Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 169 Alasan!


__ADS_3

Hari ulang tahu Raffael pun tiba. Kini rumah Reno sudah disulap penuh dengan hiasan khas karakter tokoh super hero kesukaan Raffael. Bocah yang usianya sudah genap satu tahun itu tampak senang melihat kemeriahan pesta.


Semua keluarga yang hadir tampak membawa kado dan langsung diberikan pada Raffael. Lag-lagi Raffael berteriak kegirangan saat menerima banyak kado.


Setelah acara tiup lilin dan dilanjutkan potong kue, kini semua keluarga dipersilakan menikmati hidangan pesta yang sudah disiapkan.


Di sudut ruangan itu tampak pasangan yang sudah tidak muda lagi. mereka adalah Sean dan Lidia. Mereka sangat bahagia melihat anak cucunya berkumpul dan hidup rukun.


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah menemaniku sampai saat ini. saat usia kita sudah tidak muda lagi.” ucap Sean sembari menggenggam tangan sang istri.


“Justru aku yang sangat berterima kasih padamu. Kamu mau menemaniku dan membesarkan anak-anakku yang bukan darah daging kamu. Bahkan kamu menyayangi mereka seperti anak kamu sendiri sampai mereka sudah berumah tangga seperti sekarang ini.”


“Sudah, jangan bilang seperti itu lagi. Aku hanya berharap selamanya hanya ada kamu yang menemaniku sampai ajal menjemput.” Lanjut Sean lalu memeluk istrinya dengan erat.


Ternyata sejak tadi interaksi sepasang kakek dan nenek itu disaksikan oleh anak-anak mereka. Akhirnya Chandra, Abi, Kavi, dan Mirza pun mendekati orang tua mereka.


“So sweet sekali sih Ayah dan Mama.” Ucap Mirza dan berhasil merusak keromantisan Sean dan Lidia.


“Ah kalian mengganggu saja.” gerutu Lidia.


Setelah itu Lidia meminta anaknya untuk mendekat. Dia memeluk keempat anaknya secara bergantian. Begitu juga dengan Sean. Jadilah momen pesta ulang tahun Raffael menjadi momen pesta yang sangat mengharukan.


“Yah, Ma, bagaimana kalau kita sekeluarga mengadakan liburan?” usul Chandra tiba-tiba.


Sean dan Lidia saling lirik kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ide anak sulungnya.

__ADS_1


“Sepertinya bukan ide yang buruk. Tapi kondisikan jadwal pekerjaaan kalian dulu. Nak Reno juga pastinya sangat sibuk dengan urusan kantornya. Dan Mama sarankan kalau liburannya dekat-dekat saja. Mama nggak mau nantiAbi kelelahan dan terdampak pada janinnya.” Tutur Lidia panjang lebar.


“Iya, Ma. Reno ngikut saja. untuk urusan kantor sudah ada yang menghandle asal tidak ada jadwal meeting dengan klien.” Sahut Reno.


“Bagaimana kalau kita liburannya ke kota B saja, Ma, Yah? Kebetulan Chan dan Viana juga akan berziarah ke makam Papa.” Usul Chandra lagi.


“Baiklah. Ayah sangat setuju.” Ucap Sean.


Ternyata pesta ulang tahun itu tidak berakhir sampai di situ saja. setelah semua orang menikmati hidangan sambil bersenda gurau, kini mereka menyaksikan kehebohan Raffael yang membuka kado.


Reno dan Abi yang sejak tadi duduk mengapit sang anak juga ikut senang melihat keantusiasan anaknya yang ingin segera membuka semua kadonya. Tanpa terasa Abi menitikan air matanya saat melihat binar keceriaan yang terpancar dari wajah Raffael.


Semua orang ikut bersorak pada Raffael untuk segera membuka kadonya. Bocah itu masih kesusahan untuk membuka bungkus kadonya. Wajahnya bercampur kesal sekaligus penasaran. Dan hal itu semakin membuat orang-orang sangat gemas. Akhirya Raffael menangis karena tidak berhasil membukanya.


**


“Terima kasih banyak atas kehadiran kalian.” ucap Reno pada Chiko dan Chelsea.


“Baiklah. Kita pulang dulu, Ren.” Jawab Chiko kemudian.


Kini Chiko dan Chelsea sedang dalam perjalan pulang. beberapa hari setelah menikah, Chiko mengajak sang istri tinggal di apartemen. Mungkin nanti jika anak mereka sudah lahir, Chiko akan membeli hunian kecil untuk keluarga kecilnya. untuk saat ini dia masih nyaman tinggal di apartemen.


Waktu masih sore, dan kebetulan tidak ada kegiatan apapun. Sebenarnya Chiko pamit pulang lebih dulu agar istrinya tidak terlalu kelelahan.


“Mas, aku ingin makan es krim.” Ucap Chelsea tiba-tiba.

__ADS_1


“Baiklah. Sebentar lagi kita melewati mini market. Aku akan belikan.” Jawab Chiko dengan tatapan lurus ke depan.


“Nggak mau. Aku mau makan di tempat. Kita belinya di mall. Aku dulu sering makan es krim di sana.”


Chiko menoleh ke arah istrinya setelah mendengar permintaan sang istri untuk makan es krim di tempatnya.


“Sayang, apa kamu nggak kelelahan? Kita beli saja lalu dimakan di rumah ya?” bujuk Chiko, namun Chelsea justru menunjukkan wajah cemberutnya.


Chiko hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dan ini adalah pertama kali baginya menghadapi mood swing istrinya. Dia juga pernah diingatkan oleh mama mertuanya kalau menghadapi mood swing istri yang sedang hamil harus memiliki stok sabar yang banyak. Akhirnya Chiko pun menuruti keinginan sang istri.


“Baiklah, kita pergi ke sana. Tapi jangan manyun gitu dong, Sayang!” ucap Chiko.


Benar saja, Chelsea langsung mengembangkan senyumnya dan mencium sekilas pipi sang suami.


Cup


“Ayo buruan! Dia sudah tidak sabar ingin makan es krim.” Ucap Chelsea sambil mengusap perutnya yang masih rata.


“Alasan!!” batin Chiko.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2