
Daniel yang baru saja kembali ke kantor harus langsung menghadapi Vivian yang menunggu dia di lobby gedung tersebut
"Kita harus bicara sebentar," Vivian memasang wajah memelas
"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," ucap Daniel dengan tegas
"Tapi kamu ga bisa berbuat begini, kita sudah punya perjanjian dan kamu tetap harus membantu saya sesuai perjanjian awal kita"
Entah mengapa Daniel semakin tak suka melihat gadis tersebut, Daniel pun mendekatkan wajahnya ke arah Vivian dan mulai berbisik
"Jangan paksa saya melakukan hal yang tak pernah kamu bayangkan, jika kamu tetap seperti ini jangan untuk mendapatkan posisi yang kamu inginkan. Bahkan saya bisa membuat perusahaan kalian menghilang untuk selamanya." penuh penekanan
Tanpa banyak bicara lagi Daniel segera meninggalkan Vivian begitu saja, dia tak ada niat sedikit pun untuk dekat dengan wanita manapun lagi setelah dia mengingat semua tentang Caca
Sedangkan di tempat yang berbeda Caca sedang terus di bujuk oleh sang papa dan mama Diana agar mau tetap tinggal di kota itu selamanya, sang papa bertujuan untuk menebus semua waktu mereka yang telah terbuang sedangkan mama Diana tak ingin lagi berpisah dengan Ical
Dan kini apapun yang akan di lakukan oleh Vivian dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri, karena seluruh keluarga Perkasa tak mempunyai keinginan untuk melawan keputusan final dari seorang Daniel. Sudah pasti itu semua membuat Vivian semakin membenci keberadaan Caca di kota itu
Prang... Sebuah gelas kaca melayang dan terbanting hingga hancur berkeping-keping
"Semua karena perempuan itu!! sekarang papa bahkan udah ga mau bicara sama aku karena papa anggap aku gagal menaklukkan Daniel, kalau terus begini aku yakin papa ga akan serahkan perusahaan ke tangan aku!! kalau aku ga bahagia kalian juga ga berhak untuk bahagia!!"
Dan waktu pun terus berlalu Faizal pun akhirnya sudah di izinkan untuk keluar dari rumah sakit, sedangkan Daniel yang mengetahui hal tersebut sudah berada di rumah sakit dari pagi buta. Kedekatan hubungan antara Daniel dan Faizal membuat Caca semakin merasa khawatir akan itu semua
"Maaf pak apa kita bisa bicara sebentar?"
Daniel pun menganggukkan sedikit kepalanya dan mengikuti Caca keluar dari ruang rawat Faizal
"Ada apa?"
__ADS_1
"Apa belakangan ini perusahaan bapak sedang tidak ada kerjaan?" Caca menatap tajam ke arah Daniel
"Maksud kamu?" mengerutkan keningnya
"Kenapa hampir setiap hari bapak datang ke sini? dan terkadang bapak datang sampai dua kali dalam satu hari"
"Karena saya bisa gila bila tidak melihat wajah kamu dan anak kita Ca," menatap serius ke arah Caca
"Dan sekarang bahkan masih jam segini bapak sudah ada di sini," ucap Caca dengan serius
Daniel pun menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk menutupi semua gejolak di dalam dadanya
"Karena sampai saat ini kamu belum juga menghubungi saya, sedangkan waktu ulang tahun perusahaan semakin dekat." dengan wajah datar dan nada suara yang tegas
Caca hanya terdiam dan mencoba menatap jauh ke dalam mata Daniel dia berusaha mencari kebenaran dari ucapan Daniel, dan Daniel berhasil memainkan peran nya dengan baik karena Caca tak berhasil menemukan apapun dari kedua bola mata Daniel
"Jadi kapan kamu akan datang ke perusahaan saya untuk membahas masalah ini dengan serius?"
"Siang ini saya akan datang ke perusahaan bapak"
"Oke, kalau gitu saya akan tunggu di perusahaan saya siang ini"
Tiba-tiba saja Daniel melangkahkan kembali kakinya ke arah pintu ruang rawat Faizal, melihat hal tersebut secara spontan Caca langsung memegang tangan Daniel
"Sekarang bapak mau ngapain lagi?"
"Saya cuma mau pamit sama Ical, kenapa? kenapa saya ngerasa kamu ga suka saya dekat sama anak kamu?" Daniel menatap ke arah Caca dengan seksama dan nada suara penuh penekanan
Caca yang tersadar pun langsung melepaskan tangannya
__ADS_1
"Bukan seperti itu pak, saya cuma ga suka ada orang lain yang terlalu dekat dengan anak saya." lirih dan menundukkan kepalanya
"Tapi saya kan bukan orang lain," dengan lembut
Caca langsung menatap ke arah Daniel dengan serius
"Saya adalah penyelamat anak kamu," tersenyum dengan hangat
"Ga, ini pasti cuma perasaan aku aja. Kenapa aku ngerasa dia yang barusan sama dengan dia yang dulu saat menatap aku? aku harus cari tau semuanya, aku ga mau lagi jadi Caca yang bodoh seperti dulu"
Daniel pun segera meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan sang buah hati, seribu penyesalan kembali menghampiri hati Daniel pada saat itu. Mengingat semua yang pernah dia lakukan terhadap Caca dan mengingat waktu yang telah terbuang di antara mereka, dan kini bahkan buah cinta mereka sudah tumbuh sebesar itu
Sedangkan Caca benar-benar sudah semakin curiga terhadap Daniel, dia benar-benar sudah bertekad untuk mencari tau apakah Daniel benar-benar masih tak mengingat dirinya
Setelah mengurus semua keperluan Faizal untuk keluar rumah sakit Caca pun membawa sang buah hati kembali ke kediaman keluarganya, Caca yang ingin mencari tau kebenaran tentang Daniel memutuskan untuk pergi seorang diri tanpa di dampingi oleh Dira seperti biasanya
Tak butuh waktu yang lama Caca pun sudah berada di depan sebuah gedung pencakar langit yang penuh kenangan bagi dirinya, Caca sempat berdiri di depan gedung tersebut dengan mengingat semua kenangan manis dan pahit yang dia punya
"Aku ga pernah menyangka kalau aku bisa menginjak kan kaki aku lagi di tempat ini, sebuah tempat yang membuat aku bangkit dari kesedihan dengan mudah tetapi meninggalkan kesedihan yang lebih menyakitkan"
Caca membuang nafasnya dengan kasar dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung tersebut, dan dia pun langsung di arahkan ke ruangan Daniel oleh resepsionis yang berada di tempat itu sesuai perintah dari sang penguasa gedung tersebut
Baru saja Caca tiba di ruangan Daniel dan Daniel pun segera mengambil jas kebesarannya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu
"Kita bahas di luar aja ya sekalian makan siang"
Caca pun tersenyum tipis karena akhirnya kesempatan untuk membuktikan kecurigaan dirinya sudah terbuka di depan mata, sedangkan Daniel saat itu tak memiliki pemikiran apapun. Mereka pun menuju ke sebuah rumah makan yang cukup ternama di kota
Kecurigaan Caca pun semakin menguat saat mereka tiba di tempat itu, karena dulu kala Daniel sering membawa Caca ke tempat itu karena makanan di tempat itu sangat sesuai dengan lidah Caca
__ADS_1