
Seorang pria yang asing tampak berdiri di samping meja di sebuah cafe yang di tempati dua orang gadis. Yang satu tampak sederhana, dengan rambut yang sangat panjang hingga mencapai paha dan memakai kacamata.
dan yang satu lagi tampa elegan dan tergolong sangat cantik, dengan rambut ikal yang panjang. Dengan memakai jeans dan kaos berwarna pink, dengan sepatu snekers.
"Eh mas ngapain berdiri di situ?" tanya gadis berkacamata.
"Emmmh anu mau minta nomor WhatSaap," ucap pria itu dengan senyuman yang kaku.
"Nomor dia?" tanya gadis berkacamata sambil menunjuk gadis yang ada di hadapannya.
Dan di jawab anggukan oleh pria itu.
"Yaudah catet ini ya bang," ucap gadis itu menatap pria yang mulai was-was. Gadis berkacamata itu hanya terkekeh pelan."0852******. udah itu nomor dia bang catet ya," ucapnya lagi.
"Udah neng, makasih ya," ucap pria itu sambil pergi meninggalkan mereka.
"Woi lu sedeng ya?!" tanya gadis berambut ikal.
"Gue waras kok."
"Lidya Adi Setia, lo barusan kasih nomor Whatsappnya siapa?"tanya gadis berambut ikal.
"Gak tau tuh," jawab gadis berkacamata yang bernama Lidya itu.
Ia menjawab sekenanya saja.
Sontak gadis yang ada di hadapannya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Tutup tuh mulut ntar ada lalet masuk!" ucap Lidya pada temanya itu.
"Lo serius gak tau itu nomor siapa?" tanya gadis itu lagi memastikan.
"Gak! Gue asal sebut aja tadi," ucap Lidya jujur.
"Wahahahaha astagfirullah, sumpah ngakak gue," ucap gadis itu, yang bernama Ayu anjani.
"Sengakak itu ya?" ucap Lidya menaikan alisnya.
"Ya iyalah, lo bayangin ntar gimana dia chat orang yang punya WA itu?" ucap Ayu masih belum bisa menghentikan tawanya.
"Ya bayangin aja," ucap Lidya kekeh.
"Tapi bagus juga trik lo itu," ucap Ayu mengacungkan jempolnya kepada sahabatnya.
"Hah akhirnya makanan dateng juga," ucap Lidya menatap makanan tang baru datang di hadapannya itu.
"Weleh udah laper banget nih anak jin tomang," ucap Ayu meledek.
"Gue tampong juga lo ntar ya!" ucap Lidya sinis, sambil menunjukkan kepalan tangannya.
Ayu tak menggubris perkataan Lidya an melanjutkan makannya.
Lidya mendengus kesal.
"Moga-moga budek beneran! Amin!" ucap Lidya dengan penuh penekanan.
Kletok....
Sebuah sendok mendarat tepat di kepala Lidya.
"Eh nyet! Itu sendok loh!" ucap Lidya meringis kesakitan dan mengelus-ngelus kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Emang ini sendok, sapa bilang ini garpu!" ucap Ayu mengetukan sendok itu ke atas kepala Lidya lagi.
__ADS_1
"Ya allah cobaan apa ini," ucap Lidya menadahkan tangan."Dalam satu hari kenak tokok dua kali ya Allah, dua kalii, dan sangat sakit," ucap Lidya pasrah. Dengan nada di buat-buat seakan mengejek sahabatnya itu.
Wajah Lidya berubah secara drastis saat dia melihat sahabatnya yang diam dan tak peduli dengan dirinya.
Lidya langsung meraih makanannya dan memakan ya dengab wajah tak senang.
Uhukuhuk
Seketika Lidya menghentikan makannya dan menatap sahabatnya yang sudah tersedak, Lidya meraih segelas air dan memberikan pada Ayu.
"Lo kenapa?" tanya Lidya dengan wajah heran tak karuan.
"Gue... Uhuk uhuk...."
Ayu menggantung kalimatnya.
Sesaat kemudian....
"Ahahaha...." tawa yang menggelegar membuat Lidya dan seisi cafe kaget dan menatap Ayu heran.
"Lo kenapa jadi gini sih?" tanya Lidya heran.
Namun Ayu masih saja tertawa bahagia.
"Ini, ini dia, lo pasti belom minum obat 'kan?" tanya Lidya dengan wajah sok tau.
"Semua ini karena lo geblek!" ucap Ayu belum bisa menghentikan tawanya.
"Kok gue?" tanya Lidya dengan jari telunjuk mengarah ke dirinya.
