Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 151 Raffael Demam


__ADS_3

Jo kemarin sempat melihat Chiko masuk ke dalam butik milik kekasihnya, usai ia diusir oleh Chelsea. Meskipun ia tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Chiko dan Chelsea, namun Jo cukup tahu jelas apa yang mereka berdua lakukan dari kejauhan. Seketika itu Jo mengepalkan kuat tangannya. dia berpikir Chiko lah orang yang telah membocorkan kebusukan dirinya pada Chelsea. Maka dari itu ia mencari tahu tentang siapa Chiko, hingga akhirnya ia menemukan alamat apartemen pria itu.


***


Sementara itu Chiko merasakan ngilu di area sekitar rahangnya setelah mendapat serangan secara tiba-tiba. Dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendatangi butik Chelsea.


“Sialann!” umpat Chiko setelah tahu bahawa pria yang menyerangnya baru saja adalah Jo, yang tak lain mantan kekasih Chelsea.


Chiko berjalan memasuki unit apartemennya sambil memegangi lukanya. Dia akan mengobati lukanya terlebih dulu, setelah itu akan pergi menemui Chelsea.


***


Saat ini Abi sedang memeluk sahabatnya yang sedang bersedih. Chelsea menceritakan tentang Jo yang beerencana akan melamarnya. Tidak hanya itu, Chelsea juga menceritakan pada Abi kalau Jo akan membuat kedua orang tuanya menerima lamarannya. Namun di sini Chelsea sama sekali tidak membahas tentang Chiko. Baginya itu adalah aib dan tidak mungkin diceritakan pada orang lain.


“Lalu apa yang kamu lakukan, Chel?” tanya Abi setelah tangis Chelsea reda.


“Aku ingin pergi jauh dari negara ini, Vi.” Jawabnya dengan lirih.


Niat Chelsea pergi selain untuk menghindari Jo, dia juga ingin menghindari Chiko. Terlebih dia takut jika dampat dari kejadian malam itu akan membuatnya hamil. Dan tentu saja akan membuat keluarganya sangat malu.


Sedangkan Abi masih diam saat mendengar jawaban Chelsea yang ingin pergi jauh. Padahal niatnya menunjukkan keburukan Jo, agar Chelsea bisa dekat dengan Chiko.


“Chel, bolehkah aku bicara sesuatu padamu?” Tanya Abi dan Chelsea menganggukkan kepalanya.


“Ehm, apa kamu sama sekali tidak memiliki perasaan pada Om Chiko?” tanya Abi pelan.


Bukan tanpa alasan Abi bertanya seperti itu. Dia masih ingat jelas saat Chelsea mengkhawatirkan Chiko saat operasi dulu. Bahkan Chelsea juga lah yang menemani Chiko pasca operasi. Apa nama perasaan itu kalau bukan simpati atau lebih dari itu.

__ADS_1


Sedangkan Chelsea mendapati pertanyaan seperti itu, wajahnya seketika memerah marah. Marah karena inga tapa yang telah dilakukan oleh pria itu. Ya, mungkin dulu ia menaruh hati pada Chiko, tapi untuk sekarang sepertinya ia akan menghapus nama pria itu dari hatinya.


“Tidak. Kamu jangan bahas orang lain di luar masalahku, Vi. Dan sepertinya tekatku sudah bulat kalau lebih baik aku pergi jauh.” Jawab Chelsea sambil mengusap air matanya.


Abi justru semakin curiga melihat reaksi Chelsea yang tampak murka mendengar nama Chiko disebut. Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua. Baru saja Abi ingin bertanya. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.


“Sayang, ehm maaf apa masih lama?” tanay Reno yang terpaksa menyusul istrinya karena baru saja mendapat telepon dari Bu Mira kalau Raffael menangis mencari mamanya.


“Ada apa, Ren?”


“Raffael bangun. Dia menangis mencari kamu. Ehm, maaf Chelsea harus memutus pembicaraan kalian-“


“Nggak apa-apa. Ini sudah selesai. ya sudah, Vi aku pulang dulu.” Potong Chelsea, lalu ia beranjak terlebih dulu.


Reno dan Abi hanya saling lirik melihat sikap Chelsea seperti itu. Abi sendiri sebenarnya ingin mencegah kepergian sahabatnya, namun ia ingat dengan Raffael.


Dalam perjalanan pulang, Abi tampak diam. dia masih memikirkan sahabatnya. Dia snagat takut jika terjadi hal buruk dengan Chelsea.


“Sayang, kamu kenapa? Apa ada masalah?” tanya Reno khawatir.


“Nggak apa-apa. Aku hanya memikirkan Chelsea saja.” jawab Abi.


Setelah itu Abi menceritakan masalah Chelsea denagn Jo. Padahal Chelsea sudah mengatakan kalau itu hanya rahasia antara mereka berdua. Naamun sayangnya Abi tidak bisa menyimpan sendiri keluh kesah sahabatnya.


“Kita doakan saja semoga Chelsea bisa berpikiran jernih dan tidak sampai pergi. Kamu jangan terlalu memikirkan masalah Chelsea, ingat dengan janin yang ada dalam kandunganmu. Jika kamu ikut stress, maka akan sangat berpengaruh buat dia.” Ujar Reno sambil menguspa perut istrinya.


“Maaf. Terima kasih sudah mengingatkan. Ehm, bolehkah aku minta tolong satu hal?”

__ADS_1


“Apa?”


“Tolong kamu cari tahu ada masalah apa antara Chelsea dan Om Chiko. Aku rasa ada hal yang tidak beres dengan mereka berdua.”


Reno hanya menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya itu mengganggu privasi seseorang. Meskipun Chikojuga sahabatnya.


Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sudah tiba. Abi keluar mobil terlebih dulu. Dia sangat khawatir dengan Raffael.


Sesampainya di rumah, dia masih mendengar suara tangis Raffael. Abi segera meraihnya dari gendongan Bu Mira untuk menenangkannya.


Abi merasakan badan Raffael demam. Dia terlihat cemas. Padahal tadi pagi tidak apa-apa.


“Apa badan Raffael panas sejak tadi, Bu?”


“Semenjak bangun tidur tadi, Nyonya.” Jawab Bu Mira.


Reno yang baru saja masuk juga terlihat khawatir. Dia mengambil Raffael dari gendongan istrinya. Reno tidak membiarkan Abi menggendong Raffael terlalu lama.


“Tunggu dulu, biar aku panggil dokter anak saja untuk memeriksa Raffael.” Ucap Reno menenangkan istrinya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2