Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 131 Suka Mengganggu


__ADS_3

Hari ini Reno tidak ingin pergi kemana-mana. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama anak dan istrinya. Tentunya dengan Daddy-nya, walau pria itu lebih memilih istirahat di kamarnya.


Usai sarapan, Reno mengajak istrinya bersantai di lantai dua. Tepatnya di tepi kolam renang yang terhubung dengan balkon kamar mereka.


Tampak Raffael sedang terlelap dalam tidurnya. Karena usianya yang masih belum genap satu bulan, bayi itu menghabiskan waktunya lebih banyak tidur. Di sisi kolam renang ada tempat yang nyaman. Abi meletakkan Raffael di sana, di atas bantal khusu bayi. Lalu kemana kedua orang tua Raffael? Tentunya masih berada di sana, hanya saja mereka sedang bermesaraan.


“Bagaimana rasanya setelah ada seseorang yang terang-terangan ingin menggantikan posisiku, hem?” tanya Reno tiba-tiba sambil mendekap tubuh istrinya dari belakang.


Abi tak langsung menjawab. Ia menautkan alisnya bingung menanggapi pertanyaan Reno. Menggantikan posisi? Apa maksudnya?


“Apa maksud kamu?” tanya Abi pada akhirnya.


“Jangan pura-pura lupa. Kemarin ada seorang pria mengatakan kalau Raffael butuh figure seorang ayah. Apa itu namanya kalau dia memang berniat melamarmu?”


Abi akhirnya ingat kalau kemarin malam sebelum datang ke rumah ini ia kedatangan Reza. Jadi Chiko yang sudah mengatakan itu semua.


“Awas kamu, Om Chiko!” gerutu Abi yang masih bisa didengar oleh Reno.


“Hei jangan mengalihkan pembicaraan! Apalagi menyalahkan orang lain. Apa benar memang seperti itu? Dia sedang melamarmu?” tanya Reno dengan raut tidak suka. Pasalnya dia ingat betul saat bertemu Reza pertama kali, pria itu dengan beraninya menggandeng tangan sang istri. Lalu kemarin ia mendapat laporan dari Chiko kalau Reza terang-terangan ingin menggantikan posisinya sebagai ayah sambung Raffael.


“Kenapa kamu marah? Keberadaanku di sini apa belum cukup menjadi bukti? Lalu, apa Om Chiko tidak mengatakan kalau aku menolak Kak Reza?”


“Jangan sebut nama dia saat sedang bersamaku. Aku tidak suka dengan dia sejak pertama kali bertemu.” Ucap Reno dengan kesal.


“Ya sudah, lebih baik tidak usah membahas hal yang tidak penting.” Jawab Abi enteng.

__ADS_1


Reno mendadak gemas dengan sikap acuh istrinya. Walau ia sudah yakin kalau hati Abi hanya untuknya seorang. Setelah itu Reno memutar sedikit tubuh istrinya lalu meraih dagu istrinya untuk memberikan ciuman pada bibir yang telah membuatnya candu itu.


Keduanya sama-sama menikmati ciuman itu. Rasanya tidak pernah ada kata bosan bagi keduanya. Karena memang kegiatan itu benar-benar membuatnya melayang. Terlebih setelah beberapa waktu mereka berpisah.


Reno masih berada di posisi yang sama. Lidahnya masih aktif membelit lidah Abi. begitu juga dengan Abi yang tampak semakin aktif menyeimbangi pagutan itu. Namun tiba-tiba saja terpaksa mereka harus menyudahi kegiatan itu kala terdengar suara tangisan Raffael.


Abi bergegas mendekati Raffael yang sedang menangis, lalu menggendongnya. Ternyata bayi itu sedang buang air. Alhasil Abi membawanya masuk untuk menggantikan diapersnya.


Reno hanya menatap istrinya masuk ke kamar dengan menggendong Raffael. Sesekali ia menggelengkan kepalanya. “Masih bayi juga suka mengganggu kegiatan Mama dan Papanya.” Gerutunya kesal bercampur gemas. Setelah itu ia pun ikut masuk ke dalam kamar.


Saat Reno baru saja masuk ke kamar, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Chiko yang sedang menghubunginya. Reno terlihat serius berbicara dengan Chiko. Sepertinya memang ada hal penting yang ingin disampaikan. Namun berhubung hari ini ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya seharian bersama sang istri, akhirnya Reno meminta Chiko untuk datang ke rumah.


Beberapa saat kemudian Reno, Abi, dan juga Raffael sudah berada di ruang tengah. Karena baru saja Chiko tiba.


“Kenapa malah bengong?” tanya Reno membuyarkan lamunan Chiko.


“Ah tidak! Aku hanya gemas saja melihat Raffael.” Jawabnya sambil memberikan map yang berisi dokumen penting untuk diteliti kembali oleh Reno lalu diberi tanda tangannya.


“Om Chiko gemas atau ingin punya seperti ini?” tanya Abi setengah meledek.


Chiko hanya mencebik kesal, walau sebenarnya sindiran Abi tepat sasaran. Namun bagaimana ia bisa memiliki bayi mungil seperti Raffael, kalau statusnya sampai sekarang pun belum laku-laku. Mana ada wanita malam yang ada di Club mau memberikan seorang anak. Tapi dia juga tidak mau melakukan hal itu.


“Makanya sana buruan nikah!” tambah Reno semakin membuat Chiko kesal.


“Semua ini juga gara-gara kamu. Setelah semua pekerjaanku selseai, aku akan langsung nikah!” jawabnya dengan sombong dan percaya diri.

__ADS_1


“Memangnya sudah ada wanita yang mau denganmu?” Tanya Reno dan membuat Abi tertawa terpingkal-pingkal.


Chiko hanya memutar bola matanya malas. Dia sudah terbiasa mendapat ledekan tak berperi kemanusiaan dari sahabatnya.


“Bagaimana kalau dengan Chelsea saja, Om?” celetuk Abi tiba-tiba dan membuat Chiko bungkam.


Memang sampai saat ini dalam hati Chiko hanya ada nama Chelsea. Selain perempuan itu sudah membuatnya jatuh hati, Chiko juga sudah menorehkan luka pada hati Chelsea. Terlebih tahu Chelsea sudah memiliki kekasih. Rasanya Chiko tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkan dia.


Tanpa menanggapi pertanyaan Abi, Chiko segera beranjak dan mengambil berkas yang sudah ditanda tangani Reno. Setelah itu dia kembali ke kantor.


“Aku balik dulu, Ren! Jangan lupa besok!” pamit Chiko lalu mengingatkan Reno tentang rencana yang telah mereka susun.


Reno dan Abi saling lirik saat melihat sikap aneh Chiko.


“Hati-hati, Ko!” ucap Reno sedikit berteriak karena Chiko sudah berada di ambang pintu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2