
“Buatkan cucu yang banyak untuk Daddy!”
Seketika wajah Abi memanas mendengar permintaan mertuanya yang baru kali ini ia bertemu. Bahkan dia bingung untuk menjawabnya. Terlebih hubungannya dengan sang suami belum membaik sepenuhnya.
“Apakah Nak Abi bersedia?” sekali lagi Tuan Hadiata bertanya. Karena ia melihat menantunya sejak tadi hanya diam tidak menimpali ucapannya sama sekali.
“Sedikasihnya sama Tuhan saja, Dad.” Sahut Reno membantu istrinya yang tidak bisa menjawab.
“Ah kamu ini. Daddy minta cucu yang banyak itu karena nanti Daddy tidak ingin kalau kamu hanya punya satu anak saja seperti kamu. Rumah jadi sepi. Kalau banyak anak kan rame. Bukan begitu Nyonya Lidia, Tuan Sean?” ucap Tuan Hadiata sekaligus meminta pendapat pasangan Sean dan Lidia.
“Benar sekali Tuan. Dan saya mengalaminya sendiri. Saya juga sejak kecil tidak punya saudara. Dan kini menikah dengan Mamanya Viana, mempunyai empat anak.” Curhat Sean jujur.
Suasana pun menjadi lebih hangat. Semua orang dalam ruangan itu sudah tampak saling akrab. Reno sejak tadi mencuri pandang terhadap istrinya juga ikut menyunggingkan senyum saat melihat wanitanya tersenyum hangat menyambut kedatangan Daddy-nya.
Tuan Hadiata berada di rumah Sean sampai malam. tepatnya setelah makan malam, beliau berpamitan pulang. di sinilah Reno mulai bimbang. Tidak mungkin ia membiarkan Daddy-nya sendirian tinggal di rumahnya. Namun jika ia pulang, bagaimana istrinya jika membutuhkan sesuatu seperti tadi malam.
“Nak Reno ikut pulang saja menemani Daddy. Jangan khawatirkan Viana.” ucap Lidia yang mengerti kegundahan hati menantunya.
“Memangnya menantuku tidak ikut suaminya?” tanya Tuan hadiata baru tahu.
“Ehm, istri Reno sengaja tinggal bersama Mama karena takut ada apa-apa nanti saat mendekati lahiran, Dad. Dan Reno lah yang tinggal di sini.” jawab Reno berusaha menutupi masalah tentang rumah tangganya. Dia tidak ingin membuat Daddy-nya berpikiran buruk.
“Oh begitu. Ya sudah tidak masalah jika Daddy sendirian di rumah kamu. Kamu tetaplah di sini. kasihan istri kamu nanti kalau butuh apa-apa.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Dad. Biar Reno menemani Daddy dulu. Abi janji nanti pasca melahirkan akan pulang kembali ke rumah Reno.” Ucap Abi meyakinkan mertuanya.
Akhirnya malam itu Reno pulang bersama Daddy-nya. Terpaksa dia meninggalkan istrinya sendiri tinggal di rumah mertuanya. Padahal Abi sama sekali tidak keberatan. Justru Reno lah yang merasa berat harus berjauhan dengan istrinya.
Tuan Hadiata juga telah memutuskan untuk sementara tinggal di Indonesia. Setidaknya sampai cucunya lahir. Karena telah lama pria itu menantikan cucu dari anak tunggalnya. Tuan Hadiata juga akan berencana berziarah ke makam sahabatnya. Mungkin nanti menunggu Reno mempunyai waktu lenggang.
Waktu pun berlalu begitu cepat. Akhirnya Reno meminta Chiko untuk sementara waktu tinggal di rumahnya untuk menemani Daddy-nya. Sedangkan ia harus tinggal di rumah mertuanya.
Hubungan Reno dan Abi juga perlahan membaik. Meskipun demikian, Abi masih belum memperbolehkan suaminya untuk tidur satu kamar dengannya. Entahlah, Abi ingin menguji suaminya sampai sejauh mana.
Meskipun Reno tinggal di rumah mertuanya, namun ia masih sering bolak-balik ke rumahnya sendiri. Usai pulang dari kantor dia langsung menuju rumah mertuanya. Namun hari ini Reno belum pulang ke rumah mertuanya. Tidak biasanya pria itu datang sampai selarut ini. di saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. dan hal itu membuat Abi khawatir.
Sejak tadi, usai makan malam Abi masuk ke dalam kamarnya. Perasaannya tidak enak saat makan malam tidak menemukan keberdaan sang suami. ingin mengirim pesan untuk bertanya, tetap rasa gengi masih menyelimuti hatinya. Bahkan dia sampai keluar masuk kamar dengan alasan mengambil minum, membuat susu hanya untuk memastikan kalau Reno sudah datang. Tapi ternyata tidak.
Abi menyandarkan tubuhnya pada sofa sambil mengusap perutnya yang sudah membesar. Ada rasa tidak sabar dalam dirinya untuk menanti kelahiran sang buah hati.
Cklek
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbukia dengan pelan. Suasana ruangan tampak temaram karena sebagian lampu inti sudah dimatikan. Terlihat Reno sedang berjalan pelan, dan Abi bisa melihatnya.
“Bi?” suara Reno menginterupsi untuk memastikan bahwa perempuan yang sedang duduk bersandar itu adalah istrinya.
Abi tidak menjawab. Dia memperbaiki posisi duduknya lalu mengangguk samar pada Reno. Perempuan itu menelisik pakaian suaminya bukan pakaian kantor, melainkan pakaian santai. Lalu kenapa sampai selarut ini dia datang. Sejak tadi kemana saja. batin Abi bermonolog sendiri.
__ADS_1
“Kenapa kamu di sini?” tanya Reno memberanikan diri duduk di samping Abi.
“Nggak bisa tidur.” Jawabnya jujur. Karena sejak usia kehamilannya menginjak tujuh bulan, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tak jarang ia juga sulit untuk mengawali tidur malamnya. Ditambah lagi tubuhnya yang selalu gerah, meskipun sudah menggunakan pendingin ruangan.
“Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Reno dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Abi.
“Sudah biasa aku tidak bisa tidur seperti ini. tidur juga sudah tidak nyaman. Kamu istirahatlah sudah malam.” jawabnya lalu mengubah topik pembicaraan.
Sebenarnya Reno datang larut malam karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Namun tiba-tiba saja dia khawatir dengan keadaan istrinya jika perempuan itu membutuhkan sesuatu.
“Bagaimana aku bisa tidur jika kamu saja di sini sendirian.”
“Maukah kamu mengusapnya?” tanya Abi pelan dengan tatapan tertuju pada perut buncitnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1