
Mendengar suara berisik akhirnya Sean dan Lidia bangun. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan waktu masih sangat pagi. lalu netranya tertuju pada brankar Abi dimana di sana sedang ada Reno yang duduk di samping Abi.
“Nak Reno?” Lidia mendekati brankar Abi menyapa menantunya.
Reno menengok lalu ia melihat Lidia dan Sean sudah berdiri di belakangnya. Kemudian dia berdiri dan mencium tangan mertuanya dengan takzim. Reno mengucapkan permohonan maafnya karena tidak bisa mendampingi sang istri melewati masa sulitnya saat melahirkan. Bahkan sudah merepotkan mertuanya.
“Mama tahu kalau Nak Reno pasti sibuk dengan pekerjaan. Kami memakluminya.” Ucap Lidia.
“Tapi ya gitu, istri kamu sejak tadi nangis terus mencari kamu tidak bisa dihubungi sama sekali-“
“Ayah!!” teriak Abi tidak terima karena diledek Ayahnya.
Sedangkan ketiga orang itu hanya terkekeh pelan melihat Abi yang sedang mengerucutkan bibirnya.
Reno istirahat sejenak di sofa yang ada di ruangan itu. Sementara Lidia membantu anaknya yang ingin pergi ke kamar mandi. Abi melihat dengan jelas raut kelelahan di wajah sang suami, jadi ia membiarkan suami istirahat sejenak.
Selama Abi dan Lidia berada di dalam kamar mandi, Sean mendekati Reno untuk menanyakan masalah apa yang tengah dihadapi menantunya itu.
Sebenarnya Reno paling tidak suka membagi masalahnya selama ia masih bisa menyelesaikannya sendiri. Namun melihat tatapan mertuanya yang sangat ingin tahu, akhirnya ia menjelaskan apa yang sedang dialami perusahaannya.
“Kamu yang sabar, Ayah akan membantumu.” Ucap Sean.
__ADS_1
“Tidak perlu, Yah! Reno akan mengatasinya sendiri. Lagi pula sudah ada Chiko yang membantu Reno.” Tolak Reno dengan halus.
Sean yang mengerti watak keras kepala menantunya, akhirnya dia cukup menjawab dengan anggukan kepala. Namun dalam hatinya ia akan tetap membantu Reno. Mengingat Reno juga pernah membantunya untuk menyelamatkan perusahaan yang hampir tumbang.
Matahari perlahan sudah keluar dari tempat peraduannya. Pintu ruang rawat Abi terbuka dan terlihat seorang perawat masuk sambil mendorong brankar tempat bayi. Mata Reno yang sejak tadi terlihat sayu kini tampak berbinar saat melihat sosok mungil nan tampan ada di hadapannya.
Reno mendekati anaknya. dia menatap haru bayi itu. Tanpa sadar air matanya keluar dengan hanya melihat anugerah terbesar dari Tuhan.
Reno menggendong bayi itu dengan sangat hati-hati, lalu menciumnya dengan perasaan mendalam. Sejak dulu tidak pernah terbesit sama sekali untuk hidup berumah tangga. Apalagi mempunyai seorang anak. Namun semenjak Abi masuk ke dalam hidupnya, dia bisa merasakan perubahan itu. Meskipun pernikahannya penuh liku.
Sambil terus mendekap bayi itu, Reno berharap semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada badai lagi dalam rumah tangganya. Walau tidak bisa dipungkiri bahaya sedang mengancamnya.
Reno berbicara cukup serius dengan Chiko melalui sambungan telepon. Bahkan ia terlihat sambil memijit keningnya yang berdenyut.
Reno menarik nafasnya cukup dalam. Sepertinya memang urusan perusahaan saat ini yang lebih penting. Dia akan meminta ijin pada istrinya untuk kembali ke kantor.
Meskipun ada rasa kecewa dalam hati Abi, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mamanya juga sudah menasehati. Jadi dia hanya mengangguk mengijinkan suaminya pergi.
“Sayang, aku janji setelah semuanya beres, aku akan menemani kalian. aku mohon pengertian kamu.” Ucap Reno sungguh-sungguh.
Setelah mendapat ijin dari istrinya, Reno segera kembali ke kantor. padahal ia tadi sudah berencana akan menjemput Daddy-nya dan mengajaknya pergi ke rumah sakit. Namun karena ada urusan yang sangat penting, akhirnya Reno hanya mengabarkan saja kalau cucunya sudah lahir.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke kantor, Reno hanya fokus menyetir. Sesekali ia melirik kendaraan yang ada di belakangnya. Reno merasa sedang ada yang mengikutinya. Namun pikiran buruk itu segera ia buang. Takutnya akan semakin mengacaukan keadaan perusahaan.
Sementara itu Sean kini juga sudah berada di kantornya. Dia juga mulai mencari informasi mengenai masalah apa yang terjadi di kantor menantunya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Sean berhasil mendapatkan informasi itu.
Masalah yang dihadapi Reno memang sangat berat. Sean pun tetap berusaha membantu, walau sebenarnya untuk masalah seperti hanya ada satu orang yang sangat ahli dan cepat menanganinya. Yaitu Xander. Tapi rasanya tidak mungkin Sean menceritakan semua itu pada Xander, karena hubungan menantunya dengan Xander tidak baik-baik saja.
Pucuk dicita ulam tiba. Orang yang sedang dipikirkan Sean ternyata tiba-tiba meneleponnya. Yaitu Xander.
Sean menerima panggilan dari sahabatnya dan mengabarkan kalau Abi sudah melahirkan. Terdengar tawa bahagia dari bibir Xander saat mengetahui kalau anak Abi sudah lahir. Bahkan sore nanti ia akan terbang langsung ke kota J untuk melihat cucunya yang baru lahir.
Setelah menutup panggilannya dengan Xander, Sean kembali melanjutkan pekerjaannya. Tepatnya ikut membantu mengatasi masalah perusahaan menantunya. Walau ia sangat yakin bahwa Reno bisa menyelesaikannya sendiri.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1