Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 77 Dengan Erat


__ADS_3

Lagi-lagi Abi tidak mau diajak periksa ke rumah sakit. Padahal wajahnya terlihat sangat pucat. Dan jawaban Abi hanya ingin tidur. Jadi Reno pasrah dan membiarkan istrinya tidur di kamar yang ada di ruangan itu.


“Ya sudah, tunggu sebentar. Aku akan meminta OB membuatkan kamu teh hangat dulu, setelah itu kamu boleh tidur.” Ucap Reno setelah keduanya memakai baju masing-masing.


Mungkin Reno lebih baik membiarkan Abi istirahat dulu karena memang kegiatan panasnya tadi membuat istrinya kelelahan. Namun jika saat bangun tidur keadaan Abi masih belum membaik, Reno akan memaksa istrinya pergi ke rumah sakit.


Tak lama kemudian datang seorang OB dengan membawa teh hangat sesuai pesanan Reno. Dan Reno memberikannya pada Abi.


“Terima kasih, Ren. Perutku rasanya sudah enakan. Ya sudah aku mau tidur dulu. Aku sangat ngantuk.”


Reno mengacak rambut Abi dengan gemas. Setelah itu membiarkan istrinya istirahat, dan ia sendiri akan melanjutkan pekerjaannya.


Tanpa terasa Reno bergelut dengan pekerjaan sampai jam pulang kantor tiba. Tapi melihat pintu kamar dimana Abi tidur, sama sekali tidak ada tanda-tanda perempuan itu bangun.


Reno menghentikan sejenak pekerjaannya lalu melihat keadaan istrinya. Ternyata Abi sangat pulas sekali tidurnya. Mau membangunkannya pun Reno tidak tega. Akhirnya Reno memilih bekerja lagi. biarkan dia lembur sendirian, yang terpenting ada istrinya.


Pukul tujuh malam Reno baru merampungkan semua pekerjaannya. Dia masuk ke dalam kamar dan bertepatan dengan Abi yang baru saja bangun.


“Apakah kamu sudah baikan, Bi?”


“Sudah. Aku nggak apa-apa. Eh, ini sudah malam ya, Ren?” tanya Abi terkejut.


“Iya. Dan tidur kamu sangat nyenyak, jadi aku membiarkanmu saja.”


Abi tampak merengut. Tapi memang dia merasakan badannya jauh lebih baik setelah tidur dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu dia ke kamar mandi untuk mencuci mukanya terlebih dulu sebelum pulang.


“Yakin badan kamu sudah baikan? Atau kita bermalam di sini saja?”

__ADS_1


“Iya, serius Ren. Aku sudah enakan. Ehmm…. Justru sekarang perutku sangat lapar.” Ucapnya lirih di akhir kalimat.


Reno hanya menahan senyumnya saat melihat tingkah manja dan lucu istrinya itu. Setelah itu dia memakai jasnya dan pulang.


Niat hati Reno ingin mengajak istrinya makan malam di restaurant saja, namun Abi menolak. Perempuan itu minta makan steak tapi dimakan di rumah saja. Reno pun menurutinya.


Sesampainya di rumah, Abi langsung menuju ruang makan untuk menyiapkan makanan yang telah dibelinya tadi. perempuan itu langsung memakan steak dengan lahap tanpa mandi terlebih dulu. Sedangkan Reno hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh istrinya.


“Sayang, apakah kamu akan memakan steak itu sendirian?” tanya Reno sedikit menyindir.


“Sorry. Tuh kamu makan yang itu.” Tunjuk Abi pada sisa steak yang tinggal sedikit.


Bukannya marah, Reno justru semakin gemas dengan istrinya. Bahkan Abi tidak ingat dengan aturannya kalau di rumah makannya harus sepiring berdua. Berhubung melihat Abi sedang kelaparan, Reno pun membiarkannya saja.


Usai makan malam, perut Abi sangat kenyang. Perempuan itu bergegas masuk ke kamar untuk segera membersihkan tubuhnya. Begitu juga dengan Reno.


Cklek


Abi baru saja keluar dari kamar mandi melihat raut wajah suaminya yang tampak berbeda.


“Ada apa, Ren?”


“Nggak. Nggak ada apa-apa. Hanya masalah kantor saja. ya sudah aku mandi dulu.” Jawab Reno lalu bergegas masuk ke kamar mandi.


Usai mandi Reno langsung pergi ke ruang kerjanya. Sebelumnya dia meminta istrinya untuk istirahat saja dan melarangnya untuk menunggu. Takutnya Reno akan menyelesaikan pekerjaannya sampai larut malam.


“Yakin, kamu baik-baik saja, Ren?” tanya Abi penasaran.

__ADS_1


“Iya, Sayang. Tenang saja ini hanya masalah kantor dan sudah menjadi hal biasa. Kamu istirahatlah, maaf aku tidak bisa menemani.” Jawabnya lalu memberikan kecupan hangat di kening dan bibir Abi.


Kini Reno sudah berada di dalam ruang kerjanya. Masalah yang sedang dialami bukanlah masalah yang ada di perusahaannya, melainkian di perusahaan mertuanya, yaitu Sean.


Diam-diam selama ini Reno memantau perkembangan perusahann Sean pasca salah satu investornya mencabut sahamnya secara sepihak. Dan tanpa sepengetahuan Sean, rupanya Tuan Alteza masih menaruh dendam padanya. Dan hal itu diketahui oleh Reno.


Memang keberadaan Tuan Alteza di perusahaan Sean selama ini sangat berpengaruh. Sedikit saja pria itu bertindak, bisa jadi perusahaan Sean akan hancur. Meskipun Sean sendiri terkenal pengusaha yang cerdik. Karena sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga.


Beruntungnya Reno yang masih mempunyai hubungan dekat dengan Tuan Alteza, maka dengan mudah dia mengetahui rencana busuk pria itu. Dan kali ini Reno yang akan bertindak sendiri. Tanpa memberitahu Sean pastinya.


“Setidaknya dengan cara ini, Tuan Alteza kesulitan menghancurkan perusahaan itu.” Gumam Reno setelah menjalankan rencananya.


Pukul dua belas malam Reno baru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu dia mematikan laptopnya dan bersiap untuk istirahat.


Ketika memasuki kamar, suasana tampak temaram. Dan saat Reno mendekati ranjang, terdengar dengkuran halus dari istrinya. Reno pun mengganti pakaiannya dulu sebelum ikut bergabung menyusul istrinya ke alam mimpi.


Reno sudah berbaring di sebelah Abi, namun tiba-tiba saja Abi bergerak dan memeluk tubuh Reno dengan erat sambil terisak lirih.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2