Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 16 Wanitaku


__ADS_3

Chiko terkejut setelah mendengar cerita Abi. Namun dia tidak mau serta merta memberitahu Reno tentang kejadian yang sebenarnya. Dia tidak mau dianggap sahabatnya termakan oleh berita bohong dari Abi, mengingat Reno sedang berhubangan baik dengan Gavin.


“Terima kasih sudah menjelaskan semuanya. Tapi maaf, bukannya aku tidak mempercayai semua cerita kamu, tapi lebih baik aku menyelidikinya terlebih dulu.” Ucap Chiko.


Abi menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap Chiko. Sunggah senyum yang sangat membuat hati Chiko berantakan.


“Nggak apa-apa, Om. Setidaknya saya lega bisa menceritakan semua ini.” jawab Abi.


“Oh iya, tolong jangan terlalu formal.” Ucapnya dan sekali lagi Abi menjawab dengan anggukan kepala.


Cukup lama Chiko dan Abi berada di café itu. Bahkan waktu hampir petang. Abi bersyukur bisa bertemu dengan Chiko yang menurutnya sangat nyaman diajak bicara. Chiko juga merasakan hal yang sama.


Chiko banyak bertanya tentang sosok Abi. Dia tidak menyangka kalau perempuan itu adalah salah satu putri dari pengusaha sukses Sean Gabriel. Meskipun Chiko tidak mengenal Sean, tapi dia cukup tahu siapa Sean sebenarnya.


“Kamu salah memilih lawan, Ren jika kamu sampai menyakiti Viana.” Gumam Chiko sambil membayangkan kesalahan yang dibuat Reno terhadap Viana.


Sejenak Chiko meraih ponselnya dari saku celananya. Disana banyak panggilan masuk dari Reno. Tidak hanya itu, Reno juga mengirim banyak pesan bernada ancaman pada sahabatnya itu. Tentunya kalau tidak segera memulangkan Viana.


Chiko tersenyum sisni saat membaca pesan dari Reno. Dia sama sekali tidak takut dengan ancaman Reno. Kemudian dia membalas singkat pesan Reno.


“Jika kamu menyakiti Viana lagi, aku tidak segan-segan membawanya kabur.”


Tak lama setelah mengirim pesan itu, Reno langsung melakukan panggilan pada Chiko. Namun Chiko mengabaikannya. Bahkan pria itu langsung me-non aktifkan ponselnya.


“Sudah petang, Vi. Lebih baik aku antar kamu pulang.” ucap Chiko.


Tampak raut kekecewaan dari wajah Abi setelah mendengar Chiko akan mengantarnya pulang. padahal dia baru saja merasakan lega setelah cukup lama menghirup udara luar.


“Kamu tenang saja! Reno tidak akan lagi berbuat kasar padamu.” Ucap Chiko menenangkan.


“Tapi aku ingin bebas, Om!” ucapnya lirih.


“Kamu tenang saja. aku akan menyelidiki pria itu dulu. Dan lebih baik saat ini kamu mengikuti perintah Reno saja. dan aku berani jamin kalau dia tidak akan lagi berbuat kasar padamu.”

__ADS_1


Setelah cukup yakin dengan ucapan Chiko, akhirnya Abi mau diantar pulang ke rumah Reno. Dia juga sangat lelah dan butuh istirahat.


“Viana!!” panggil seseorang saat baru saja Abi akan melangkah keluar café.


Abi menoleh ke sumber suara. Suara yang sangat tidak asing, yaitu Chlese. Sahabatnya.


Kedua perempuan itu saling berpelukan seperti biasa. Sedangkan Chiko masih menyaksikan kehebohan dua orang perempuan di hadapannya itu.


Chiko mengingat jelas dengan sosok perempuan yang saat ini sedang bersama Abi. Perempuan jutek yang memarahinya saat pertama kali bertemu di mall dulu.


“Vi, bukankah dia yang dulu… jangan-jangan dia sugar daddy yang menjadi suami kamu?” tanya Chelsea dengan suara lantang dan sangat jelas didengar oleh Chiko.


Abi sangat malu mendengar ucapan sahabatnya. Seketika itu Abi membekap mulut Chelsea lalu membisikkan sesuatu. Chelsea tampak manggut-manggut sambil sesekali melihat wajah Chiko.


“Ya sudah, aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi.” pungkas Abi dan segera pergi meninggalkan café.