"Karena lo waktu makan, kayak orang gak makan satu tahun!" ucap Ayu dengan suara penuh penekanan.
Lidya mengerutkan alisnya, ia merasa heran.
"Ini biar gue peragain cara lo makan," ucap Ayu meraih makanannya.
Ia memakan dan memeragakan apa yang ia lihat tadi, mulutnya ia majukan beberapa senti, dengan mata yang di pertemukan di antara layaknya orang kero.
"Iss kok gue jadi jijik ya," ucap Lidya bergidik sendiri." apa bener gue makan kayak gitu?" tanya lidya dengan wajah tak berdosa.
"Iya." ucap Ayu berusaha menelan semua makanan yang ada di mulutnya.
Iya meraih jus yang ia pesan dan meminumnya.
Srooot....
Ayu menyemburkan minumannya ke arah Lidya.
Beruntung Lidya langsung mengelak.
"Set dah nih bocah, dari tadi ada aja kurangnya," ucap Lidya kesal.
"It... Itu..." ucap Ayu menunjuk sesuatu yang ada di belakang Lidya.
"Apa pun itu gue gak mau noleh! Ogah!" ucap Lidya, ia tak mau sahabatnya ini kembali mengerjainya.
"Ihh lo harus liat ini," ucap Ayu gemas.
"Gak!" tegas Lidya.
Ayu merasa gemas dan langsung memegang kepala Lidya dan memutarnya ke arah belakang.
Mata Lidya membulat sempurna saat menatap sosok yang tak asing baginya.
__ADS_1
Dengan segera Lidya menepis tangan Ayu dan memalingkan wajahnya.
Degdegdeg
Jantung lqidya langsung memompa begitu cepat.
Pria it adalah Raka sosok pria yang selama ini ia idam-idamkan.
Raka adalah anak dari keluarga Wijaya, yang merupakan saingan besat bagi perusahaan keluarganya.
Cukup lama Lidya mengagumi sosok Raka sejak ia SD, dan hanya bisa menyimpan rasa cintanya di hati.
Cinta dalam diam adalah sebuah rasa yang begitu menyiksa
*****
"Eh Lid lo udah dapet nomor dia belom? Nih gue ada," ucap Ayu menyodorkan ponselnya.
Lidya hanya menatap ponsel itu dengan tatapan kosong.
"Gak ah, gue masih ada harga diri, gue gak mau chat dia duluan," ucap Lidya mendorong kembali ponsel Ayu ke tempat semula.
"Ya setidaknya lo Save aja," ucap Ayu menatap sahabatnya lekat-lekat.
"Gur gak mau," ucap Lidya untuk yang terakhir dengan senyum kecut.
"Lid."
"Hummm," gumam Lidya merespon Ayu.
"Katanya si Raka sekolah di tempat kita juga," ucap Ayu.
"Maksudnya dia daftar di sekolah yang sama kayak kita?" tanya Lidya tak percaya.
"Iya kata om Dharma."
Ya Ayu dan Raka adalah sepupu. Ayah Raka adalah kakak dari ayah Ayu.
"Oh," jawab Lidya singkat.
Lidya kembali melanjutkan makannya.
"Lo kenpa murung?" tanya Ayu dengan wajah prihatin.
"Gak gue keinget aja pesan papa gue," ucap Lidya menjelaskan.
"Kenapa lagi sama bokap lo?" tanya Ayu tak senang.
"Dia ngelarang gue buat jadi penulis," jawab Lidya murung.
"Lah? Sabar-sabar aja ya lu ngadepi orang tua lu itu lid," ucap Ayu menepuk pundak Lidya.
"Padahal itu yang gue mau dari dulu," ucap Lidya menundukkan kepalanya.
"Udah lo tenang aja, takdir lo cuma di dunia kepenulisan, itu semua udah di jelasin kak Ara sendiri," ucap Ayu menyemangati.
Ara adalah kakak kelas mereka ketika SMP Ara gadis yang memiliki indra ke-enam dapat melihat masa depan.
"Percaya gak percaya sih sama omongan dia," ucap Lidya murung.
"Aihh udah intinya lo abisin dulu tuh makanan lo," ucap Ayu menunjuk makanan Lidya yang terbilang masih banyak.
"Gue akan terus usaha! Gue gak akan menyia-nyiakan bakat gue yang satu ini!" ucap Lidya dalam hati.
__ADS_1
Mimpi adalah sebuah tujuan hidup, setiap manusia pasti memiliki mimpi, siapa pun itu.