
“Ma, antar Chelsea melihat keadaan Om Chiko.” Jawab Chelsea akhirnya.
Mama Chelsea menjawabnya dengan senyuman tipis. Wanita paruh baya itu cukup paham dengan putrinya yang sepertinya memang menaruh hati pada pria matang yang telah menyelamatkannya tadi.
“Iya, nanti akan Mama antar. Sekarang kamu istirahat dulu, Nak Chiko juga sedang ditangani dokter.”
***
Keesokan paginya keadaan Chelsea sudah lebih baik. Ya, meskipun dia masih terbayang-bayang perlakuan Jo kemarin.
Cklek
“Kamu sudah bangun, Nak? Mama baru saja dari kantin.” Ucap Mama Chelsea.
“Ehm, iya Ma. Apa Mama semalam juga tidur di sini?”
“Iya, Sayang. Mana mungkin Mama meninggalkan anak Mama seendirian. Papa kamu juga tidur di sini, tapi sayangnya pagi-pagi sekali tadi harus pulang.”
Tak lama kemudian seorang perawat masuk untuk melihat keadaan Chelsea dengan mengukur tekanan darahnya. Setelah itu Chelsea dibantu Mamanya untuk mandi, kemudian sarapan.
Usai mandi dan sarapan, Chelsea meminum beberapa obat dan vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter.
“Apa kamu mau melihat keadaan Nak Chiko sekarang?” tanya Mama Chelsea seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya.
“Iya, Ma.” Jawab Chelsea.
Chelsea menuju ruang perawatan Chiko dengan duduk di kursi roda dan dibantu oleh Mamanya. Sebenarnya bisa saja ia berjalan, namun Mamanya takut jika tubuh Chelsea masih lemas.
Cklek
__ADS_1
Perlahan Mama Chelsea membuka pintu ruang rawat Chiko. Setelah itu masuk mendorong kursi roda yang diduduki Chelsea.
Di atas brankar itu tampak Chiko sedang berbaring. Kepalanya masih terbalut perban. Namun, sungguh malang sekali nasib pria itu yang semalaman sendirian tanpa seseorang yang menemaninya. Hanya ada anak buah Reno saja yang ditugaskan menjaga Chiko dari luar.
“Selamat pagi!” sapa Mama Chelsea.
Wanita paruh baya itu menyapa Chiko dengan sopan, walau sebenarnya mereka belum saling mengenal.
Chiko yang sedang melamun, sontak saja terkejut dan menoleh ke sumber suara. Pandangannya tertuju pada Mama Chelsea. Dia sama sekali tidak mengenal wanita paruh baya itu. Tapi tunggu dulu, seseorang yang sedang duduk di kursi rod aitu, Chiko sangat mengenalnya.
“Selamat pagi.” jawab Chiko.
Mama Chelsea mengulas senyum tipis pada Chiko, lalu mendorong kursi roda Chelsea agar mendekat.
“Bagaimana keadaan, Nak Chiko? Oh iya, perkenalkan, Tante ini Mamanya Chelsea. Sekalian Tante mengucapkan terima kasih pada Nak Chiko karena telah menolong Chelsea.”
“Sayang, Mama keluar sebentar ya. Mama mau menghubungi Papa, karena ada hal penting yang mau Mama sampaikan.” Pamit Mama Chelsea kemudian.
Wanita paruh baya itu sengaja memberi waktu untuk Chelsea dan Chiko berbicara. mungkin saja ada hal yang cukup privasi yang ingin mereka bicarakan.
Usai Mama Chelsea keluar dari ruangan itu, kini hanya ada Chiko dan Chelsea di sana. Mereka berdua masih saling diam, sebelum akhirnya Chiko dulu lah yang bicara.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Chiko dengan posisi masih berbaring, karena ia masih belum bisa banyak bergerak.
“Baik.” Jawab Chelsea dengan suara yang sangat lirih, namun Chiko masih bisa mendengarnya.
Ingin sekali Chiko bangun. Namun, kepalanya masih sakit dan terasa pusing jika banyak bergerak. Dia berusaha mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh Chelsea. Sedangkan Chelsea byang sejak tadi tertunduk, dia bisa merasakan sentuhan tangan Chiko.
“Te..terima…kasih.. telah menyelamatkanku.” Ucap Chelsea sambil menyambut uluran tangan Chiko.
__ADS_1
Chelsea tidak bisa lagi membendung air matanya saat mengingat kejadian kemarin. Terlebih usaha Chiko yang menyelamatkannya dari perbuatan bej*t Jo. Rasa benci terhadap Chiko kini menguap begitu saja saat melihat keadaan pria itu tergolek lemah tak berdaya. Apalagi Chelsea tahu kalau sebelumnya Chiko sudah mendapat luka tusukan dari Jo. Bahkan luka itu belum kering, lalu ditambah lagi dengan pukulan benda keras yang mengenai kepalanya.
“Jangan menangis, Chelsea! Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja.” jawabnya dengan isakan lirih.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku jamin baj***aan itu tidak akan lagi berbuat jahat padamu. Dan, maafkan aku.” ucap Chiko terjeda. Dia menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku hanya butuh maaf darimu Chelsea. Aku tidak akan memaksa kamu lagi agar menerima pertanggung jawabanku. Bagiku, cukup kamu memaafkanku. Setelah itu aku janji akan pergi jaiuh dari hidup kamu dan tidak akan mengganggu kamu lagi.”
Chelsea benar-benar terkejut mendengar ucapan Chiko baru saja. padahal rasa benci terhadap Chiko akan perbuatannya malam itu sudah hilang begitu saja. bahkan ia akan mencoba menerima pria itu. Namun, kenapa kini justru Chiko akan pergi darinya. Chelsea semakin tidak bisa membendung air matanya. dan hal itu semakin membuat Chiko bingung.
“Chelsea, kumohon jangan menangis! Maafkan aku! kamu boleh membenciku. Aku janji setelah sembuh, aku akan pergi dari negara ini agar kamu bisa tenang menjalani kehidupan baru kamu. Aku berjanji tidak akan mengusik kamu lagi.” ucap Chiko dengan terus mengusap lengan Chelsea dengan lembut.
“Tidak! Jangan pergi! Jangan pergi dari negara ini! jangan pergi dari hidupku, Om!”
Chiko terdiam mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Chelsea. Benarkah ucapan wanita itu? Apa dia tidak salah dengar? Lalu jika yang diucapkan Chelsea benar, apa arti semua ucapan Chelsea?.
“Aku sudah memaafkan Om Chiko. Dan aku, aku juga mencintai Om Chiko.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1