
Cukup lama Chiko membiarkan Abi menangis agar perasaan perempuan itu sedikit lega. Sedangkan Reno sendiri sejak tadi dalam ruang kerjanya.
Bagi Chiko, Reno adalah pria yang bodoh. Sudah mendapatkan perempuan baik hati seperti Abi, justru malah disia-siakan seperti ini. andai saja dirinya bukan sahabat yang baik, sudah pasti Abi akan ia rebut dari Reno.
“Yang bisa aku sarankan hanya bersabar, Vi. Aku yakin suatu saat hati Reno pasti akan terbuka untuk kamu sepenuhnya. Semua ini hanya masalah waktu.” Ucap Chiko.
Abi hanya terdiam mendengar saran dari Reno. Ingin sekali dia pergi dari rumah Reno dengan meminta bantuan Chiko. Namun ada sesuatu yang seperti mencegahnya untuk pergi. Yang tak lain adalah hatinya. Tidak mau jauh dari Reno.
“Aku permisi mau ke kamar dulu, Om. Aku ingin istirahat.” Pamit Abi kemudian.
“Apa kamu sakit, Vi?” tanya Chiko khawatir.
“Aku sedikit pusing saja, Om. Mungkin dengan beristirahat, aku akan lebih baik. Permisi.”
Setelah melihat kepergian Abi, Chiko berniat mendatangi ruang kerja Reno. Dia juga sebenarnya sangat heran dengan sikap sahabatnya yang membiarkan dirinya bersama Abi. Biasanya saja akan mengeluarkan taringnya jika melihat dirinya dekat dengan Abi.
*
Chiko mengetuk pintu ruang kerja Reno terlebih dulu sebelum membukanya. Terulihat pria itu sedang duduk sambil menatap layar laptop.
“Aku tahu apa yang kamu lakukan sekarang.” ucap Chiko sudah duduk tepat di depan meja kerja Reno.
Chiko tahu kalau Reno tidak sedang mengerjakan pekerjaan kantor. namun sedang melihat rekaman cctv di taman dimana ada dirinya bersama Abi tadi.
“Baguslah kalau kamu sudah tahu.” Jawab Reno dingin.
“Aku benar-benar heran dengan kamu, Ren. Sudah mendapatkan perempuan baik seperti Viana masih saja kamu sia-siakan. Kalau kamu memang benar-benar tidak menginginkannya, lepaskan dia!”
“Jangan pernah berharap aku akan melepasnya. Apalagi memberikannya pada kamu.”
__ADS_1
“Kenapa? Kamu nggak mau kehilangan, tapi masih ada orang lain yang mengisi hatimu?” sindir Chiko tepat sasaran.
“Kamu jangan sekali-kali ikut campur dalam masalah pribadiku, Ko!”
Chiko hanya berdecak mendangar ucapan Reno. Dia juga sangat malas berdebat panjang dengan pria itu yang tidak pernah mau mengalah dan mengakui kesalahannya. Setelah itu dia memutuskan untuk pergi.
“Jangan sampai kamu menyesali semua perbuatanmu pada Viana.” Ucap Chiko sebelum meraih handle pintu.
Malam harinya seperti yang diucapkan oleh Reno bahwa dia akan datang ke pesta ulang tahun pernikahan Tuan Alteza. Dia sudah bersiap dengan pakaian rapi yang disiapkan Abi tadi.
Reno menuruni tangga melihat Abi sedang duduk di sofa sambil menonton acara tv. Reno sejenak menghampiri perempuan itu sebelum pergi.
“Bi, aku pergi dulu ya?” pamitnya namun sambil duduk tepat di sebelah Abi.
“Iya. Hati-hati!” jawabnya sambil tersenyum.
Reno menghangat ketika melihat senyum manis Abi. Karena sejak tadi sama sekali belum bertemu dengan perempuan itu. Bahkan saat Abi menyiapkan bajunya, dia masih berada di ruang kerja.
“Iya. Aku mengerti kok, Ren.”
Reno tersenyum bahagia. Lalu dia hendak mencium kening Abi, namun perempuan itu dengan cepat menghindar dan langsung berdiri.
“Lebih baik kamu segera berangkat, Ren. Nanti terlambat.” Ucap Abi dengan tenang.
Seketika wajah Reno berubah murung melihat perubahan sikap Abi. Apa benar yang diucapkan oleh Chiko tentang dirinya tadi siang. Karena dia sibuk memikirkan perempuan lain yang tidak jelas, tanpa sadar telah melukai perasaan Abi.
“Kamu marah sama aku, Bi?” tanya Reno sambil memegang kedua tangan Abi.
“Tidak. Untuk apa aku marah? Sudah. Lebih baik kamu segera berangkat. Aku akan beristirahat, karena aku sudah ngantuk.” Jawab Abi beralasan.
__ADS_1
Reno sebenarnya masih ingin bersama Abi, terlebih dengan perubahan sikap Abi saat ini terhadapnya. Dia ingin menjelaskan semuanya tapi sayangnya dia harus segera pergi.
“Ya sudah, aku pergi dulu.” Pamitnya kemudian sambil emngacak rambut Abi.
Abi tersenyum lalu ikut mengantar Reno ke depan.
***
Saat di pesta, Reno disambut hangat oleh si pemilik acara yakni Tuan Alteza bersama sang istri. Reno memberikan ucapan selamat atas ulang tahun pernikahan pria paruh baya itu. Karena memang sejak dulu hubungan mereka sangat baik. Namun sekarang tampak berbeda, terlebih pada putra tunggal Tuan Alteza yakni Keano.
“Nak Reno kapan akan menikah?” tanya Tuan Alteza bercanda.
“Om tenang saja. yang pasti kalau harinya sudah dekat, Reno akan bilang pada Om untuk menyiapkan semua keperluan pernikahan Reno.” Selorohnya disertai candaan.
Sedangkan istri Tuan Alteza menyenggol lengan suaminya karena merasa kalau suaminya akan benar-benar menanggung keperluan pernikahan Reno.
“Mama ini nggak paham sekali sih dengan candaan Reno.” Ucap Tuan Alteza.
“Kalaupun bukan candaan, Reno juga tidak keberatan kok Om.”
Belum sempat istri Tuan Alteza protes, Reno mendengar suara Keano yang baru datang menyapanya. Pria arogan itu datang tidak sendirian, melainkan bersama seorang wanita cantik.
“Hai Ren, sendirian aja nih? Sampai kapan kamu betah menyendiri?”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️