
Hari itu Daniel memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan langsung kembali ke apartemennya, hingga hari berganti Daniel tetap menunjukkan batang hidung nya di hadapan Caca sama sekali. Sedangkan Caca sudah mulai mendekorasi gedung untuk acara ulang tahun perusahaan Daniel merasa sedikit kehilangan sosok orang yang selalu mengganggu dirinya belakangan ini
"Kemana si orang kaya gila itu ya? tumben dia ga nongol, biasanya dia udah kayak jelangkung aja datang ga di jemput pulang ga di antar. Eh tapi ngapain juga aku mikirin dia, sadar Ca sadar dia bahkan ga ingat kamu ngapain kamu mikirin dia"
Saat Caca dan para pekerja yang dia gunakan sedang sibuk mengubah gedung tersebut asisten Daniel pun tiba di sana dan membawa beberapa jenis minuman serta makanan untuk semua orang yang berada di sana
"Apa masih ada yang ibu Caca perlukan lagi?" ucap sang sekretaris dengan sopan
"Ga ada pak, dan terima kasih untuk makanan dan minuman nya." tersenyum tipis
"Oh ya hampir lupa bu, ini kartu nama saya." menyerahkan sebuah kartu nama
Caca pun tersenyum tipis dan mengambil kartu nama tersebut
"Ibu bisa hubungi saya kapan saja bila ibu memerlukan sesuatu"
"Terima kasih pak"
"Kalau begitu saya permisi dulu bu, saya harus ke apartemen pak Daniel untuk mengantarkan titipan dari dokter Harun"
Degh... Ada sebuah perasaan yang Caca sendiri tak tau perasaan apakah itu saat mendengar bahwa Daniel saat itu kemungkinan sedang sakit
"Apa pak Daniel sedang sakit?"
"Sepertinya pak Daniel sedang demam dari kemarin pak Daniel tidak datang ke kantor, dia meminta saya mengantarkan obat demam ke apartemennya bu. Mari bu saya permisi dulu," ucap sang sekretaris sambil menundukkan sedikit kepalanya
Selepas kepergian sang sekretaris Daniel Caca pun di buat kepikiran akan keadaan Daniel saat itu, hatinya benar-benar tak bisa merasa tenang saat mendengar hal tersebut. Dia tau dengan pasti bahwa Daniel yang sedang jatuh sakit berubah menjadi seseorang yang sangat manja saat dulu kala
"Apa keadaan dia baik-baik aja? gimana kalau dia ga minum obat yang di bawa sama sekretaris dia? dia kan kalau sakit rewel"
Caca teringat saat dulu dia harus meninggalkan kantor dan datang ke apartemen Daniel untuk membawakan Daniel obat, saat Caca tiba di apartemennya Daniel langsung bertingkah layaknya seorang anak kecil yang sedang sakit. Daniel bahkan tak mau melepaskan genggaman tangan Caca sama sekali
__ADS_1
Caca segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Daniel, sedangkan Daniel yang melihat nama Caca di layar ponselnya langsung menjawab panggilan tersebut
"Halo.."
Caca bisa mendengar dengan jelas bahwa suara Daniel saat itu terdengar berat yang artinya keadaan Daniel saat itu tidak baik-baik saja
"Apa aku mengganggu waktu bapak?"
"Ga kok Ca, aku malah senang kalau kamu hubungi aku. Apa ada masalah? aku udah perintahkan sekretaris aku buat bantu semua yang kamu perlukan"
"Oh ya pak, ga ada masalah apapun. Tadi juga sekretaris bapak sudah datang ke sini, tapi saya dengar bapak sedang sakit?"
"Oh ya maaf saya lagi sedikit demam makanya saya ga bisa ketemu kamu"
"Apa bapak mau saya antar kan bubur?"
"Kamu yang antar atau orang lain?"
