
Malam ini tampak seorang pria paaruh baya tengah duduk sendirian di ruang kerjanya. Pria itu memijit kepalanya yang sedikit berdenyut setelah beberapa saat yang lalu mendengar laporan dari asistennya mengenai perusahaan.
Salah satu investor di perusahaan Sean tiba-tiba saja mengambil sahamnya yang sudah lama ditanam di perusahaannya. Bahkan Sean sudah menganggap pria itu saudara. Tapi gara-gara urusan pribadi hingga membuatnya seperti ini.
Sean mengambil ponselnya untuk menghubungi anak perempuannya. Namun sayang sekali nomor ponselnya sedang tidak aktif. Selain ingin mengatakan sesuatu, Sean juga sangat merindukan Abi.
“Semoga kamu baik-baik saja, Sayang.” Gumamnya sambil melihat foto Abi.
Sean pun mencoba menghubungi Reno, yang tak lain adalah menantunya. Nomor ponsel Reno aktif. Namun sampai panggilan yang ketiga, menantunya itu tak kunjung mengangkatnya.
Cklek
Lidia membuka pintu ruamg kerja Sean. Wanita itu terlihat khawatir karena sudah jam dua belas malam sang suami tak kunjung masuk kamar.
“Apa ada masalah?” tanya Lidia.
“Tidak, Sayang. Aku hanya menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor. ini sudah selesai.” jawab Sean terpaksa berbohong. Dia tidak mau membuat istrinya ikut memikirkan masalah perusahaannya. Sudah cukup dia memberikan banyak beban untuk mengurus anak-anaknya selama ini.
“Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Sean. Tapi kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku tidak masalah.”
“Benar, Sayang. Ini hanya urusan pekerjaan. Hanya saja aku tadi tiba-tiba memikirkan Viana. Aku sangat merindukannya. Tapi sayangnya ponsel Viana tidak aktif.”
“Ya sudah, besok dicoba lagi. Viana juga pasti sedang tidur. Ayo lebih baik kita tidur saja.” ajak Lidia kemudian.
***
Keesokan harinya, sesuai yang disampaikan Chiko kemarin bahwa pemotretan Abi dimajukan. Dan dilaksanakan nanti sore. Jadi pagi ini Reno dan Abi harus segera berangkat menuju bandara. Sedangkan Chiko sudah menunggu di bandara.
Pemotretan Abi itu rencananya akan dilaksanakan selama tiga hari, sekaligus pemotretan yang terakhir untuk peluncuran produk kosmetik terbaru yang akan dikeluarkan oleh perusahaan Reno.
__ADS_1
Saat ini Abi sudah siap berangkat dengan membawa satu koper besar yang berisi pakaiannya dan juga pakaian Reno. Reno yang hanya membawa sedikit baju ganti, jadi sekalian dimasukkan ke dalam koper Abi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam mobil. Reno segera melajukan mobilnya menuju bandara.
Dalam perjalanan, Abi terlihat diam. Entah kenapa ada perasaan tak nyaman dan sedikit mengganjal hatinya. Namun dia juga tidak tahu ada apa sebenarnya.
“Kamu baik-baik saja, Bi?” tanya Reno yang tampak heran.
“Iya. Aku baik-baik saja, Ren.” Jawabnya sambil tersenyum.
Setelah sampai bandara, Reno dan Abi segera menemui Chiko yang sudah menunggunya. Pesawat yang akan mereka tumpangi akan take off lima belas menit lagi.
“Semuanya sudah siap? Keperluan kamu sudah, Vi?” tanya Chiko.
“Sudah, Om.”
“Baju ganti kamu mana, Ren? Kita tiga hari loh di sana.” Tanya Chiko.
Chiko sangat terkejut. Bagaimana bisa baju Reno dicampur jadi satu dengan koper Viana. Lalu, apa itu tadi. Viana memanggil nama Reno. Bukan Tuan lagi. apakah telah terjadi sesuatu dengan sahabatnya.
“Ren? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” tanya Chiko memastikan.
“Sudahlah ayo kita berangkat. Kamu mau tetap disini atau ikut pergi?” Reno berusaha mengalihkan perhatian. Alhasil Chiko dibuat kesal lagi oleh sahabatnya.
**
Setelah melakukan perjalanan udara selama kurang lebih dua jam, akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan yang sudah disediakan oleh pihak perusahaan Reno.
View yang digunakan untuk pemotretan Abi kali ini berada di area pegunangan yang sangat sejuk. Abi sangat senang, karena ia bisa refreshing.
__ADS_1
Pemotretan itu tidak hanya untuk peluncuran produk kosmetik dari perusahaan Reno. Namun untuk pemotretan pakaian branded dari salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan Reno. Jadi modelnya tidak hanya Abi saja. ada model lagi lainnya yang khusus untuk brand baju.
Saat ini Reno tengah berjalan berdua dengan Abi menuju salah satu kamar yang akan mereka tempati. Meskipun kamar mereka terpisah, namun Reno sudah meminta agar kamarnya berdampingan dengan kamar Abi.
“Om Reno!!!” teriak seoarang perempuan yang sedang berlari menghampiri Reno dan Abi.
Reno dan Abi pun menoleh untuk melihat siapa perempuan itu.
Grep
Perempuan itu tiba-tiba memeluk Reno. Setelah itu bergelayut manja di lengan Reno.
“Sof, jangan seperti ini!” Reno berusaha menghindar karena sangat tidak nyaman dengan keberadaan Sofia.
Reno juga tidak tahu kalau Sofia juga akan ikut dalam pemotretan ini. dia baru sadar kalau Sofia adalah keponakan rekan bisnisnya yang merupakan pemilik produk brand baju terkenal itu. Jadi otomatis Sofia lah yang menjadi modelnya.
“Sofia kan kangen sama Om Reno. Sudah lama kita tidak bertemu. Oh iya, Sofia kan memang baru pulang dari LN empat hari yang lalu.” Ucap perempuan itu dengan tangan masih bergelayut manja.
“Maaf, saya pamit masuk dulu.” Ucap Abi tiba-tiba. Lebih baik masuk ke kamar daripada harus menyaksikan kemesraan dua insan yang sedang melepas rindu itu.
Reno yang melihat wajah kesal Abi pun merasa bersalah. Setelah itu dia mengusir Sofia agar segera pergi. Karena ia akan beristirahat.
“Ya sudah deh. Nanti malam kita jalan ya, Om? Aku masih kangen sama Om Reno.” Ucap Sofia dan langsung pergi sambil meninggalkan sebuah kecupan di pipi Reno.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️