
Sadar akan sikapnya yang telah mengagumi Reno, Abi menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa kagum dengan sosok pria yang selalu merendahkan harga diri sekaligus menghinanya. Ya, walaupun Abi merasa perlahan sikap Reno mulai berubah lebih baik dan lebih menghargai keberadaannya. Namun tidak bisa dipungkiri jika rasa kagum itu semakin dipupuk akan tumbuh menjadi benih-benih cinta. Dan Abi tidak mau sampai itu terjadi. Mengingat status Reno yang sudah mempunyai kekasih.
“Tidak!!” Ucap Abi sambil menggelengkan kepalanya.
“Apanya yang tidak?” tanya Reno heran.
“Oh.. ehmm.. nggak apa-apa Tuan. Maaf, dan terima kasih.” Ucap Abi gugup lalu menarik tangannya dari genggaman Reno.
Abi segera berdiri dan melanjutkan kegiatannya tang sempat terhenti tadi. untungnya hanya luka kecil meskipun nanti akan terasa panas di kulit. Tapi setidaknya masih bisa dipakai untuk melakukan aktivitas.
“Kamu duduk saja, biar aku lanjutkan.” Ucap Reno yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakang Abi.
Abi yang terkejut pun memundurkan langkahnya, namun justru seperti sedang dalam pelukan Reno. Untung saja tidak ketumpahan kuah lagi. tapi jantungnya yang sekarang justru tidak aman.
Mereka berdua berada dalam posisi yang sangat intim. Reno juga dapat mencium aroma wangi dari rambut Abi. Bahkan ingin sekali dia mengusak rambut itu dan menciuminya.
“Tuan-“
Ucapan Abi terhenti saat kedua tangan Reno sudah memegang sisi bar stool dengan badan Abi berada di tengah. Abi semakin resah dan takut hal buruk terjadi. Tak lama setelah itu Reno mulai menundukkan kepalanya seperti ingin mencium tengkuk Abi. Namun tiba-tiba saja deringan ponsel Reno yang memekakkan telinga mampu menghentikan adegan tak seharusnya itu. Abi pun bergerak cepat keluar dari kungkungan Reno dan membawa sup tadi ke meja.
Reno mengusap kasar wajahnya lalu duduk meraih ponselnya. Ternyata Chiko yang sedang melakukan panggilan.
Karena ada hal urgent yang baru saja disampaikan oleh Chiko, akhirnya pagi ini Reno menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan tidak lagi mempedulikan keberadaan Abi yang entah dimana saat ini.
*
Reno memasuki ruang kerjanya dengan tergesa-gesa. Di dalam sudah ada Chiko yang menunggunya. Menurut informasi dari Chiko, pagi tadi ia mendapat laporan dari karyawan bahwa ada seseorang yang sengaja menyabotase data penting perusahaan dengan tujuan untuk menjatuhkan perusahaan Reno.
__ADS_1
“Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kemarin kamu menyampaikan kalau semuanya baik-baik saja?” tanya Reno yang kini sudah duduk sambil menyalakan laptopnya.
“Sorry, Ren. Aku memang benar-benar tidak tahu dengan masalah ini.” jawab Chiko merasa bersalah.
Reno hanya diam. Tangannya terus menari di atas keyboard meneliti beberapa data penting yang diperkirakan disabotase oleh oknum tak bertanggung jawab.
“Sampaikan ke Yoga, batalkan semua meeting hari ini. dan kamu pergilah ke control room untuk mengecek siapa karyawan yang berani mengacaukan ini semua.” Perintah Reno pada Chiko tanpa mengalihkan tatapannya dari layer laptop.
Chiko menjawabnya dengan anggukan kepala. Setelah itu pergi sesuai dengan perintah Reno.
Reno kembali fokus dengan pekerjaannya. Dia harus menemukan pelaku itu secepatnya. Walau menurut perkiraannya ini akan membutuhkan waktu yang lama. Namun dia sangat yakin bisa mengatasinya sendiri.
Reno memang terkenal sebagai seorang pengusaha sukses yang mempunyai otak brilliant. Sejak dulu ia selalu mengatasi masalah yang terjadi dengan perusahaannya seorang diri tanpa meminta bantuan para ahli dari luar. Dan memang terbukti Reno selalu berhasil.
Sudah hampir satu jam Reno masih fokus dengan laptopnya. Dan selama itu pula pekerjaannya tidak membuahkan hasil. Pekerjaan Reno juga tidak sedikit. Masih ada pekerjaan lainnya yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Tiba-tiba di otaknya teringat nama itu. Reno segera menghubungi Abi untuk dimintai bantuan. Karena memang saat ini hanya Abi yang bisa membantunya. Sedangkan yang lainnya sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Reno kini memghubungi Abi. Dia tahu kalau tangan Abi baru saja terluka. Namun dia sangat membutuhkannya.
“Kamu sedang apa?” tanya Reno saat Abi baru saja menerima panggilannya.
Pertanyaan macam apa itu. Reno merutuki kebodohannya. Dia seperti sedang berbasa-basi saat sedang menghubungi kekasihnya. Seharusnya ia bicara to do point untuk memberikan tugasnya pada Abi.
“…..”
“Masuklah ke ruang kerjaku sekarang. aku akan mengirim beberapa berkas dan kamu harus mengerjakannya sekarang juga. nanti sebelum jam makan siang pekerjaan itu harus sudah selesai.” ucap Reno.
__ADS_1
“….”
“Nanti kamu hubungi aku saja jika mengalami kesulitan.” Pungkas Reno lalu menutup panggilannya secara sepihak.
Setelah menghubungi Abi, Reno kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia mengeram kesal setelah melihat ada data keuangan yang tidak sesuai dan angka nominalnya diubah. Dan sebelum keadaan ini semakin parah, Reno harus melakukan meeting dadakan sekaligus mencari pelakunya.
Reno menghubungi Yoga untuk mengumpulkan karyawan di divisi keuangan karena akan melakukan meeting dadakan.
Sementara Chiko yang ada di control room sejak tadi tidak membuahkan hasil dalam pencariannya. Tak lama kemudian dia mendapat panggilan dari Reno untuk ikut serta meeting dadakan yang akan dilaksanakan sepuluh menit lagi.
Kini dalam ruangan meeting sudah berkumpul karyawan di divisi keuangan. Sekitar dua belas karyawan dalam divisi itu. Reno menatap satu per satu wajah dari karyawannya. Dia sangat yakin kalau satu diantaranya ada pelaku yang sedang ia cari.
Reno segera memulai meetingnya. Dia membahas mengenai data keuangan perusahaan yang diubah dengan sengaja. Jelas Reno menuduh salah satu diantara karyawannya itu.
“Kalian mau mengaku atau saya sendiri yang menemukan pelaku itu?” tanya Reno dengan menunjukkan aura dinginnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1