“Hati-hati! Om, tolong jaga anak gadis itu!” teriak Chelsea pada Chiko. Sedangkan Chiko membalasnya dengan tatap acuh.


Sesampainya di rumah Chiko, Abi segera melepas jasnya dan memberikannya pada Chiko. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada pria itu karena telah menemaninya.


“Bagus ya sekarang kamu sudah mulai berani melawanku?” ucap Reno menghentikan langkah Abi yang hendak memasuki kamarnya.


Tubuh Abi bergetar saat Reno mulai berjalan mendekatinya. Dia takut Reno akan berbuat kasar lagi padanya, seperti saat di kantor tadi.


“Berapa memangnya Chiko membayar tubuh kotormu itu? Gagal merayuku, lalu kamu merayu sahabatku? Apakah kamu sudah mendapat kepuasan? Aku ingatkan sekali lagi, Bi! Selama kamu masih menjadi pelayanku, jangan sekali-kali kamu mencoba mendekati pria lain termasuk Chiko. Nanti kalau pekerjaanmu sudah selesai, aku sendiri yang akan merekomendasikan kamu ke tempat prosti****si mana yang cocok denganmu.” Ucap Reno sambil memandang rendah tubuh Abi yang masih memakai pakaian minim yang digunakan saat pemotretan tadi.


Entahlah ada rasa tidak rela saat melihat Vibi-nya baru saja pulang diantar oleh sahabatnya. Reno juga tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Walu tidak melakukan perbuatan kasar seperti tadi, setidaknya dengan ucapannya baru saja dia pikir bisa membuat Vibi-nya takut dan kembali menurut seperti semula.


Abi yang semula menatap takut wajah Reno, setelah mendengar kalimat hinaan itu dia hanya menundukkan kepalanya. Menyimpan kesedihannya sendiri. Air matanya terlalu berharga jika harus ditunjukkan pada pria tak berperasaan seperti Reno.


Sekuat tenaga Abi membendung air mata dan rasa sesak dalam hatinya. Dengan menarik nafas perlahan, ia kembali mencoba menatap mata Reno.


“Saya ijin masuk dulu, Tuan!” ucapnya dan segera berlalu.

__ADS_1


Setelah menutup pintu kamar, tubuh Abi langsung merosot ke bawah. Air matanya sangat deras mengalir membasahi pipinya. Abi menumpahkan kesedihannya sendirian. Namun ini lebih baik daripada harus dilihat oleh orang yang salah, yang jelas akan menertawakannya.


Sedangkan Reno yang masih berdiri di depan pintu kamar Abi, ada rasa bersalah dalam hatinya setelah mengucapkan kalimat hinaan tadi. tapi tidak ada sedikitpun Reno berniat untuk meminta maaf.


Setelah itu Reno pergi menuju kamarnya. Ternyata baru saja melangkah, Chio sudah berdiri di hadapannya. Reno tampak acuh melihat sahabatnya.


“Apakah kamu puas setelah menghinanya, Ren?” tanyanya dengan nada datar.


“Itu bukan urusanmu!” jawab Reno cuek lalu berjalan masuk ke ruang kerjanya. Chiko pun ikut.


Reno duduk di kursi kerjanya. Mengabaikan sahabatnya yang kini duduk di sofa tak jauh dari tempatnya.


“Entah apa yang membuatmu selalu menyakiti Viana, Ren. Yang aku tahu, semenjak kehadiran perempuan itu, ada yang berbeda denganmu.” Ucap Chiko tanpa melihat Reno.


“Ck, dari apa yang sudah aku ceritakan dan yang sudah kamu lihat tadi itu cukup menjawab pertanyaanmu.”


“Kenapa kamu nggak mencoba untuk menanyakan alsan Viana melakukan itu?”


“Itu tidak penting dan kamu jangan sekali-kali ikut campur dengan urusanku. Meskipun kamu sahabatku sejak dulu.”


“Baiklah. Aku tidak akan lagi mencampuri urusan kamu. Tapi ingat, kalau sampai aku masih melihat kamu berbuat kasar pada Viana, aku tidak segan-segan akan membawanya pergi. Aku tidak peduli sekalipun nyawaku sendiri taruhannya.” Ucap Chiko lalu melenggang pergi meninggalkan Reno.


Dengan gerakan cepat Reno menarik tubuh Chiko lalu memutar tubuh pria itu dan mencengkeram kerah kemeja Chiko.


“Sekali saja kamu berani menyentuh wanitaku, nyawa kamu melayang!” ancam Reno penuh intimidasi.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2