
Waktu semakin larut. Sejak pagi hingga saat ini Chiko masih setia menemani Reno mencari keberadaan Abi. Dan saran yang diberikan Chiko untuk meretas cctv jalanan sekitar hotel dimana Reno dan Abi berada kemarin ternyata tidak membuahkan hasil. Berulang kali Reno memutar video rekaman jalanan itu tapis ama sekali tidak melihat keberadaan Abi yang keluar hotel.
“Lebih baik kamu pulang dulu, Ko! Terima kasih banyak atas waktumu yang mau membantuku mencari Vibi.” Ucap Reno.
“Baiklah. Kamu juga perlu istirahat. Kamu jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuanku jika membutuhkan sesuatu.” Ucap Chiko sebelum pamit.
Chiko sendiri tidak ingin bertanya dulu bagaimana hasil pencarian Abi melalui cctv jalanan sekitar hotel. Karena sejak tadi ia hanya melihat wajah serius Reno. Entah sudah menemukan hasil atau belum.
Setelah kepulangan Chiko, Reno tak lantas tidur. Dia kembali membuka rekaman cctv jalanan sekitar hotel. Reno sangat heran, kenapa tidak bisa menemukan keeberadaan Abi. Padahal disana tertera waktu yang sesuai dimana Abi baru saja keluar dari hotel.
“Siall!!! Sepertinya ada orang lain yang sudah menyabotase rekaman ini.” umpat Reno saat menyadari adanya kejanggalan.
Meskipun sudah menggunakan semua kemampuannya untuk melacak keberadaan istrinya, tetap saja Reno tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan sepertinya ada orang yang lebih pintar darinya yang dengan cepat melakukan ini semua. Lalu siapakah orang itu? Dugaan Reno hanya ada tiga orang, yaitu Tian, Chandra, atau mertuanya sendiri, Sean.
Akhirnya rasa lelah di tubuh Reno terpaksa harus mengakhiri pencarian itu. Mungkin besok dia akan melanjutkannya lagi.
Reno menutup laptopnya lalu keluar dari ruang kerja. Setelah itu masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Reno memutuskan untuk tidur di kamarnya sendiri. Kamar yang biasa ia tempati bersama istrinya. Ada rasa sesak dalam hati Reno saat tubuhnya sudah berada di atas ranjang. Bahkan wangi aroma parfum milik Abi rasanya mengisi ruangan itu. Dan membuat Reno semakin merindukan istrinya.
“Bi, dimana kamu sekarang? pulanglah!” gumamnya sebelum akhirnya mata Reno terlelap.
__ADS_1
**
Keesokan paginya Reno sudah bangun dari tidurnya. Rasanya masih seperti mimpi dengan ketidak hadirnya Abi di sisi Reno saat baru membuka mata.
Meskipun demikian, Reno bertekat bahwa dirinya tidak boleh lemah. Dia harus tetap semangat berjuang mencari dimana istrinya berada. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu bersiap pergi ke kantor.
Memang keadaan Reno saat ini sedang tidak baik-baik saja karena kehilangan istrinya. Namun dia harus tetap professional dengan urusan kantor. dia tidak bisa abai begitu saja. karena banyak nyawa yang menggantungkan hidupnya perusahaan Reno.
Setelah siap dengan setelan kerjanya. Reno memasuki ruang makan. Dia kembali teringat jika jam seperti ini pasti akan sarapan dengan Abi. Lalutiba-tiba saja kaki Reno tetap melangkah masuk ke ruang makan. Dia mencari roti tawar dan diberi selai. Setelah itu menuang segelas susu yang masih tersisa di lemari es.
Entahlah akhir-akhir ini dia memang suka sekali makan roti seperti yang perniah disiapkan Abi saat dirinya mual-mual beberapa hari yang lalu. Kemarin saja saat Chiko membelikan makan, dia tidak bisa menghabiskan semua makanan itu.
Rasanya perut Reno sudah kenyang walau hanya makan selembar roti tawar yang diberi selai. Setelah itu ia segera berangkat ke kantor.
Waktu berlalu begitu cepat. Setelah jam makan siang, Reno tidak ada pekerjaan penting lagi. jadi untuk urusan kantor, dia akan menyerahkan pada Yoga dan Chiko. Karena setelah ini dia akan pergi ke suatu tempat.
**
Sementara itu di waktu yang sama di belahan bumi yang berbeda tampak seorang perenmpuan sedang berbaring lemah di atas tempat tidur. Sejak pertama kali membuka mata hingga sekarang, perutnya selalu mual-mual dan tidak bisa makan sedikitpun.
Abi semakin khawatir jika benar dirinya tengah hamil. Apalagi Maria, asisten rumah tangga Reza juga memberikan dugaan yang sama. Namun Abi tetap menyangkalnya. Dia tidak ingin mengandung anak dari pria yang telah menorehkan luka mendalam itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Maria masuk ke kamar Abi dengan membawa segelas susu hangat dan roti tawar. Maria sendiri juga bingung mau membuatkan makanan apa untuk Abi. Karena sejak tadi Abi selalu menolak makan setelah minum air putih dan kembali mual-mual.
“Nona, aku tidak tahu mau buat makanan apa untuk anda. Cobalah makan ini. dan susu ini juga masih hangat. Barangkali akan membuat perut anda nyaman.” Ucap Maria.
Abi perlahan bangun dari tidurnya. Entahlah saat melihat roti tawar yang sudah diolesi selai itu tiba-tiba saja membuat Abi kelaparan. Tanpa basa-basi dia segera melahap roti itu. Dan meminum susu yang masih hangat.
Maria tersenyum lega saat melihat Abi menghabiskan roti dan susu itu. Apalagi setelah beberapa menit melihat reaksi Abi yang sudah tidak muntah lagi.
“Terima kasih, Bi. Sepertinya aku hanya bisa makan ini saja agar perutku tidak mual lagi.” ucap Abi sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
“Syukurlah Nona. Sepertinya memang benar kalau saat ini anda sedang hamil. Bagaimana kalau saya hubungi Tuan Reza agar mengantar anda periksa ke rumah sakit?” usul Maria.
“Tidak! Aku baik-baik saja, tidak perlu periksa. Dan aku sedang tidak hamil.” Ucap Abi menepis dugaan itu.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️