
Sesuai janjinya, malam ini Chiko sudah berada di rumah Sean untuk menjemput Abi. namun saat baru saja pria itu menginjakkan kakinya di rumah Sean, di sana ternyata sedang ada tamu. Akhirnya Chiko memilih menunggu di ruang tamu. Namun ia masih mendengar jelas ucapan seorang pria yang sedang bicara dengan Abi di ruang tengah.
“Aku bersedia menjadi ayah sambung Raffael, Vi. Aku tidak masalah jika kamu tidak pernah mencintaiku, tapi ingatlah dengan Raffael. Dia membutuhkan figur seorang ayah.” Ucap Reza.
Reza baru bisa menyempatkan datang untuk menyampaikan belasungkawanya atas meninggalnya Reno. Pria itu sangat terkejut sekaligus merasa mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan Abi.
“Maaf, Kak! Aku sudah berjanji untuk diriku sendiri kalau sampai kapanpun aku tidak akan menikah lagi. biarkan aku merawat Raffael seorang diri.” Jawab Abi sambil menundukkan kepala.
Setelah mengucapkan itu, Abi baru sadar kalau tadi ia sempat mendengar Chiko datang. Akhirnya ia bergegas berdiri untuk menemui Chiko yang sedang menunggunya di ruang tamu.
“Maaf, Om menunggu lama.” Ucap Abi merasa tak enak.
“Nggak apa-apa, Vi.” Jawab Chiko sambil tersenyum. Karena dia juga merasa lega setelah mendengar Abi menolak Reza.
“Ya sudah, ayo kita pergi sekarang!” ajaknya kemudian.
Abi mengangguk lalu masuk ke dalam untuk mengambil Raffael yang sedang bersama Mamanya. Setelah itu dia berpamitan pergi.
Sepeninggal Abi dan Chiko, Lidia menghampiri Reza yang masih duduk termenung di ruang tengah seorang diri. Karena suaminya dan Xander sedang keluar karena ada kepentingan mendadak.
“Nak Reza, maafkan Viana. Tidak mudah bagi Viana untuk menerima orang baru dalam hidupnya. Apalagi untuk menjadi suaminya. Tante yakin, pasti Nak Reza nanti akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dari Viana.” ucap Lidia yang sejak tadi mendengar dengan jelas pembicaraan Abi dan Reza.
“Justru Reza yang meminta maaf pada Tante karena terkesan memaksa Viana. terima kasih atas doanya, Tante. Ya sudah kalau begitu Reza pamit undur diri.” Jawab Reza dengan mengulas senyum tipis di bibirnya.
***
Chiko dan Abi sudah tiba di rumah Reno. Rumah yang dulu pernah ditempati Abi di awal-awal pernikahannya dengan Reno.
__ADS_1
Dada Abi seketika sesak saat kakinya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah itu. Rumah penuh kenangan indah bersama mendiang suaminya.
“Kamu baik-baik saja, Vi?” tanya Chiko khawatir.
“Maaf, Om. Aku hanya teringat Reno.” Jawabnya sambil mengusap pipinya yang sudah basah.
Setelah itu Chiko mengajak Abi masuk menuju ruang tengah dimana Tuan Hadiat sedang menunggunya. Pria tua itu terlihat diam.
“Dad!” panggil Abi dengan lirih.
“Sayang, Nak Abi apa kabar kamu dan cucu Daddy?” tanya Tuan Hadiata dan berhambur memeluk Abi.
Tangis Abi pecah dalam pelukan mertuanya. Rasanya tidak adil jika hanya dirinya saja yang merasa kehilangan sosok Reno. Abi bahkan baru teringat kalau mertuanya itu pasti lebih terpukul daripada dirinya.
“Sudah, Nak! jangan bersedih lagi! Daddy yakin kalau Reno sudah tenang di sana. Kamu harus kuat untuk melanjutkan hidup kamu bersama Raffael.” Ucap Tuan Hadiata dan semakin membuat tangis Abi pecah.
“Tidak, Dad! Daddy jangan pergi!” Ucap Abi dengan menggelengkan kepalanya.
“Sayang, Daddy akan merasa nyaman tinggal di rumah Daddy sendiri. Kamu jangan khawatir, sampai kapanpun kamu tetap anak Daddy.”
Abi terus menangis tak mampu lagi menimpali ucapan mertuanya. Dia juga tidak bisa memaksa mertuanya untuk terus tinggal di sini, mengingat sudah tidak ada lagi orang-orang yang menjadi penyemangat hidupnya.
Abi pun juga memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya saja. daripada harus teringat semua kenangan tentang Reno jika ia tinggal di rumah ini. dan Tuan Hadiata memberikan kebebasan untuk menantunya itu.
“Dad, Abi minta ijin ke kamar dulu. Biarkan Raffael tidur di sini.” ucap Abi lalu meletakkan Raffael yang tertidur di dalam stoller.
Tuan Hadiata mengangguk. Lagi pula ada Chiko yang akan membatu menjaga cucunya.
__ADS_1
Kini Abi sudah menaiki tangga menuju kamar Reno. Lebih tepatya kamar yang pernah mereka berdua tempati. Sebelum memasuki kamar itu, Abi menekan kuat dadanya untuk menghilangkan rasa sesak karena kesedihannya.
Cklek
Abi membuka pintu itu dengan pelan. Seketika harum aroma parfum khas maskulin yang biasa Reno pakai menguar memenuhi ruangan itu. Seketika tangis Abi pecah karena menganggap suaminya masih hidup.
Abi duduk di bibir ranjang sambil mengusap kain sprei. Dia teringat di tempat tidur ini ia selalu mendapatkan kehangatan dari pelukan Reno. Namun sekarang pelukan itu sudah tidak bisa lagi ia rasakan.
“Reno! Tahukah kamu kalau aku sangat merindukanmu?” ucapnya di sela-sela isakannya.
Tak tahan dengan rasa sesak itu, Abi mendekati pintu balkon lalu membukanya lebar-lebar. Dia ingin menghirup udara malam. setidaknya bisa meringankan rasa sakit hatinya itu, sambil memandangi bintang di langit yang sedang berkilauan.
“Reno!!! Aku tidak kuat! Aku tidak kuat menahan kesedihan ini sendirian. Aku lelah, Ren!!” teriak Abi sambil mencengkeram kuat pagar balkon.
Grep
Tiba-tiba sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Tangis Abi semakin pecah kala merasakan pelukan hangat itu. Tapi kali ini dia sadar kalau pelukan itu tampak nyata, karena dia sedang tidak tidur ataupun bermimpi.
“Maafkan aku, Sayang! Maafkan, aku Vibi!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️