
Gilang dan Laila baru saja selesai menunaikan Shalat Ashar. Kini Laila sedang merapikan mukena yang baru saja ia pakai, dan Gilang beralih duduk di pinggir ranjang sambil mengecek ponselnya.
Tiba-tiba ada yang menelepon. Dan Gilang langsung mengangkatnya.
"Halo,,"
"........."
"Oh, iya pak. Tunggu sebentar, saya segera keluar." Ucapnya kemudian mematikan sambungan dan berlari keluar kamar.
Laila menatap tingkah suaminya itu dengan wajah cengo. Baru kali ini ia melihat Gilang berlari seperti itu. Memangnya ada apa? Apa mungkin terjadi sesuatu hingga membuat suaminya itu berlari seperti barusan? Tapi, sepertinya ia tidak cemas.
Bahkan, Laila melihat sendiri Gilang sedikit tersenyum saat menerima panggilan tersebut. Sudahlah. Ia menunggu suaminya kembali.
Dan benar saja, tak kurang dari 3 menit Gilang sudah kembali dengan berlari. Suaminya membawa bungkusan yang sepertinya sebuah paket.
"Sayang,, ini pesanan kamu." Ujarnya dengan wajah senang.
"Pesanan aku?" Ucapnya bingung. "Memangnya aku pesan apa, mas?" Tanya Laila.
Gilang bedecak pelan. "Ayo sini kita buka. Kamu tadi kan minta ini." Ajaknya yang mulai membuka bungkusan tersebut menggunakan gunting.
Laila duduk di hadapan Gilang dengan rasa penasaran. Saat bungkusan itu terbuka sepenuhnya, Laila pun tersenyum senang melihatnya.
"Mas, ini apel putih?" Tanyanya tak percaya.
"Iya, sayang. Ini apel yang kamu minta tadi." Kata Gilang membenarkan.
"Hwaa,, aku mau makan sekarang." Ucapnya.
Tanpa menunggu persetujuan Gilang, Laila langsung menyambar satu buah apel tersebut dan mencucinya di wastafel. Gilang hanya menatap gerak gerik istrinya itu.
Ditengah keterdiamannya, Gilang menyadari jika ia merasa bahagia saat melihat Laila bahagia. Bahkan, ia merasa takut kehilangan wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya itu. Entah bagaimana nanti jika mereka benar-benar berpisah.
Ia tak akan membiarkaan hal itu. Tak akan ada kata perpisahan. Ia berjanji akan selalu menjaga Laila dan anak-anaknya kelak. Ia akan mempertahankan pernikahannya. Biarlah maut yang memisahkan mereka.
Laila mulai memakan buah tersebut setelah ia potong tanpa mengupasnya. Gilang hanya memperhatikannya.
"Mas, mau?" Tanyanya menyodorkan sepotong apel ditangannya.
__ADS_1
"Ini. Haa." Ujarnya memberi isyarat agar Gilang membuka mulut.
Gilang menuruti apa yang dititahkan istrinya itu. Lalu, ia menerima suapan apel tersebut. Tiba-tiba Gilang merasa sedih saat teringat kembali ia sempat meragukan bayi yang dikandung Laila.
Ia bahkan hampir saja menceraikan Laila dan hampir kehilangan calon bayi mereka. Matanya berkaca-kaca mengingat hal itu.
Laila menyadari perubahan wajah Sang suami. Ia menatap Gilang lekat. "Mas kenapa?" Tanyanya lembut, terdengar merdu di telinga Gilang.
Satu hal yang tidak disadari Gilang semenjak mereka menikah. Laila selalu berucap lembut padanya, dengan nada suara rendah yang sepertinya sengaja dibuat Laila untuk tetap menjaga kesopanannya sebagai seorang istri. Bahkan, disaat ia mengabaikan Laila, gadis itu tetap menjalankan kewajibannya mengurus Gilang.
"Mas,, kenapa? Apa mas sakit? Atau ada masalah?" Tanya Laila yang semakin penasaran.
Setetes bulir bening berhasil lolos dari mata Gilang, dan segera ia menghapusnya.
"Maafin aku." Ucapnya. "Maafin aku, La. Selama ini aku selalu mengabaikan kamu. Aku bahkan, hampir saja membuat kita kehilangan dia." Gilang menatap kearah perut Laila.
"Maaf ya, La. Aku sempat meragukannya. Aku udah nyakitin kamu. Dan karena aku, mata ini sering ngeluarin air mata." Ucap Gilang penuh penyesalan. Ia mengusap pipi Laila setelaah menyentuh kelopak mata indah milik istrinya itu.
"Mas. Aku udah maafin mas, kok. Sekarang aku udah nggak mau mengingat-ingat semua yang terjadi dulu. Aku mau kita menjalani kehidupan kita yang lebih baik kedepannya." Laila membalas tatapan Gilang dengan tatapan hangatnya.
"Terima kasih ya, sayang." Ucap Gilang kemudian merengkuh Laila ke dalam pelukannya.
