Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Pertemuan


__ADS_3

  Mata tajam, melontarkan tatapan yang menyeramkan bagi siapa saja yang melihatnya. Sosok pria dengan jas hitam duduk di sebuah kursi dengan Meja kaca yang luas di hadapannya.


  Meja yang lengkap dengan komputer dan beberapa berkas lainnya. Pria itu tampak sedang mengutak-atik komputer memilah beberapa file


  


  Ketukan pintu membuat pria itu menghentikan aktivitasnya, menatap ke arah pintu yang sudah berdiri seorang karyawan dengan berkas di tangannya.


   "Ada apa?" tanya pria itu pada pekerjanya yang berjalan dengan ragu ke arahnya.


   "Saya ingin memberikan berkas pemasaran yang kemarin, saya sudah memperbaikinya," jelasnya dengan nada gugup dan pandangan tertunduk hormat.


    Pria itu menyungging sinis, "Berikan padaku!" perintahnya, dengan tangan terulur angkuh.


  Tangan karyawan itu begetar hebat saat hendak menyerahkan berkas dengan map merah di tangannya. Dengan kasar berkas itu diterima oleh pria berjas hitam dengan kemeja putih di dalamnya.


   Pria itu mulai membaca sesaat dan setelahnya tatapan tajam terluncur ke hadapan karyawannya. Lalu melempar berkas itu tepat di wajahnya.


  "Apa yang kamu kerjakan selama, ini?! Sampah macam apa yang kamu beri ini? Percuma saya menggajimu jika kerjamu tidak pernah benar, saya mau berkas ini tertata rapi, dan besok sudah ada di meja kerja saya! Paham!" bentak pria itu membuat tubuh karyawan dengan kemeja maron kembali ketakutan.


   "Baik, Pak. Saya akan perbaiki, saya permisi," ucapnya dengan rindukan kepala sebagai rasa hormat.


   Setelah kepergian karyawannya, masuklah seorang pemuda dengan jaket kulit berwarna coklat dengan kaos putih di dalamnya, "Ada apa ini, Raka?" tanya pemuda itu pada sosok pria berkas hitam yang sedang emosi, "Ayo, berbahagia untuk hari ini. Karena kita sudah menang," ujarnya, wajah sumringah diwajah tampan pemuda itu tak dapat ditahan lagi.


   Pria berjas hitam, yang tak lain adalah Raka Wijaya. CEO muda di perusahaan Wijaya setelah kematian Dharma Wijaya tiga tahun yang lalu.


   Wajah Raka sontak berubah mendengar ucapan pemuda itu, "Kabar baik, apa?" tanya Raka dengan tatapan sulit ditebak.


    "Keluarga Adi Setya, gagal dalam investasi besar di Turki, Belanda, dan di China. Mereka mengalami kegagalan investasi dalam waktu yang sama, seperti dugaan kita." Wajah pemuda tampan itu benar-benar menunjukan suatu kepuasan, hal ini juga terjadi pada Raka yang tampaknya lebih bahagia mendengar kabar itu, "Mereka mengalami kerugian besar seperti yang kita duga juga.  Raka kita menang," ucapnya lagi dengan wajah bahagia.


   Raka bangkit dari tempat duduknya berjalan dengan bahagia menuju pemuda itu, dan memeluknya erat. Senyuman tampak merekah di wajah Raka, "Terima kasih atas bantuanmu Alka," ucap Raka dalam pelukan. Tangannya menepuk punggung pemuda bernama Alka itu.


   "Tapi kita belum sepenuhnya menang, Al." Raka melerai pelukannya, menatap  Alka dengan tatapan yang penuh amarah.

__ADS_1


    Alka mengernyit heran mendengar ucapan Raka, "Kita akan membalas Adi Setya, melalui putri mereka Lidya Adi Setya. Kematian Papa tak bisa dibalas hanya dengan kebangkrutan mereka," ucap Raka dengan tatapan penuh dendam.


   Raka memberikan berkas dengan map biru kepada Alka, "Surat perjanjian, berikan ini kepada Adi Setya," ucap Raka menyerahkan berkas itu kepada Alka.


   "Aku akan menyerahkan ini kepadanya," ucap Alka. Namun, langkah Alka terhenti saat Ayu memasuki ruangan.


    "Raka! Apa yang mau lo lakuin sama Lidya? Raka gue juga marah sama keluarga mereka karena kematian Om Dharma tiga tahun yang lalu, tapi Lidya gak terlibat sama perdebatan, itu!" Ayu memasuki ruangan dengan penuh amarah.


     "Aku adalah bosnya! Aku berhak mengmbil keputusan, dan keputusan ini bukanlah hal yang buruk untukmu dan keluargaku!" ucap Raka membela diri.


    "Kak, Raka bener. Udah seharusnya kita membalas," ucap Alka yang ikut membantah Ayu. Alka, seorang pemuda umur dia puluha tahun, adik kandung Ayu anjani Wijaya. Alka kini bertugas menjadi asisten Raka.


   "Gue gak akan terima, ini! Kalian udah kelewatan! Raka, lo harusnya terima, dong. Emangnya dengan cara ini, om Dharma bakalan hidup? Enggak, 'kan? Dengan lo ngerusak kehidupan Lidya, gak akan ngerubah kenyataan! Kematian Om Dharma udah takdir Allah!" ujar Ayu, napasnya menggebu saat usai mengatakan kalimat panjang itu.


