. Aku akan menggunakan caraku sendiri untuk mendapatkan Viana.” Ucap Keano lalu keluar dari ruangan Sean.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1