
.
.
Drrrrtt,, drrrtt,,,, Ponsel Gilang yang kembali berdering membuatnya dengan sigap mengangkat panggilan tersebut, berharap ada kabar mengenai istrinya.
Namun, sayang. Kala ia melihat layar benda pipih itu, ia malah gugup. Tertera nama sang ayah disana.
"Halo, pah." Ucapnya berusaha setenang mungkin.
"Kamu dimana?"
"Baru sampai rumah, ada perlu sama mama." Katanya.
"Baguslah. Mama kamu dari tadi nungguin kamu."
Gilang memasuki rumah dengan langkah tegasnya. Ia langsung menuju ruang tengah menghampiri kedua orang tuanya. Dilihatnya sang mama yang menatapnya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Ada apa, Mah?" Tanyanya langsung.
"Mana istri kamu? Kenapa kamu sendirian datangnya?"
Gilang menelan salivanya. "Aku mau berangkat kantor, kebetulan mampir. Makanya nggak ngajak Laila." Jawabnya.
Bu Anne menatapnya lekat. Gilang merasa takut jika sang Mama mengetahui dirinya tengah berbohong.
"Mama ingetin sama kamu, Gilang. Kamu harus bersikap tegas. Jangan mau-mau aja dideketin lagi sama perempuan-perempuan nggak bener itu. Atau kamu akan menyesal nantinya." Tegas Bu Anne memperingatkan.
Gilang menghela napas panjang dan melepasnya. Ia lalu berlalu. Bu Anne dan Pak Farhan saling pandang kala sang putra berlalu meninggalkan mereka dalam keheningan.
Bu Anne semakin dilema saat melihat sikap sang anak yang begitu tenang. Apa Gilang tak mencemaskan Laila yang menghilang? Huh,, kenapa anaknya sangat bodoh memahami perasaannya sendiri. Ia jadi bingung sekarang dengan perasaan Gilang pada menantunya.
"Mah, apa ini akan baik-baik aja? Bagaimana kalau Mas Rafli tau tentang masalah ini?"
"Papa tenang aja. Mama cuma mau menjalankan rencana mama ini beberapa hari aja, pah. Mama akan mengakhiri semuanya sebelum Mas Rafli dan Mbak Nora kembali ke Jakarta." Jawab Bu Anne.
Pak Farhan terlihat menghela napas lega. Ya, setidaknya tak akan ada masalah baru yang muncul nantinya.
__ADS_1
.
.
Gilang memukul stir mobil. Perasaannya bercampur aduk. Ada rasa cemas, sedih, kecewa dan marah. Ia benar-benar sulit mengontrol emosinya saat ini. Yang ia pikirkan hanya keberadaan istrinya. Entah dimana wanita yang ia cintai itu sekarang.
Selepas berlalu dr hadapan kedua orang tuanya, Gilang tak langsung pergi ke kantor. Ia berdiam diri di mobilnya. Dan kini ia melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah sang tante. Ia akan menemui Ulfi lagi. Siapa tau ada kabar.
Ia langsung memencet bel. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. Gilang langsung masuk, namun langkahnya terhenti di depan tangga kala mendengar perbincangan dua wanita muda yang ia kenal.
"Ya ampun, jadi istrinya Gilang itu kabur sama selingkuhannya? Kasihan banget Gilang, Net. Gue kira dia itu beneran cinta sama Gilang. Tapi, ternyata dia tega ninggalin Gilang..."
Gilang mengepalkan tangannya kuat. Sakit sekali mendengar pernyataan yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarnya. Apa benar yang dikatakan Mayang? Apa benar istrinya pergi bersana selingkuhannya?
Gilang tak menyangka Laila akan setega ini padanya. Gilang merasa hatinya ditusuk ribuan jarum. Sangat sakit.
Gilang melupakan niat awalnya yang hendak menemui Ulfi. Ia beranjak dari rumah mewah itu, dengan luka tak terlihat yang menusuk dadanya. Ia takkan pernah memaafkan Laila jika benar apa yang dikatakan oleh Mayang itu benar.
"Aaaaarggghh.." Teriaknya. Ia sudah kembali berada di dalam mobil.
"Gue nggak akan nyari dia lagi." Ucapnya geram dengan wajah memerah. "Laila,,,, Kamu akan merasakan akibatnya karena udah berani khianatin aku." Ucap Gilang dengan tangannya yang mengepal kuat.