    Raka memalingkan wajahnya dengan angkuh, "Al, kita ke kantor perusahaan pusat Adi Setya sekarang!" pinta Raka yang langsung dituruti oleh Alka, yang mengikuti Raka.


    "Raka!" bentak Ayu berusaha menghentikan tindakan Raka. Namun, Raka tetap berjalan tanpa memperdulikan Ayu yang terus berteriak.


    Di depan pintu utama perusahaannya Raka memerintah seorang bodyguard untuk mencegah Ayu mengikutinya. Dengan begitu Raka dapat melancarkan keinginannya dengan sangat mudah.


   Raka menjadi lebih buruk seperti ini semenjak kematian Dharma. Saat itu Dharma terlibat perdebatan dengan Adi, perdebatan hebat itu berujung pada Dharma yang tiba-tiba saja terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Sejak saat itu, Raka terus menyalahkan Adi sebagai penyebab kematian Dharma.


   Karenanya Raka begitu berambisi untuk menjatuhkan Adi, dan kini semuanya berlangsung dengan lancar, tiga tahun memimpin perusahaan besar membuat Raka tak memiliki waktu untuk bercengkrama dengan sahabat dan keluarganya.


    


      *_______*


     Seorang wanita, berambut hitam lurus, dengan kacamata yang membingkai matanya. Wanita berkacamata itu berdiri di tengah-tengah lautan manusia yang memadati bandara Soekarno-hatta.


    "Lidya!" Suara teriakan itu membuat wanita berkacamata itu spontan mengarah ke pemilik suara.


   Tak jauh dari Lidya, Ini berdiri dengan koper yang ia bawa, "Mama dari mana aja? Aku nyariin," ucap Lidya sesaat setelah mendekati Ifni.

__ADS_1


    "Mama, ke toilet bentar," jelas Ifni dengan santainya, wanita paruh baya itu cukup ceria, seakan masih berumur dua puluhan.


   "Ya udah, sekarang kita pulang. Enghh Papa gak nyambut kita, nih." Pandangan Lidya menoleh mencari sosok Adi.


   "Papa lagi sibuk," ujar Ifni yang segera menggandeng Lidya, serta membawanya keluar dari keramaian.


    Tepat di depan pintu utama bandara, berdiri beberapa bodyguard yang talah menanti kepulangan Ifni dan Lidya.


   "Mari saya bantu, Nyonya," ujar seorang bodyguard. 


   "Nggak terasa ya, Ma. Udah sepuluh tahun Lidya di Jepang," ucap Lidya. Pandangannya menatapi indahnya langit malam di kota Jakarta. Gedung tinggi, aroma makanan jalanan, kemacetan, semua hal tentang Jakarta yang sangat ia rindukan, yang selama ini tidak di dapatkan di Tokyo tempatnya menyambung pendidikan selama ini.


   Ifni mengulas sebuah senyum di wajahnya, "Mau mampir beli makanan?" tanya Ifni dengan girangnya.


   Lidya mengangguk senang layaknya anak kecil, "Mau, Ma," jawab Lidya dengan senangnya.


   Mobil akhirnya berhenti disalah satu warung bakso, Ifni dan Lidya cukup menikmatinya tentu dengan iringan tawa kecil.


   Setelah itu mereka membeli beberapa makanan lainnya, hal ini cukup membayar rasa rindu Lidya selama ini terhadap tanah air. Ifni yang juga merasakan hal yang sama dapat melihat betapa bahagianya Lidya kembali ke Indonesia. Kesusahannya selama satu tahun di negeri orang tak seperti anak sulungnya, yang menghabiskan sepuluh tahun di negara itu.


  Ifni benar-benar dapat merasakan apa yang Lidya rasakan, tentu Ifni tak akan sanggup jika harus berpisah sepuluh tahun dengan putri semata wayangnya ini. Setiap tahun Ifni berkunjung ke Jepang melihat keadaan putrinya. Dan tahun ini, Ifni memilih menetap di Jepang. Menghabiskan satu tahun terakhir berasama Lidya di Jepang.


    Perjalanan yang menyenangkan juga akan membawa lelah akhirnya. Ifni dan Lidya sampai di rumah mereka, rumah dengan ornamen yang sama. Cat putih yang berpadu indah dengan warna coklat susu.


    Mereka memasuki ruangan utama, Ifni sedikit heran karena rumah besar mereka itu gelap gulita. Tak ada cahaya.


   "Apa kabar, Lidya." Suara itu cukup membuat Lidya dan Ifni tersentak, suara yang benar-benar bukan suara Adi, perlahan lampu hidup. Memberi penerangan kepada rumah mewah milik keluarga Adi Setya.


   Pandangan Lidya tertuju pada sosok dengan jas hitam dan kemeja putih didalamnya. Alis Lidya menyatu, ingin rasanya Lidya menghambur ke dalam pelukan sosok pria yang sangat ia rindukan. Tapi keinginannya berubah.


   Lidya mendapati Adi, Fahri, dan Alfa sedang berada di sebuah kursi dengan todongan senjata. Ada apa ini? Ifni dan Lidya saling menatap heran.


   Lidya pikir semua ini akan menjadi pertemuan yang manis, Lidya kira Adi telah memberi restu terhadap mereka, tapi nyatanya berbeda. Apa yang terjadi sebenarnya?

__ADS_1


   


__ADS_2