"Kalau kamu yang antar saya mau, kalau orang lain yang antar bubur itu ga usah merepotkan Ca" ucap Daniel terdengar penuh harap
"Kalau seandainya aku datang ke sana nanti jadi masalah ga ya? seharusnya ga akan masalah sih, anggap aja aku memberikan perhatian klien yang lagi sakit"
"Tapi saya ga tau alamat bapak"
Ada sebuah perasaan bahagia yang tak bisa Daniel ungkapan dengan kata-kata saat mendengar Caca akan menemui dirinya, Daniel pun menyebutkan sebuah alamat kepada Caca membuat Caca langsung diam seribu bahasa
"Ternyata dia masih tinggal di sana ya, apa aku batalin aja ya datang ke sana? gimana juga tempat itu menyimpan sejuta kenangan bagi kami berdua"
Daniel seperti mengerti apa yang ada di dalam benak Caca pada saat itu
"Ca...."
__ADS_1
"Itu pak, maaf sepertinya..."
"Kalau memang memberatkan kamu sebaiknya ga usah datang Ca, karena saya ga mau membebani kamu dengan apapun." ucap Daniel dengan nada suara penuh kekecewaan
"Astaga kalau begini kan kesannya aku jadi orang yang jahat dong, ayo Ca kamu cuma berniat menjenguk orang yang lagi sakit. Jangan terikat dengan masa lalu Ca"
"Bukan gitu pak, maksud saya maaf sepertinya saya agak lama baru sampai sana soalnya mobil saya belum datang"
"Ga masalah kok Ca, saya tunggu kamu ya." tersenyum bahagia
"Ya pak"
Caca pun memilih untuk berbohong tentang alasan mobil yang belum datang, dia pun segera memerintahkan Dira untuk memperhatikan semua orang yang sedang bekerja. Sedangkan Caca langsung meninggalkan tempat itu dan menuju ke apartemen Daniel seorang diri tanpa sang supir
Caca memutuskan berhenti di suatu tempat dan membeli bubur ayam untuk Daniel, saat Caca turun dari mobil dia memperhatikan sebuah mobil yang berada tak jauh dari mobilnya ikut berhenti
"Mungkin cuma perasaan aku aja kali ya"
Caca pun membeli bubur ayam untuk Daniel dan kembali melanjutkan perjalanan ke arah apartemen Daniel, sesekali Caca memperhatikan kaca spion dan mobil itu tetap berada di belakang Caca seolah sedang mengikuti dirinya. Caca sengaja memutar jalanan beberapa kali sebelum dia menuju ke arah apartemen Daniel
"Ini sih udah mulai ga benar nih!! masa dari tadi mobil itu ikutin aku ke mana pun aku pergi"
Rasa khawatir Caca mulai menghilang karena saat dia sebentar lagi masuk ke area apartemen mewah Daniel mobil tersebut mendahului mobilnya dan pergi begitu saja
"Astaga hampir aja aku punya pikiran jelek tentang mobil itu, tapi sebenarnya mobil tadi agak aneh juga. Soalnya aku jalan di jalan yang sama beberapa kali dia tetap ada di belakang aku, tapi bisa juga dia memang ga tau jalan kali ya"
Caca membuang jauh pikiran yang mengganggu benaknya dan mulai melangkahkan kakinya ke arah apartemen Daniel, saat itu hati Caca benar-benar tak karuan. Di satu sisi dia ingin melihat keadaan Daniel tetapi di sisi yang lain hatinya benar-benar enggan untuk datang ke tempat itu
Caca menghembuskan nafasnya dengan kasar dan membulatkan niatnya untuk menjenguk Daniel, sedangkan Daniel benar-benar sudah menunggu kehadiran Caca di tempat itu. Saat suara bel apartemen Daniel berbunyi dengan cepat Daniel membuka pintunya dengan senyuman lebar di bibirnya
"Masuk Ca, maaf tempatnya lagi sedikit berantakan. Aku ga izinkan mbak yang bebersih datang kalau aku lagi di sini," tersenyum dengan bahagia
__ADS_1