Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 145 Bersikap Biasa


__ADS_3

“Benarkah?” tanya Lidia memastikan.


Abi menganggukkan kepalanya dengan ragu. Dia juga khawatir akan disalahkan oleh Mamanya karena hamil lagi di saat usia Raffael masih kecil.


“Mama senang mendengarnya, Sayang! Cucu Mama akan nambah lagi.” ucap Lidia sambil mengulas senyum menatap suaminya.


“Kamu harus cepat sehat, Vi! Meskipun usia Raffael masih kecil, kalian tetap harus menyayanginya.” ucap Lidia memberi semangat pada anaknya.


Akhirnya Abi merasa lega setelah mendapat semangat dan dorongan dari Mamanya. Mereka cukup lama menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang sebelum akhirnya Lidia dan Sean berpamitan pulang.


“Mama dan Ayah pulang dulu ya, Sayang! Oh iya, selama kamu dirawat di sini biar Bu Mira tinggal sementara di rumah Mama agar ada yang membatu mengawasi Raffael. Mama juga sangat merindukan cucu Mama.” Pinta Lidia sebelum berpamitan pulang.


Setelah mertuanya pulang, kini hanya Reno yang menemani sang istri.


“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Reno sambil mengusap perut rata istrinya.


“Tidak ada. Kamu istirahatlah, kamu juga pasti capek karena sejak tadi belum istirahat sama sekali.” Abi justru mengkhawatirkan suaminya.


“Nanti saja. Sayang, aku akan menggantikan waktuku di kehamilanmu yang kdua dan seterusnya nanti, karena saat kehamilan Raffael dulu aku hanya memberikan sedikit waktu untuk menemanimu. Maka dari itu katakan saja padaku jika kamu menginginkan sesuatu. Aku berjanji akan mengabulkannya.” Ucap Reno dengan sungguh-sungguh.


“Terima kasih banyak Reno. Kamu cukup berada di sampingku saja sudah lebih dari cukup. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti kamu.”


**


Meskipun keadaan Abi sudah lebih membaik, namun nyatanya dokter masih belum memperbolehkannya pulang. Reno juga di kantor masih banyak pekerjaan. Apalagi setelah dua minggu ditinggal berlibur. Namun ia juga sulit untuk meninggalkan istrinya yang masih di rumah sakit.


“Nggak apa-apa, Ren. Aku di sini sendiri. Sebentar lagi Chelsea juga akan datang kesini, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.” Abi berusaha meyakinkan suminya. Dan memang benar kalau semalam ia sempat bertukar pesan dengan sahabatnya dan mengatakan kalau saai ini dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Hal itu membuat Chelsea terkejut.

__ADS_1


Reo menghembuskan nafasnya pelan, “ya sudah kalau begitu, aku ke kantor dulu. Aku usahakan nanti akan pulang cepat.” Ucapnya lalu meninggalkan kecupan di kening Abi.


Beberapa menit setelah Reno pergi ke kantor, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah Chelsea dengan membawa sekeranjang buah segar.


“Vi, bagaimana keadaan kamu? Kenapa bisa seperti ini?” ucap Chelsea dan berhambur memeluk Abi.


Abi hanya tersenyum tipis menanggapi kekhawatiran sahabatnya. Setelah itu ia menceritakian kalau dirinya hanya kelelahan saja setelah berlibur ke luar negeri. Abi juga mengatakan kalau dirinya tengah hamil.


“Serius kamu, Vi?” Chelsea sangat terkejut.


“Iya.” Jawab Abi sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Chelsea ternyata juga sangat senang mendengar kabar baik dari sahabatnya itu. Dia hanya berdoa semoga kehamilan Abi yang kedua itu diberikan kesehatan baik untuk ibunya maupun calon buah hatinya.


“Terima kasih banyak, Chel. Semoga kamu lekas menyusul.”


Mendadak raut wajah Chelsea berubah sendu. Padahal selama beberapa hari ini ia berusaha melupakan kejadian memilukan itu. Tapi kini Abi justru mengatakan agar dirinya segera menyusul, yang artinya menyusul untuk menjalin kehidupan berumah tangga. Dan semenjak kejadian itu, Chelsea sudah memutuskan tidak akan menjalin rumah tangga dengan siapapun, terlebih mahkotanya sudah direnggut paksa.


“Aku nggak apa-apa, kok Vi.” Mulut Chelsea berucap tidak apa-apa, namun tangannya mengusap sudut matanya yang berair.


“Kamu tidak bisa membohongiku, Chelsea! Ceritakan padaku, ada apa sebenarnya?” tanya Abi penasaran setelah tahu kalau kekasih sahabatnya bukanlah pria baik-baik. Apa mungkin Chelsea bersedih karena Jo telah menghianatinya.


“Nggak ada apa-apa kok, Vi.” Chelsea tetap bersikukuh tidak ingin menceritakan kejadian pahit itu.


“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Jo? Apakah dia yang membuatmu bersedih?” Abi semakin penasaran.


“Aku sudah putus dengan Jo.” Hanya itu jawaban Chelsea tanpa memberitahu tentang kebejatan Jo, karena dirinya juga tidak lebih baik dari Jo.

__ADS_1


“Kenapa kalian put-“


“Sudahlah, Vi! Jangan ungkit masalah itu lagi. kedatanganku ke sini justru untuk menghibur kamu yang sedang sakit, bukan malah menghiburku.” Chelsea dengan cepat memotong ucapan Abi, karena tidak ingin lagi membahas kandasnya hubungan dirinya dengan Jo yang berujung kesuciannya direnggut oleh pria yang sangat dia benci.


Akhirnya Abi hanya mengangguk paham. Mungkin memang sahabatnya tidak ingin lagi mengingat mantan kekasihnya. Dan bukankah itu lebih baik? Jadi ia bisa meminta Chiko untuk semakin dekat dengan Chelsea.


Setelah itu Chelsea mengupas buah apel untuk sahabatnya. Karena menurutnya bahwa ibu hamil sangat membutuhkan banyak nutrisi. Setelah selesai mengupas dan memotongi buah itu menjadi kecil-kecil, Chelsea memberikannya pada Abi.


Mereka berdua tampak asyik berbincang sambil bersenda gurau. Bahkan tanpa sadar Chelsea menemani Abi sampai siang. Lebih tepatnya saat jam makan siang tiba.


Cklek


Senyum mengembang yang sejak tadi terukir di bibir Chelsea memudar seketika setelah melihat kedatangan pria yang ingin ia hindari.


“Siang, Vi?” sapa Chiko dengan membawa paper bag berisi makanan.


Mata Chiko juga tak lepas dari Chelsea yang sedang duduk di samping brankar Abi. Chelsea berusaha bersikap biasa walau hatinya sangat sakit karena bayangan kejadian itu muncul lagi. lagi pula Chelsea ssadar betul kalau saat itu Chiko sedang dalam keadaan mabuk dan tidak tahu siapa sosok wanita yang telah ia gagahi.


“Aku sudah lebih baik, Om.” Jawab Abi.


“Vi, aku pulang dulu ya? Ini baru saja dapat pesan dari Mama kalau butik sedang ramai.” Pamit Chelsea tiba-tiba.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2