Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 97 Membalas Budi


__ADS_3

Silvia tampak tersenyum lega mendengar ucapan Abi baru saja. nyatanya tidak perlu menasehati Abi lagi agar dia mau pulang ke rumahnya.


“Tante senang mendengarnya. Bagaimana pun juga Mama kamu sangat ingin menemani kamu saat melahirkan nanti. Tante juga sebagai orang tua kamu, tapi tidak ingin mengambil alih hak selama kedua orang tua kamu masih ada.” Ucap Silvia.


“Terima kasih, Tante.”


Tak lama kemudian Xander ikut bergabung. Pria yang sudah siap dengan setelan kerjanya itu datang dengan membawa sebuah kabar untuk Abi. Entah dia akan senang atau sebaliknya.


“Vi, salah satu rekan bisnis Om sedang ada kontrak kerjasama dengan perusahaan kosmetik. Beliau sedang ada proyek peluncuran skincare yang aman untuk wanita hamil. Beliau sedang membutuhkan seorang model wanita hamil. Apakah kamu bersedia?” tanya Xander.


Abi terdiam. Memang dulu rutinitasnya selalu menjalani pemotretan. Tapi semenjak menjadi istri Reno hingga saat ini, dia sudah lama vakum dari aktivitas itu. Tapi jika Omnya menawari untuk kembali menjadi model, terlebih produk kecantikan, Abi khawatir jika itu masih ada hubungannya dengan perusahaan Reno.


“Kamu tenang saja. jangan khawatir kalau perusahaan itu berhubungan dengan perusahaan dia. Om sudah mengecek langsung dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia.” Ucap Xander seolah mengerti isi kepala Abi.


“Lebih baik kamu terima saja, Vi. Itung-itung buat cari hiburan agar kamu tidak stress di rumah terus. Om kamu akan memberikan penjagaan ekstra jika kamu takut diketahui oleh anak buah Reno.” Silvia ikut menimpali.


“Viana pikirkan dulu, Tan, Om.” Jawab Abi akhirnya.


“Ya sudah nggak masalah. Om tunggu sampai lusa, karena teman Om juga menunggu kepastiannya. Jika kamu tidak bisa, beliau bisa segera mencari model lain.” Ucap Xander.


Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam untuk melakukan sarapan bersama. Kedua anak perempuan Xander dan Silvia juga sudah menunggu sejak tadi di meja makan.


***

__ADS_1


Selama seminggu dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Tuan Hadiata sudah diperbolehkan pulang. keadaannya sudah pulih, tekanan darahnya juga sudah normal kembali. Dokter hanya menyarankan agar Tuan Hadiata istirahat dengan cukup dan menjaga pola makannya.


Dan selama itu pula Reno selalu menjaga Daddy-nya tanpa beranjak sedikitpun dari rumah sakit. Perlahan hubungan Reno dan Daddy-nya juga membaik. Walau selama di rumah sakit, baik Tuan Hadiata maupun Reno tidak membahas masa lalu mereka berdua.


Kini Reno sudah berada di rumah besar milik Daddy-nya. Rumah dimana ia dulu dilahirkan sekaligus dibesarkan. Rumah yang masih tampak sama seperti saat dirinya terakhir meninggalkannya. Karena Tuan Hadiata sendiri tidak ingin mengubah sedikitpun tatanan rumahnya. Karena dengan begitu, dia masih beranggapan bahwa istrinya masih berada dalam rumahnya.


“Daddy istirahat saja. ingat kata dokter kalau Daddy harus istirahat yang cukup.” Ucap Reno saat mengantar Tuan Hadiata masuk kamarnya.


“Daddy lelah disuruh istirahat terus. Di rumah sakit juga sudah banyak beristirahat.” Jawab pria tua itu setengah membangkang.


“Ren, apakah setelah Daddy sembuh, kamu akan pergi lagi meninggalkan Daddy?” tanya Tuan Hadiata dengan raut sedih.


“Bukankah Daddy tahu kalau Reno juga mempunyai perusahaan yang tidak bisa ditinggalkan.” Jawab Reno hendak membahas masalah perusahaannya, namun ia urungkan.


Pertanyaan yang keluar dari mulut Daddy-nya sepertinya sudah bisa Reno tebak, cepat atau lambat dia harus segera menyelesaikan masalah itu, agar hidupnya lebih tenang. Lebih tepatnya tenang dalam melanjutkan pencarian istrinya.


“Reno sudah menikah, Dad.” Ucap Reno akhirnya.


Kedua pria beda usia itu terdiam cukup lama. Reno menunggu reaksi Daddy-nya setelah tahu bahwa dirinya sudah menikah.


“Kenapa kamu melupakan Daddy atas pernikahan kamu, Ren? Sebegitu bencinya kah kamu dengan orang tuamu yang sudah bau tanah ini, hingga tidak memberi kabar bahagia itu?”


Reno terkejut sekaligus tidak percaya atas apa yang keluar dari mulut Daddy-nya. Dia mengira Daddy-nya akan marah, walau memang marah. Tapi lebih ke rasa tidak terima karena telah diabaikan keberadaannya.

__ADS_1


Reno diam. apakah ia harus menceritakan bagaimana kondisi rumah tangganya yang sebenarnya. Lalu apakah jika Daddy-nya tahu, pria itu akan tetap memaksa untuk menikah dengan perempuan yang belum jelas itu.


“Rumah tangga Reno sedang bermasalah, Dad. Reno tidak bisa menjelaskannya sekarang.” ucap Reno dengan suara lirih.


“Daddy tidak akan lagi memaksa kamu untuk menikah dengan anak sahabat Daddy. Apalagi sekarang kamu sudah menikah, meskipun rumah tangga kamu juga sedang bermasalah. Namun Daddy akan tetap meminta kamu untuk mencari anak sahabat Daddy itu.” Ucap Tuan Hadiata dan membuat Reno seketika mendongak menatap Daddy-nya.


“Tolong, demi permintaan Daddy yang terakhir ini kamu turuti. Cari dimana sahabat Daddy itu. Temukan dia atau anak-anaknya. Daddy tidak mau kalau nanti Daddy sudah tiada masih mempunyai hutang budi padanya.”


“Apakah Daddy bicara serius?” tanya Reno memastikan.


Tuan Hadiata mengangguk samar, “Ya, meskipun sahabat Daddy dulu meminta agar anak-anak kita menjadi keluarga, tapi kalau kamu tidak mau menikah dengannya, cukup jadikan anak sahabat Daddy itu saudara kamu. Daddy juga akan memberikan beberapa aset harta Daddy untuk mereka. Itu sudah cukup buat Daddy membalas budinya yang telah mendonorkan darahnya untuk Daddy saat kecelakaan yang merenggut nyawa Mommy kamu dulu.”


.


.


.


*TBC


Ikuti saja alurnya ygy🤗✌️


Sorry kalau nggak sesuai harapan kalian atau terlalu mbulet😂😂

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2