Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 24 Mencegahnya


__ADS_3

Tanpa aba-aba wanita itu langsung duduk menyilang di atas pangkuan Tian. Tidak hanya itu saja, dia juga langsung meraup bibir Tian dengan sangat rakus. Tian pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka berdua tampak berperang lidah dengan posisi di atas kursi kerja Tian.


Meskipun Tian hanya mencintai Abi, namun kenyataannya dia tidak bisa menolak pesona kekasih cadangannya yang sangat menggoda dan selalu memuaskan.


“El, aku sudah tidak tahan!” racau Tian saat tangan nakal wanita itu mulai menyusup di balik celana Tian. Dan Tian pun segera membawa kekasihnya masuk ke dalam kamar yang tersedia di ruangan itu.


***


Beberapa hari istirahat di rumah, keadaan Reno sudah pulih kembali. Dan selama itu Abi selalu diberi tugas untuk membantu pekerjaan kantornya. Tanpa disadari, dengan interaksi yang terjalin dengan Abi, ternyata membereikan efek yang aneh pada hati Reno. Tapi dia tidak bisa menyimpulkan apa nama perasaan itu. Bahkan sikap Reno juga sudah tidak pernah marah-marah lagi walau sifat dasarnya masih melekat. Yaitu dingin dan arogan.


Saat ini Reno sedang makan malam. seperti biasa dia akan makan malam sendirian setelah Abi menyiapkan semua makanan di atas meja.


“Kamu mau kemana?” tanya Reno saat melihat Abi akan meninggalkan ruang makan.


“Ehm, saya mau permisi ke kamar dulu, Tuan.”


“Apa kamu sudah makan malam?”


“Belum, Tuan. Nanti saja, saya belum lapar.” Jawab Abi dan ingin segera pergi. Karena dia sangat tidak nyaman ditatap Reno seperti itu.


“Duduklah! Kamu makan sekalian temani aku.” ucap Reno dengan tegas.


Mau mengelak dengan alasan apapun rasanya tidak mungkin. Karena ucapan Reno adalah perintah yang mutlak dan wajib dikerjakan. Akhirnya Abi pun ikut duduk bergabung makan malam bersama Reno.


Makan malam berdua dengan hasil olahan masakan Abi. Jika orang lain yang melihat mungkin mereka seperti pasangan suami istri yang sangat harmonis. Ya, walau status mereka memang pasangan suami istri, namun kenyataannya mereka adalah pasangan majikan dan pelayannya.

__ADS_1


Abi masih diam menunggu Reno mengambil nasi terlebih dulu. Karena sangat tidak sopan jika ia mengambil nasi terlebih dulu. Namun yang Abi herankan adalah sampai saat ini Reno tak kunjung mengambil nasi ke dalam piringnya.


“Sampai kapan kamu akan diam terus?” tanya Reno dan sontak membuat Abi mendongakkan kepalanya.


Abi benar-benar bingung dengan pertanyaan Reno. Apakah dia harus mengambil nasi terlebih dulu. Lalu kenapa Reno sejak tadi juga hanya melihat masakan itu dan tak kunjung mengambilnya.


“Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” tanya Reno lagi-lagi dengan suara tegasnya.


Mungkin sudah menjadi kebiasaan Abi, perempuan itu cukup peka dengan pertanyaan yang dilontarkan Reno baru saja. Reno yang sudah terbiasa apa-apa dilayani, jadi itu tandanya pria itu minta diambilkan makanan.


“Hufftt… ternyata mengajaknya makan hanya karena minta diambilkan. Kemarin bukannya bisa ambil sendiri.” Batin Abi.


“Jangan suka mengumpatku dalam hati.” Celetuk Reno dan membuat Abi terkejut.


Abi tidak menanggapi apapun. Tangannya juga sudah bergerak cekatan mengambil nasi beserta lauk ke dalam piring Reno. Setelah itu memberikannya pada Reno.


Setelah itu Abi mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan menyantapnya.


Baru saja Abi menyuap satu sendok makanan ke dalam mulutnya dan belum selesai mengunyah, tiba-tiba saja dikejutkan noleh sosok pria yang muncul ke ruang makan.


“Ehm, lagi makan nggak ajak-ajak.” Ucap Chiko tanpa dosa lalu segera duduk di samping Abi.


“Aku tidak mengundang orang lain untuk makan malam.” ucap Reno dengan kesal karena telah mengganggu momen bersamanya dengan Abi.


“Apa kamu tega membiarkanku kelaparan setelah baru pulang dari kantor?” jawab Chiko dengan mendrama.

__ADS_1


Memang benar kalau saat ini Chiko masih mengenakan setelan baju kerjanya. Dan wajahnya juga tampak lelah. Reno pun tak tega mau mengusir Chiko atau memintanya makan di luar. Karena kedatangan Chiko kesini pasti ada hal penting yang akan dia sampaikan.


“Terserah kamu.” Jawab Reno datar dan kembali melanjutkan makannya.


Chiko pun tampak berbinar setelah Reno mempersilakan ikut makan. Dia juga sangat tergius dengan beberapa menu makanan yang ada di hadapannya. Untung saja Abi masak lebih, jadi Chiko masih mendapat bagian.


Abi yang sejak tadi diam kini segera mengambil piring dan mengisi nasi beserta lauknya untuk Chiko.


“Vibi, stop! Siapa yang suruh kamu mengambilkan makan untuknya? Di sini aku lah bos kamu” ucap Reno tidak terima.


“Nggak apa-apa, Vi ambilkan saja. nanti aku bayar sendiri sebagai ongkos mengambilkan makan untukku. Dan kamu, Ren.. memangnya Viana pelayan kamu, kamu pernah menggajinya?” tanya Chiko dan membuat Reno tertohok.


Reno terdiam. Memang benar yang diucapkan oleh Chiko. Selama ini dia hanya menyuruh Abi tanpa menggajinya atau setidaknya memberikan kebebasan untuknya berbelanja. Bahkan kartu atm yang diberikan saja hanya untuk berbelanja keperluan dapur.


“Ini, Om silakan dimakan! Saya pamit keluar dulu.” Ucap Abi yang akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruang makan, karena sangat tidak nyaman jika terus mendengarkan dua orang pria dewasa itu berdebat. Bahkan untuk hal yang tidak penting.


Melihat Abi keluar, Reno ingin mencegahnya pun dia urungkan. Mungkin Abi tidak nyaman akibat ulahnya.


“Enak sekali masakan adik ipar!” Ucap Chiko mengabaikan Reno yang masih diam setelah melihat kepergian Abi.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2