
“Kata Bu Mira kamu sedang sakit kepala? Apa perlu aku antar periksa ke dokter?” Tanya Reno setelah meengurai pelukannya.
Abi hanya menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku sudah lebih baik setelah istirahat. Ayo buruan bangun, pasti Raffael mencariku sejak tadi!” abi bergegas bangun saat teringat anaknya yang sejak tadi ia titipkan bersama baby sitternya.
Sepasang suami istri itu sudah terlihat akur kembali setelah kesalah pahaman tadi. Abi menyiapkan baju ganti untuk suaminya setelah ia selesai mandi. lalu ia turun terlebih dulu untuk menghampiri Raffael yang sejak tadi bersama Bu Mira.
“Maaf, Bu aku tidurnya kelamaan. Apa Raffael menangis?” Abi meraih Raffael dari gendongan Bu Mira.
“Tidak, Nyonya. Den Raffael sangat pintar, tidak menangis sama sekali.” Jawab Bu Mira setelah itu pamit ke belakang.
Tak lama kemudian tampak Reno baru menuruni tangga. Pria itu sudah terlihat lebih segar dan tampan setelah mandi. lalu ia ikut bergabung dengan istrinya yang sedang mengajak bicara Raffael.
“Anak Papa ganteng banget, sini Papa gendong!” Reno meraihnya dari Abi.
Raffael tampak mengulas senyum sambil sesekali menjulurkan lidahnya. Bayi itu terlihat sangat nyaman dalam gendongan Papanya. Abi juga ikut senang melihat interasksi antara anak dan ayah itu. Bahkan Raffael memiliki garis wajah yang mirip sekali dengan Reno. Itulah yang membuatnya merasa tidak adil. Dia yang tengah mengandung selama sembilan bulan, giliran sudah lahir, wajah Raffael justru mirip Papanya. Sama sekali tidak mirip dengannya.
“Kenapa melamun, hem?” tanya Reno tiba-tiba membuyarkan lamunan Abi.
“Nggak. Aku hanya heran saja sama Raffael yang wajahnya mirip sekali denganmu.” Jawabnya dengan nada cemberut.
“Kamu ini bagaimana sih, Sayang? Raffael kan darah dagingku, wajah dong dia mirip Papanya.” Jawab Reno yang tak mengerti maksud ucapan istrinya.
“Ish, aku yang mengandung selama sembilan bulan loh! Tidak adil rasanya kalau wajahnya mirip kamu.”
“Oh itu yang kamu maksud? Itu tandanya saat kamu mengandung Raffael dulu, kamu selalu memikirkan aku dan hanya ada aku yang ada di hati kamu. Makanya jadi seperti sekarang ini.” jawab Reno dengan nada candaan. Dan hal itu sukses membuat merona malu, pasalnya ucapan suaminya itu benar. Walau dulu dia sangat membenci Reno akibat kesalah pahaman, tapi dia tidak bisa memungkiri kalau setiap malam selama masa kehamilannya selalu meikirkan Reno. Atau lebih tepatnya merindukannya.
“Ya sudah untuk hamil berikutnya, aku tidak akan memikirkan kamu lagi biar anakku nggak mirip Papanya terus.” Ujar Abi dengan entengnya.
__ADS_1
“Apa kamu yakin? Itu tandanya kamu sudah siap hamil lagi, Sayang? Aku senang mendengarnya.” Ucap Reno terkekeh geli.
“Eh!!” Abi membungkam mulutnya sendiri seperti sadar akan ucapannya tadi.
Cukup lama mereka berdua menikmati waktu santai sore itu. Keduanya juga sangat bahagia.
***
Tanpa terasa usia usia Raffael kini sudah enam bulan. Bayi itu sudah mulai diberi makanan pendamping ASI. Abi semakin semangat dalam merawat Raffael. Pasalnya bayi itu sama sekali tidak menolak saat pertama kali diberi makan. Badannya juga semakin gemuk dan sehat.
Saat ini Abi sedang menyuapi Raffael sambil didudukkan di kursi khusus bayi. Reno yang hendak pergi ke kantor dibuat gemas oleh tingkah anaknya. ingin sekali ia libur kerja agar bisa seharian menemani anaknya. padahal weekend kemarin sudah ia habiskan waktunya bersama Raffael, sekarang giliran akan kembali ke kantor, rasanya masih ingin bersama anak itu.
“Papa berangkat dulu ya, Sayang!” pamit Reno lalu mencium pipi Raffael yang belepotan terkena bubur.
Abi tergelak saat tangan kotor Raffael justru menyentuh pipi suaminya. Namun Reno sama sekali tidak terganggu.
Cup
“Aku berangkat dulu, ya!”
“Hati-hati, Papa! Oh iya, Ren nanti siang aku sama Chelsea akan pergi ke mall untuk berbelanja sekaligus hangout.”
“Ya, hati-hati saja kalian! Apalagi bawa Raffael.”
Abi hanya mengangguk paham. Sudah biasa ia pergi bersama dengan sahabatnya itu. Chelsea juga sangat menyayangi Raffael. Jadi ia yang selalu mengajak Abi keluar hanya sekadar jalan-jalan karena ingin menghabiskan waktu dengan bayi tampan menggemaskan itu.
Meskipun Reno membiarkan istrinya pergi, namun diam-diam ia menyewa seorang bodyguard untuk terus mengawasi dan menjaga kemana pun istrinya pergi. Reno tidak memberitahukan hal itu pada istrinya, khawatirnya akan membuat Abi tidak nyaman.
__ADS_1
**
Waktu yang ditunggu akhirnya datang. Setelah Abi dan Raffael sudah rapi, tak lama kemudian Chelsea tiba. Hal pertama yang dilakukan oleh perempuan itu selalu menggendong Raffael dan menciuminya. Dan Abi yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
“Makanya buruan sana nikah, biar bisa punya yang seperti Raffael.” Gurau Abi dan Chelsea hanya mencebikkan bibirnya.
“Ya sudah, ayo kita pergi sekarang saja!” Ajak Chelsea kemudian.
Mereka berdua jalan-jalan ke mall untuk berbelanja baju Raffael. Dan semua itu yang membelikannya adalah Chelsea.
“Chel, harusnya kita cukup jalan-jalan dan makan saja. kamu tidak perlu membelikan Raffael baju seperti ini. baju dia sudah banyak di rumah.”
“Nggak apa-apalah, Vi. Ya itung-itung buat tabungan.” Jawab Chelsea dengan tangan masih sibuk memilih baju untuk Raffael.
“Tabungan?” Tanya Abi.
“Ya, nanti jika aku sudah punya anak, gantian kamu yang beliin.” Jawab Chelsea sambil terkikik dengan ucapannya sendiri.
Tanpa mereka berdua sadari ternyata sejak tadi ada seseorang yang terus memperhatikan dua wanita yang sedang dalam outlet baju balita itu.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️