Bel rumah berbunyi, ia pun segera membukakan pintu. Namun tak ada siapapun, selain sebuah amplop berwarna kuning kecoklatan yang tergeletak di lantai. Laila memungutnya.
"Siapa yang ngirim ini?" Gumamnya penuh tanya. Setelah memastikan keadaan sekeliling, Laila kembali masuk ke dalam rumah.
Tanpa rasa curiga ataupun waspada, Laila mulai membuka amplop kertas tersebut. Ia mengernyitkan dahinya memihat isi amplop yang merupakan kertas dengan banyak warna menghiasinya. Matanya membulat dengan mulutnya yang ikut terbuka melihat nama yang tertera.
Nama suaminya dan Kalista? Siapa Kalista? Laila menelan salivanya susah payah. Bagai dihantam batu besar, Laila merasa sesak di dadanya. Bukankah Kalista mantan kekasih Gilang? Oh dirinya ingat beberapa waktu yang lalu bertemu dengan gadis modis itu.
Jadi, Kemunculan Kalista karena gadis itu akan bertunangan dengan suaminya? Dan Mama mertuanya mengasingkannya disini?
"Ja,, jadi,,, ini alasan mama ngelakuin ini? Jadi, bener mama mau mempercepat perpisahan aku sama mas Gilang?" Ucap Laila dengan suara dan tubuh bergetar.
Ia berusaha menahan emosinya yang kini tidak stabil. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Laila membiarkan air matanya meluruh membasahi pipinya. Tidak. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh membiarkan suamunya menikah dengan wanita lain. Bagaimana nasib anaknya nanti. Laila harus memberitahukan kehamilannya pada Gilang.
Laila berlari ke kamar yang ia tempati semalam untuk mengambil tasnya. Ia harus pulang bagaimana pun caranya. Setelah memgambil tasnya, Laila segera keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Dengan hati yang gusar, Laila melihat ke sekitar kompleks. Ia mencari sesuatu yang bisa memberi petunjuk untuknya mengenai daerah ini. Ia merasa sedikit senang saat melihat seseorang keluar dari salah satu rumah di kompleks tersebut.
"Bu,,, ibu,,," Laila menghampiri dengan sedikit berlari.
"Ada apa ya, mbak?" Tanya ibu-ibu tersebut.
"Maaf, bu. Saya mau nanya. Ini nama daerahnya apa, ya? Saya lupa, soalnya saya baru sehari disini. Dan kemaren juga diantar saudara." Katanya.
"Oh, ini di komplek Mutiara 3, Kec. M Kota K, mbak." Jawab ibu-ibu tersebut.
"Makasih, ya bu." Ucap Laila.
Laila mencari di Google nomor kontak taksi san memesannya. Beruntung ponsel yang diberikan ibu mertuanya memiliki kuota internet. Yang Laila pikirkan sekarang adalah, harus segera bertemu dengan suaminya.
Selama di perjalanan ia terus merapalkan doa agar semuanya baik-baik saja. Ia tak ingin pernikahannya hancur hanya dalam waktu yang singkat. Bagaimana pun Laila akan membuat Gilang mencintainya jika memang hingga sekarang belum ada namanya di hati suaminya.
Karena terlalu gusar, tanpa sadar Laila kembali menangis. Perasaannya benar-benar bercampur aduk. Ditambah lagi hormon kehamilannya yang membuatnya menjadi labil. Ia merasa perjalanannya sangat jauh.
"Kenapa lama sekali, yaa Allah..." Dalam hati Laila tak hentinya berucap.
Hingga setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, taksi yang ia tumpangi memasuki komplek tempat ia dan suaminya tinggal. Ya,Laila menyewa taksi tersebut untuk mengantarnya hingga ke rumahnya. Meski ia harus memohon pasa supir taksi tersebut.
"Makasih ya, pak." Ucapnya saat akan turun.
Laila melihat rumah yang sepi. Gerbang terkunci dan tak ada penjaga disana. Ia pun melihat ponselnya, sudah sore ternyata.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Suaminya datang. Hah,, tepat sekali waktunya. Ia dengan tak sabar hendak menghamprii Gilang, namun sepertinya suaminya sedang merasa tidak baik. Ya, dilihat dari wajah Gilang yang dingin saat turun dari mobil. Lelaki itu membuka gerbang dengan kunci yang ia bawa.
.
.
.
Bersambung....
.
__ADS_1
.