Ia tak mau apa yang dialami Faizan dulu juga terjadi padanya. Ia bersyukur Allah membuka mata hatinya sebelumnya semuanya terlambat, sebelum ia diberikan teguran yang jauh lebih berat dari apa yang didapat Faizan dulu.
Dan dari kisahnya dan sahabat-sahabatnya, Gilang berharap dapat dijadikan pelajaran bagi siapapun yang membaca. Agar tidak mengalami penyesalan karena menyia-nyiakan pasangan yang tulus.
Karena, rasa sakit dan penyesalan itu sangat menyiksa. Terlebih jika kita tak lagi bisa menebus kesalahan itu dengan mendapat kesempatan kedua. Maka, manfaatkanlah kesempatan yang ada untuk menorehkan cerita indah bersama pasangan.
**The End.....
Tamat.
Tapi Bohong,,,, Wkwkwkkwkwkwkkw**......
Ulfi baru saja pulang dari acara Camping-nya. Ia memasuki rumah dan bertemu kedua orang tuanya di ruang keluarga. Setelah berbincang sebentar, Ia pamit untuk ke kamar.
Namun, saat melewati ruang santai di lantai 2, ia melihat Anetha duduk termenung di sofa. Entah apa yang dipikirkan kakaknya. Ia melihat ke arah meja, namun pandangan Anetha kosong.
"Kak!" Sahutnya hendak membuyarkan lamunan sang kakak. Namun, hingga ketiga kalinya ia menyahut, tak ada respon apapun dari Anetha. Ulfi semakin merasa aneh.
__ADS_1
"Kak!" Panggil Ulfi lagi dengan suara yang dikeraskan. Seketika Anetha langsung tersadar dari lamunannya.
"Kakak kenapa melamun disini?" Tanya Ulfi heran. Pasalnya beberapa hari lagi adalah hari pernikahan sang kakak. Namun kenapa Netha masih berdiam diri disini?
"Kamu udah pulang?" Tanyanya mengabaikan pertanyaan Ulfi.
Kamu? Yang benar saja? Sejak kapan kakaknya merubah panggilan dan nada bicaranya menjadi lembut seperti ini.
"I,, iya. Kakak bukannya harus mempersiapkan diri sebelum acara pernikahan, ya? Ke Salon atau ke butik gitu."
Netha menelan salivanya yang terasa mencekat di tenggorokannya. Ia membuang pandangannya ke arah lain agar tak beradu dengan sang adik.
"Itu,, semuanya udah siap kok. Kata Papa udah disiapin sama keluarga temannya." Jawab Netha.
Ulfi hanya ber-oh ria. Meski ia merasa janggal dengan sikap sang kakak, namun ia haruss menunjukkan sikap percayanya sekarang. Toh ia bisa mencaritahunya.
Setelah mengakhiri sepatah kata itu, Ulfi beranjak meninggalkan Netha yang kembali hening. Wajahnya benar-benar gusar.
Entah mengapa Netha merasakan tidak tenang. Ia mencemaskan pernikahannya yang akan terjadi beberapa hari lagi.
Perasaannya begitu kalut, seperti ada firasat buruk tentang pernikahannya nanti. Apakah ini sudah keputusan yang benar yang ia ambil? Tapi, ini semua ia lakukan demi keluarganya, terutama sang ayah yang sangat ingin menyatukan keluarga mereka dengan keluarga sahabatnya.
Ponsel Netha berdering. Disana tertulis nama Mayang. Ia mendengus saat melihat layar ponselnya. Pikirannya sedang kacau dan temannya yang tidak tahu diri itu masih menghubunginya.
Untuk apa lagi kalau bukan membicarakan tentang Gilang. Untuk saat ini ia tak ingin mengurusi Gilang dan istrinya. Masalahnya sudah membuat kepalanya serasa ingin pecah.
Namun, sepertinya Mayang tak menyerah. Ia terus saja menelfonnya. Mau tak mau Netha mengangkat panggilan tersebut.
"Apa sih, May? Gue lagi pusing banget sekarang, dan gue nggak mau bahas apapun apalagi mengenai Gilang."
"Ihh,, kok lo gitu sih, Net? Lo nggak pengertian banget jadi temen." Ucap Mayang terdengar kesal.
Netha geram mendengarnya. "Lo yang nggak pengertian ya, May. Dari kemaren-kemaren lo juga udah tau kan kalau gue lagi ada masalah. Tapi lo masih aja bikin gue pusing sama niat dan rencana busuk lo. Mendingan sekarang lo berhenti ngejar Gilang. Masih banyak kok cowok di luar sana yang mau sama lo." Tegas Netha marah.
"Gue minta sama lo, jangan ganggu Gilang lagi. Berhenti jadi pelakor, May." Netha memutus sambungan setelah mengatakan hal itu.
Jujur saja, ia muak menuruti semua perbuatan buruk Mayang. Kini ia ingin fokus mengurus dirinya sendiri.
Bersambung......
__ADS_1