
Sementara Abi yang tadi berlari keluar hotel, hatinya masih sakit. Mungkin perbuatan Reno tak termaafkan. Dan ini adalah jalan satu-satunya. Yaitu pergi jauh dari pria yang telah membuatnya jatuh cinta.
Abi terus berjalan dengan langkah cepat. Sesekali menoleh ke belakang, takut jika Reno mengejarnya. Namun tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut. Terlihat di depannya ada sebuah mobil yang lampunya menyorot ke arahnya. Pandangan Abi tiba-tiba gelap sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
***
Semalaman Reno berkeliling jalanan sekitar hotel hingga menjauh dari hotel demi menemukan keberadaan istrinya. Pikirannya sangat kalut. Tidak ada acara jitu yang muncul di otak Reno saat ini. dia masih terus berusaha menemukan istrinya. Dan berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Hingga pukul dua dini hari Reno akhirnya memutuskan untuk pulang. bisa saja dia memaksa untuk terus mencari Abi. Namun akan sangat berbahaya pada tubuhnya yang sudah letih seperti ini.
Reno memasuki rumah dengan pakaian yang sudah acak-acakan. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia takut terjadi hal buruk dengan Abi. Tapi Reno bingung bagaimana cara menemukan perempuan itu.
Cklek
Reno membuka pintu kamar. kamar yang ia tempati bersama Abi. Hatinya kembali sakit saat mengetahui fakta bahwa orang yang menemaninya tidur sudah pergi entah kemana. Akhirnya Reno kembali menutup pintu kamarnya dan memilih masuk ke kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Mungkin dengan istirahat sejenak bisa menghilangkan penatnya. Setelah itu ia bisa berpikir jernih untuk menemukan dimana Abi.
Pagi harinya Reno sudah terbangun dari tidurnya. Tidur yang sangat tidak nyenyak. Pakaiannya pun masih seperti yang terakhir ia pakai saat di pesta kemarin.
Reno terduduk lesu di sofa ruang tengah. Rumahnya kembali sepi seperti sebelum kedatangan Abi. Namun kali ini hawanya sangat berbeda. Jauh lebih buruk dari sebelumnya.
“Kenapa kamu, Ren?” tanya Chiko yang entah sejak kapan pria itu datang.
Chiko menatap heran penampilan sahabatnya. Bahkan kantung mata Reno terlihat jelas. Dan besar kemungkinan kalau sahabatnya itu sedang ada masalah.
“Vibi pergi, Ko. Istriku pergi ninggalin aku.” lirihnya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
“Apa maksud kamu, Ren?” tanya Chiko bingung.
Reno tidak langsung menjawab. Dia menjambak rambutnya dengan kesal lalu menyandarkan punggungnya pada sofa. Hatinya kembali sakit saat tidak ada Abi di sisinya.
“Kenapa Viana meninggalkanmu, Ren? Bukannya hubungan kalian baik-baik saja?” tanya Chiko sekali lagi.
Akhirnya Reno menceritakan semuanya. Awal mula pertemuannya dengan Tian saat di pesta kemarin. Reno mengatakan kebodohannya. Karena sangat emosi terhadap Tian yang meminta Abi secara terang-terangan, akhirnya dia membenarkan ucapan Tian tentang Abi yang ia gunakan sebagai alat balas dendam. Dan Abi melihat dan mendengar itu semua.
“Dan ada satu fakta lagi yang mengejutkanku, Ko. Gadis kecil pemilik kalung berinisial “Va” yang telah lama aku cari ternyata dia adalah Vibi. Istriku. tapi kenapa sekarang dia justru memilih pergi meninggalkanku sebelum mendengarkan penjelasanku, Ko!” ucap Reno dengan nada sendu.
Chiko sendiri pun tidak bisa berkata banyak. Dia juga menyalahkan Reno yang sejak dulu terus berambisi membalaskan dendamnya pada Tian. Hingga tidak memikirkan dampaknya. Dan untuk kalung milik gadis kecil Reno yang ternyata itu adalah Abi, Chiko sendiri menganggap bahwa mereka berdua mungkin memang sudah ditakdirkan berjodoh.
“Aku harus bagaimana, Ko? Dimana aku harus menemukan keberadaan Vibi?”
“Tenangkan pikiranmu dulu, Ren! Aku yakin kalau Viana memang sudah ditakdirkan menjadi jodoh kamu, kamu akan menemukan jalan. Sekarang hanya perlu pembuktian saja, bagaimana caranya kamu meminta maaf dan menjelaskan semuanya itu. Lebih baik kamu mandi dulu agar pikiran kamu lebih fresh. Setelah itu mulailah mencari Viana.”
Usai mandi, ternyata Chiko sudah menunggunya di meja makan. Sungguh Chiko adalah sabahat Reno yang sangat pengertian. Mengingat tidak ada Abi lagi yang melayani, akhirnya dia rela memesankan makanan untuk Reno.
“Makanlah dulu, setelah itu kamu bisa mulai mencari Viana.” Ucap Chiko.
“Terima kasih, Ko!” jawab Reno dengan tulus.
Meskipun tidak ada selera untuk makan, namun Reno tetap memaksa nasi itu masuk ke dalam mulutnya. Karena memperjuangkan orang yang ia cintai juga membutuhkan tenaga.
Dan kedatangan Chiko di hari minggu pagi ini cukup membuat Reno senang, karena ia juga akan meminta bantuan pada Chiko untuk mencari keberadaan Abi.
“Kamu sudah tahu kemana harus mencari istrimu sekarang?” tanya Chiko setelah keduanya menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
“Apa aku harus mencari ke rumah orang tuanya?” tanya Reno ragu-ragu.
“Nah, itu benar sekali. Kemana lagi Viana pergi kalau bukan ke rumah keluarganya.”
Reno memang setuju dengan ucapan Chiko. Tapi dia tidak yakin kalau istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Selain itu dia juga belum siap memberikan kabar buruk ini. kabar buruk yang jelas dirinyalah penyebabnya.
***
Sementara itu tampak perempuan yang sedang terduduk lemah di bibir ranjang sebuah hotel. Sejak tadi pagi bangun, perutnya terus mual-mual.
“Vi, keadaan kamu sangat lemah. Lebih baik aku antar kamu pulang saja, ya?” paksa pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.
“Jangan, Kak! Sudah aku katakan, bawa aku pergi dari negara ini. aku tidak mau melihat wajah suamiku yang lebih tepatnya akan menjadi mantan suami.” jawab Abi.
Deg
“Suami?”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1