
Memang selama ini hubungan Reno dengan Daddy-nya sedang tidak baik. Namun mendengar kabar buruk itu, Reno terkejut sekaligus ada rasa sesal dalam dirinya yang seolah tidak peduli terhadap orang tua tunggalnya.
Hari itu juga Reno terbang ke luar negeri untuk pulang ke rumah Daddy-nya. Rumah yang sudah bertahun-tahu ia tinggalkan semenjak perseteruan itu.
“Kamu jangan khawatir untuk urusan kantor, biar aku dan Yoga yang menangani semuanya. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan Daddy.” Ucap Chiko saat mengantar Reno ke bandara.
Reno terdiam sejenak. Bukan masalah kantor yang membuatnya berat untuk pergi. Tapi tentang Abi, istrinya. Pencariaannya sudah berbulan-bulan tidak membuahkan hasil, kini dia diterpa masalah baru lagi.
“Mungkin sebaiknya kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan Daddy, Ren! Setelah itu kamu mintalah doa dan restu untuk mencari Viana.” ucap Chiko seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
Reno mengangguk dan tak lama setelahnya ia segera menuju gate penerbangan. Karena lima belas menit lagi pesawat yang dia tumpangi akan take off.
Chiko menatap punggung Reno yang semakin tak terlihat. Pria itu juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Reno beberapa bulan terakhir ini. dan ini adalah masalah terberat yang Reno alami sepanjang kisah hidupnya.
“Aku yakin semua akan indah pada waktunya, Ren! Perjuanganmu masih panjang untuk menemukan dimana Viana. kamu jangan khawatir, aku juga akan selalu berada di sisi kamu.” Gumam Chiko dengan sendu.
**
Dalam perjalanan menuju negara kelahirannya, Reno terus diam. pikirannya berkecamuk. Masalah yang satu belum selesai, ditambah lagi masalah baru, yang juga sama-sama beratnya. Namun dalam hati Reno tetap optimis kalau Tuhan tidak akan diam dan membiarkan umatnya berjuang di luar batas kemampuannya. Selama ia masih mampu, ia akan terus berjuang menemukan istrinya, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahannya.
Setelah belasan jam berada dalam pesawat, akhirnya Reno tiba di sebuah kota kecil dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Hawa dingin khas kota itu membawa Reno terbang ke masa lalunya. Seketika itu dadanya sesak saat mengingat mendiang Mommy-nya. Dan kini dia datang karena kabar buruk tentang Daddy-nya.
__ADS_1
Pikiran buruk Reno pun datang. Bagaimana jika hal buruk terjadi pada Daddy-nya? Pria itu menggelengkan kepalanya pelan menolak asumsi itu. Akhirnya Reno bertekat menyelesaikan masalahnya dengan Daddy-nya setelah itu barulah mencari Abi lagi.
Beberapa saat kemudian Reno sudah tiba di rumah sakit. Dia langsung menuju ruangan dimana Daddy-nya dirawat. Karena Reno tiba dini hari, ruangan itu terlihat sepi. Bahkan Daddy-nya terlihat sedang nyenyak dalam tidurnya.
Pria tua yang dulu memiliki tubuh tegap itu kini tampak lemah. Reno berjalan mendekat lalu duduk di tepi brankar Daddy-nya.
Tadi Reno sudah mendapat kabar kalau keadaan Daddy-nya sudah berangsur membaik setelah tekanan darahnya sempat tinggi. Sebenarnya Tuan Hadiata sudah tiga hari dirawat di rumah sakit. Dan dua hari berada dalam ruangan intensif. Karena tidak tega dengan keadaan Tuannya, akhrinya asiseten pribadi Tuan Hadiata menghubungi putra sat-satunya, yaitu Reno.
Tangan Reno menggenggam tangan Daddy-nya yang kulitnya sudah keriput itu. Di usianya yang sudah tujuh puluh tahun lebih, pria itu masih semangat menangani perusahaannya. Meskipun tidak terjun langsung. melainkan menyuruh asistennya.
“Reno? Kamukah itu?” tanya Tuan Hadiata saat merasa ada yang menggenngam tangannya.
Suara lemah sang ayah membuat hati Reno ikut melemah. Padahal terakhir kali mereka bertemu, sempat terjadi perdebatan sengit dengan suara sama-sama lantang.
Rasanya Tuan Hadiata mempunyai semangat untuk sembuh saat melihat sosok yang sudah lama ia rindukan ada di sampingnya. Lalu tangan pria itu terulur menyentuh wajah Reno. Entah kenapa dia melihat raut kesedihan dari wajah putranya.
“Kamu baik-baik saja, Nak?” tanya Tuan Hadiata dengan lemah.
“Reno sangat baik, Dad. Sekarang lebih baik Daddy istirahat lagi.” jawab Reno lalu pria tua itu mengangguk.
***
__ADS_1
Sementara itu Abi kini masih tinggal di rumah Xander. Kehamilannya yang menginjak usia lima bulan itu membuat Abi benar-benar menikmati rasanya menjadi calon ibu. Awalnya ia memang tidak menginginkan anak itu. Namun seiring berjalannya waktu, lama-lama Abi sangat mencintai calon buah hatinya. Meskipun hatinya sampai saat ini masih membenci suaminya.
Entah benci atau rindu, Abi benar-benar tidak mampu membedakan. Dia memang masih meminta Xander untuk menutup semua akses tentang dirinya dari Reno. Namun dalam hati kecilnya berharap Reno bisa menemukan keberadaannya. Sedangkan Lidia sejak awal sudah membebaskan dirinya untuk berbuat apapun. Termasuk tidak memberikan Reno celah agar tidak mencarinya lagi. Lidia hanya berharap agar Abi bisa menjalani kehamilannya dengan tenang tanpa ada tekanan.
Saat ini Abi sedang duduk di teras depan rumah setelah pagi ini jalan-jalan di halaman rumah. perutnya yang sudah membesar itu membuatnya sering merasa kelelahan. Tapi dia sangat senang, terlebih bisa merasakan reaksi calon anaknya yang sudah bergerak-gerak aktif.
“Minum dulu, Vi! Ini jus wortel tanpa es sangat bagus untuk kesehatan kamu. Apalagi buat calon cucu Tante.” Ucap Silvia lalu ikut duduk bergabung dengan Abi.
“Terima kasih, Tan.” Jawab Abi sambil tersenyum kemudian meminum jus itu.
“Apa kamu tidak ingin tinggal di rumah orang tua kamu, Vi? Maaf, bukannya Tante ngusir kamu. Tante hanya-“
“Viana tahu maksud Tante. Nanti kalau dekat waktu lahiran Viana memang berniat pulang ke rumah Mama.” Abi memotong ucapan Silvia.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️