
Sepeninggal Jo, tubuh Chelsea merosot ke lantai. Dia tidak tahan menahan kesedihan yang tengah ia rasakan saat ini. dia sangat membenci Jo, juga Chiko. Pria yang telah merenggut mahkotanya. Atau bahkan Chelsea sudah hilang ketertarikan dengan makhluk tuhan yang bergender pria itu.
Rasanya muak sekali dia dengan kehidupannya yang sekarang ini. Namun dia juga tidak mempunyai solusi untuk mengatasinya. Karena Chelsea termasuk orang yang sangat sulit membagi masalahnya dengan siapapun, walau perangainya terlihat ceria.
Chiko yang melihat Chelsea dari balik pintu butik ikut merasakan kesedihan perempuan itu. Dia juga ikut mengepalkan kuat tangannya saat mendengar semua ucapan mantan kekasih Chelsea tadi. dia tidak akan membiarkan Chelsea jatuh ke pelukan pria lain, terlebih dirinyalah pria pertama yang berhasil menyentuh Chelsea. Akhirnya Chiko nekat masuk untuk menemui Chelsea.
“Chelsea!”
Chelsea terhenyak saat mendengar suara pria yang sangat ia hindari. Dan pria itu kini berdiri di hadapannya. Setelah itu Chelsea berdiri sambil mengusap air matanya.
“Ada apa anda kesini? Maaf, butik sedang tutup.” Ucapnya dengan nada ketus.
“Chelsea, kedatanganku kesini untuk meminta maaf atas-“
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita tidak mempunyai urusan apapun. Lebih baik anda segera keluar dari sini!” usir Chelsea lalu beranjak mengambil tasnya.
Dengan gerakan cepat tangan Chiko menari tangan Chelsea dan membawa ke pelukannya. Chelsea sangat terkejut, setelah itu ia meronta berusaha lepas dari pelukan Chiko.
“Lepas!!” teriak Chelsea tanpa sadar dia menangis tergugu.
“Maafkan aku, Chelsea! Maafkan tentang kejadian malam itu. Aku akan bertanggung jawab-“
“Lepas! Pergi dari sini sekarang juga, berengsek!!! Aku tidak ingin melihat wajah kamu lagi.” Chelsea terus meronta dalam pelukan Chiko.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memberiku maaf dan membiarkan aku bertanggung jawab.” Chiko semakin mengeratkan pelukannya.
“Baj***an kamu!! Aku benci kamu! Pergi!” Chelsea berucap dengan nada pilu dan tenaganya sudah tak mampu lagi melawan Chiko.
__ADS_1
Chiko tetap kukuh pada pendiriannya. Dia masih memeluk Chelsea, membeiarkan wanita itu menangis. Meskipun Chelsea mengatakan membenci dirinya, dia tidak peduli.
“Aku mencintaimu, Chelsea. Biarkan aku bertanggung jawab atas perbuatanku malam itu. Kumohon!”
Chelsea sama sekali tidak menyahut ucapan Chiko. Namun masih bisa terdengar isakan lirih yng keluar dari bibirnya.
Chiko semakin bingung, dengan cara apa lagi membujuk Chelsea agar mau memaafkannya dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Brukk
Chelsea mendorong kuat tubuh Chiko saat merasa pelukan pria itu mulai mengendur. Alhasil Chiko terjatuh cukup keras.
“Keluar dari sini sekarang juga, atau akan berteriak maling?” Ancam Chelsea penuh amarah.
Chiko bangun. Mungkin untuk saat ini dia memilih pergi dulu. Dia tahu kalau keadaan Chelsea sedang tidak baik-baik saja. dan dia akan kembali besok untuk terus meminta maaf, sampai Chelsea benar-benar memaafkannya.
***
Sementara itu pasangan Reno dan Abi kini tengah menikmati waktu weekend mereka di rumah saja. mengingat istrinya yang baru saja pulang dari rumah sakit, ditambah lagi Abi sedang hamil muda, membuat Reno sangat protektif dan sama sekali tidak membiarkan istrinya kelelahan.
Saat ini mereka berdua sedang duduk santai di halaman belakang rumah. sedangkan Raffael berada di pangkuan Papanya sedang asyik bermain.
Meskipun waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi dan cahaya matahari mulai terik, namun sama sekali tak membuat mereka kepanasan. Hal itu dikarenakan tempat itu sangat teduh.
“Sayang, apa kamu menginginkan sesuatu? Barangkali ingin makan apa gitu. Kebanyakan wanita yang sedang hamil muda pasti mengalami yang namanya ngidam.”
Mendapat pertanyaan seperti itu dari sang suami, Abi hanya mengulas senyum tipis. Memang kehamilan yang pertama dan kedua ini sangat berbeda. Jika dulu saat hamil Raffael, dia sering mual-mual di pagi hari. Bahkan makan saja hanya roti tawar dan susu hangat. Tidak hanya itu, Reno juga mengalami hal yang sama. Namun untuk kehamilannya yang kedua ini, Abi benar-benar tidak mengalami morning sickness.bahkan napsu makannya semakin meningkat.
__ADS_1
“Terima kasih. Tapi memang benar, anak kamu ini tidak menginginkan apa-apa.” Jawab Abi.
“Atau mungkin saja, dia menginginkan Papanya berkunjung ke sana?” tanya Reno dengan kerlingan mata nakal.
Abi menggelengkan kepalanya. Antara lucu dan juga kasihan melihat sang suami harus berpuasa lama.
“Ingat saran dokter, Papa!” Abi berusaha mengingatkan sambil terkikik geli.
“Ok ok. Aku ingat betul saran dokter. tapi kalau dengan cara lain masih bisa kan, Sayang?” sekali lagi Reno berkata sambil mengedip-ngedipkan matanya. sepertinya pria yang sedang haus belaian itu tak putus asa mencari cara agar bisa menyalurkan hasratnya.
“Ada-ada saja.” ucap Abi sambil bergidik ngeri, lalu meninggalkan suaminya. padahal dia takut kalau suaminya meminta bantuannya dengan cara lain.
Melihat istrinya masuk rumah terlebih dulu, senyum smirk terukir dari bibir Reno. Dia kemudian menyusul sang istri masuk, dan mencari keberadaan Bu Mira. Kebetuloan sekali saat Reno baru masuk rumah, terlihat Bu Mira yang baru saja keluar dari dapur.
“Bu, nitip Raffael dulu. Istriku tadi mengeluhkan kakinya capek. Aku akan memijitnya dulu.” Ucap Reno lalu memberikan Raffael pada Bu Mira.
“Baik, Tuan. Memang seperti itu bawaan ibu hamil. Sering capek.” Ucap Bu Mira setuju dengan pernyataan Reno baru saja.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1