
Setelah ungkapan perasaan Reza tempo hari, Abi akhirnya memilih menjaga jarak dengan pria itu. Semua itu Abi lakukan karena tidak ingin semakin melukai Reza yang seolah memberikan harapan jika ia masih berhubungan baik dengan pria itu.
Besok adalah hari kepulangan Sean dan Lidia. Begitu juga dengan Xander. Abi juga akhirnya ikut pulang ke Indonesia, walau sebenarnya Reza tetap mengijinkannya tinggal di rumahnya. Namun Abi tetap menolak dengan alasan ingin dekat dengan keluarga.
Tetapi Abi tidak ikut pulang ke rumah orang tuanya, melainkan ke rumah Xander. Setelah menimbang-nimbang, rumah Xander lah yang sangat cocok untuk ia singgahi sementara. Karena pastinya Reno akan tahu jika dirinya tinggal di rumah orang tuanya.
Awalnya Sean menolak, namun karena Lidia yang menyetujui permintaan Abi, akhirnya ia hanya pasrah. mungkin memang Abi masih butuh banyak waktu untuk sendiri dan belum ingin bertemu Reno.
Saat ini mereka sedang bersiap pergi ke bandara. Reza sampai meluangkan waktunya demi bisa mengantar keluarga Sean ke bandara. Meskipun Abi menjaga jarak dengan Reza, namun ia tetap bersikap baik terhadap pria itu.
“Kak Reza, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih telah banyak menolongku selama ini. sampai kapan pun aku tidak akan lupa dengan jasa baik Kak Reza padaku.” ucap Abi dengan sungguh-sungguh.
“Jangan terlalu berlebihan, Vi. Aku melakukan semua itu ikhlas. Karena kamu sudah seperti adikku sendiri.” Ucap Reza sambil menekan kuat rasa sesak dalam dadanya.
Abi pun segera berhambur ke pelukan Reza. Pelukan yang mungkin untuk terakhir kalinya. Reza pun ikut membalas pelukan Abi yang dia pasti tahu bahwa pelukan itu tidak akan terulang kembali.
***
Waktu belalu begitu cepat. Sudah empat bulan Abi meninggalkan Reno. Dan selama itu pula Reno masih tidak bisa menghilangkan bayang-bayang istrinya.
Semenjak Chiko menyarankan untuk fokus dengan perusahaan, semanjak saat itu pula Reno terus bekerja tiada henti. Tapi dia juga masih meminta orang untuk mencari keberadaan istrinya, walau hasilnya masih nihil.
__ADS_1
Keadaan Reno tampak semakin kurus. Selain memikirkan Abi, pria itu benar-benar dibuat sibuk dengan urusan kantor. perusahaan Reno juga akhir-akhir ini sering bermasalah. Namun pria itu tetap optimis untuk mengatasi semua masalah itu.
Saat ini Chiko sedang duduk di ruang kerja Reno. Baru saja dua pria itu menyelesaikan makan siang mereka di ruangan Reno. Dan seperti biasa, makanan yang Reno makan hanya roti tawar yang diolesi selai dan segelas susu hangat. Entahlah, Reno juga tidak tahu kenapa hanya makanan itu yang cocok dengan perutnya. Bahkan Chiko juga sampai heran. Andai saja Reno tahu kalau semua itu karena dia sedang ngidam, pasti Reno sangat bahagia mengetahui bahwa istrinya sedang hamil.
“Mau sampai kapan kamu akan makan roti terus, Ren?” tanya Chiko yang entah sudah berapa kali ia bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Sampai aku bosan dan perutku cocok dengan makanan lain.” Jawabnya cuek.
“Apa kamu nggak ingin memeriksakan keadaan kamu ini? aneh saja masak kamu harus makan roti dan minum susu terus. Aku takutnya lambung kamu sedang bermasalah.” Ucap Chiko khawatir.
“Selama aku masih bisa berdiri dan berjalan, aku tidak perlu periksa ke dokter. sudahlah jangan bahas hal yang tidak penting. Lebih baik kita fokus dengan urusan kantor. apa kamu sama sekali tidak mempunyai solusi, Ko?” tanya Reno dengan serius.
“Punya. Tapi itu tidak mungkin kamu lakukan.”
“Minta bantuan pada Tuan Sean.” Jawab Chiko.
Reno mengusap wajahnya dengan kasar. Memang benar yang diucapkan Chiko. Tapi tidak mungkin ia mengikuti saran Chiko. Karena Reno tidak ingin terlihat lemah di hadapan mertuanya. Dan dia juga tidak mau Sean tahu kalau dirinya yang diam-diam menjadi investor di perusahaan mertuanya itu. Terlebih semenjak pertemuannya yang dulu sampai saat ini Reno belum pernah bertemu lagi dengan Sean. Biarlah mertuanya itu mempunyai asumsi bahwa dirinya melupakan Abi. Padahal kenyataannya dia ingin memberi waktu pada istrinya untuk menenangkan diri.
“Kalau meminta bantuan pada Tuan Sean tidak mungkin kamu lakukan. Tinggal satu orang yang paling bisa diandalkan.” Ucap Chiko lalu Reno menatap sahabatnya seolah bertanya siapa orang itu.
“Tuan Hadiata.” Lanjut Chiko.
__ADS_1
Tuan Hadiata yang tak lain adalah Daddy Reno. Dan memang benar, pria itulah yang satu-satunya menjadi harapan terakhir Reno untuk membantu perusahaannya yang sedang mengalami masalah. Tapi, maukah Reno datang menemui Daddy-nya? Mengingat hubungannya sampai saat ini tidak baik-baik saja. kedua ayah dan anak itu sama-sama keras kepala, hingga tidak menemui solusi yang tepat.
“Ingat, Ren. Beliau adalah orang tua kamu satu-satunya. Cobalah perbaiki hubungan kalian. lagi pula status kamu saat ini sudah memiliki istri, tidak mungkin Daddy kamu memaksa menikah dengan anak sahabatnya itu. Belum tentu juga anak sahabatnya itu mau dengan pria tua seperti kamu.” Ucap Chiko diakhiri dengan candaan di akhir kalimatnya. Sontak saja Reno langsung melempar bolpoin ke arah Chiko.
Drt drt drt
Ponsel Reno yang diletakkan di atas meja tiba-tiba bergetar menunjukkan ada panggilan masuk. Reno mengambilnya lalu melihat id pemanggil itu. Dan itu no luar negeri. Reno pun segera mengangkatnya.
“Halo”
“…..”
“Apa? Baiklah, aku akan terbang kesana sekarang juga.” pungkas Reno langsung menutup panggilannya.
“Ko, aku harus pergi sekarang juga. keadaan Daddy sedang drop dan dilarikan ke rumah sakit.”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️