Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 54 Menakutkan


__ADS_3

Chiko sangat terkejut mendengar sebuah nama yang baru saja Chelsea sebutkan. Ternyata orang yang ditemui Gavin dulu adalah Tian, musuh bebuyutan Reno. Jadi selama ini Gavin hanyalah orang suruhan Tian yang disuruh mematai gerak gerik Reno agar bisa menghancurkan perusahaan sahabatnya.


Memang Chiko tahu Tian, namun dia tidak bisa mengenali gestur tubuh pria itu saat di cafe dulu.


“Lalu kamu tahu siapa itu Sebastian?” tanya Chiko lagi.


“Dia mantan kekasih Viana.” Jawab Chelsea sambil menghembuskan nafasnya lega setelah melihat Chiko menjauhkan tubuhnya.


“Sekarang antar aku kembali ke café tadi, Tuan! Bukankah anda sudah mendapatkan informasi dari saya?” ucap Chelsea dengan kesal.


“Memangnya kamu mau membayarku dengan apa jika aku akan mengantarmu kembali ke café, hem?” tanya Chiko dan kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Chelsea.


“Please, Tuan! Jangan seperti ini!” ucap Chelsea dengan gugup sambil mendorong da-da Chiko.


Bukannya menjauh, Chiko justru semakin mendekatkan tubuhnya. Bahkan tangan Chelsea sekarang sudah ada dalam genggamannya. Katakan saja dia haus belaian atau apalah, namun yang pasti dia masih ingin mengulangi kegiatannya lagi seperti tadi. yaitu mencium bibir mungil Chelsea. Dan dengan cepat Chiko melakukannya. Membungkam bibir yang hendak protes itu. ********** dengan lembut penuh perasaan. Tak peduli reaksi Chelsea yang terus meronta.


***


Sudah empat hari ini Reno dan Abi berada di luar negeri. dan selama itu juga Reno masih disibukkan dengan urusan kantornya. Bahkan ia sering pulang larut malam. alhasil niatnya mengajak Abi jalan-jalan masih belum terealisasi.


Hari ini Reno hendak pergi ke kantor seperti biasa. Abi sudah menyiapkan setelan kerja untuk Reno, sekaligus sarapannya.


“Bi, kalau kamu mau pergi ke mall, pergilah! Tidak jauh dari apartemen ada mall. Beli sesuatu yang kamu inginkan.” Ucap Reno.

__ADS_1


Reno sengaja memberikan kebebasan untuk Abi. Karena selain merasa bersalah karena telah meninggalkan perempuan itu sendirian terus di apartemen, di sini juga tidak ada yang mengenal Abi. Jadi Reno merasa aman. Dan selama empat hari kemarin, Abi hanya diijinkan Reno pergi ke café dan mini market yang masih dalam satu kompleks dengan apartemen.


“Beneran, Ren?” tanya Abi berbinar.


“Iya. Maafkan aku yang sampai saat ini masih belum bisa mengajak kamu jalan-jalan. Jadi sementara, kamu bisa pergi ke mall untuk cuci mata.” Jawabnya dengan tersenyum.


Setelah selesai sarapan, Reno bergegas pergi ke kantor. seperti biasa, dia akan meninggalakn kecupan di kening Abi. Dan Abi menyambutnya dengan senyuman.


Abi sangat senang setelah diberi ijin oleh Reno untuk pergi jalan-jalan ke mall. Sudah lama sekali dia tidak jalan-jalan ke mall sendirian, walau hanya sekadar cuci mata.


Siang ini Abi telah bersiap pergi. Dia sudah berpenampilan rapi dengan pakaian yang sedikit terbuka. Namun meskipun demikian, pakaian itu masih dalam kategori wajar. Dengan tas selempang dan sepatu kets berwarna putih yang senada dengan baju atasannya, Abi keluar apartemen.


Kini Abi sudah berada dalam mall. Dia berkeliling mencari sesuatu yang hendak dibeli. Sekalian dia juga makan siang di sana.


Saat sedang makan siang, tanpa sengaja Reno melihat Abi juga sedang makan siang di restaurant yang sama. Namun raut wajah Reno berubah dingin saat melihat Abi tidak sendirian. Abi sedang makan siang dengan seorang pria. Pria yang usianya sangat matang. Bahkan lebih tua darinya. Mungkin pria itu pantas menjadi ayah Abi.


Reno semakin marah saat melihat Abi makan sambil bercanda dengan pria itu. Bahkan sesekali pria itu mengacak rambut Abi. Siapa pria itu? Ada hubungan apa Abi dengan pria itu? Apakah Abi sebelumnya sudah membuat janji dengan pria itu? Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam benak Reno. Bahkan sampai kliennya mengajak bicara, ia hiraukan begitu saja.


Darah Reno semakin mendidih saat melihat Abi sudah selesai makan dan pria itu mengajak Abi keluar sambil merangkulnya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Reno masih menjaga wibawanya di depan kliennya.


“Tunggu saja pembalasanku nanti, wanita murahan!” gumamnya dengan mata memerah.


Cukup lama Reno meeting dengan kliennya. Dan setelah meeting selesai, Reno memutuskan untuk langsung pulang. tidak kembali lagi ke kantor. dia sudah tidak sabar meluapkan amarahnya pada Abi yang telah menghianati kepercayaannya.

__ADS_1


Reno memasuki apartemennya. Suasana apartemen masih sangat sepi, karena jam pulangnya lebih awal dari biasanya. Bahkan lampu ruangan masih belum ada yang menyala. Itu tandanya Abi belum juga pulang sampai sekarang.


Reno memasuki kamarnya untuk membersihkan tubuhnya sebelum memberi pelajaran pada Abi. Dia juga sengaja tidak memberitahu perempuan itu kalau dirinya sudah pulang.


Kini Reno sedang duduk di sofa yang ada di kamar sambil menunggu Abi. Dia juga sengaja tidak menyalakan lampu.


Tak lama kemudian tedengar suara pintu terbuka. Abi langsung memasuki kamar dan menyalakan lampu.


“Astaga, Reno!!” pekiknya terkejut saat lampu menyala ada sosok pria sedang duduk di sofa.


“Sudah selesai bersenang-senangnya?” tanya Reno dengan suara dingin.


Abi menatap heran pada Reno. Bahkan tatapan pria itu sangat menakutkan. Lalu Reno beranjak dari duduknya dan mendekati Abi.


“Sudah puas bersenang-senangnya, wanita ja***g?”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2