Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Pahlawan


__ADS_3

Selepas kepergian Caca Adel pun langsung mengirimkan dua buah pesan kepada dua orang, yang pertama dia tujukan kepada Rizal


"Aku kira kamu ga tertarik sama perempuan kak, haha... Ternyata selera kamu gadis seperti Caca ya.. Tapi tenang aja kak aku akan dukung hubungan kalian berdua, tapi ingat kamu ga boleh sakiti perasaan sahabat aku itu ya"


Di seberang sana Rizal pun tersenyum tipis membaca pesan yang di kirimkan oleh Adel


"Ternyata mereka saling kenal ya? bagus lah, semoga mereka berdua bisa saling mengisi kekosongan hati mereka"


Dan pesan kedua yang di kirimkan oleh Adel di tujukan untuk Abian


"Apa bisa ketemu sebentar? ada sesuatu yang perlu aku tanya ke kamu"


"Oke, kamu bisa ke ruangan saya"


Tanpa menunda waktu Adel pun segera melangkahkan kakinya ke arah ruang kerja Abian, dan kini Adel sudah berdiri tepat di hadapan Abian tanpa rasa takut sama sekali


"Ada apa? kalau kamu mau membahas hal yang tidak penting sebaiknya kamu keluar dari ruangan saya," dengan tegas


"Apa kalian punya niat terselubung kepada Caca?"


Abian hanya terdiam dan menatap malas ke arah Adel


"Pertama secara tidak langsung kamu ungkap masa lalu Caca depan kami semua, lalu menerima kami dengan mudahnya di perusahaan ini. Dan sekarang posisi Caca di pindahkan dengan cara yang aneh, apa alasan itu belum cukup untuk di jadikan alasan saya curiga terhadap kalian?"


"Memang cocok kamu jadi penerus mereka, kamu yang seperti ini membuat saya ga pernah pantas untuk menerima perasaan kamu"


"Kamu terlalu banyak berpikir," dengan santai


"Semoga aja apa yang kamu ucapkan itu benar adanya, karena sepanjang hidup saya ini saya belum pernah merasa ada seseorang yang dekat dengan saya secara tulus. Jadi saya ga mau ada seseorang yang menyakiti orang yang sudah saya pilih untuk jadi teman," dengan tegas


"Lalu apa yang bisa kamu lakukan? sedangkan kamu aja saat ini berada di sini," tersenyum mengejek

__ADS_1


"Kamu mau bilang saya seperti orang bodoh?" tersenyum dingin


Abian hanya terdiam dan menatap malas ke arah Adel


"Mungkin saya memang cuma perempuan yang di butakan oleh perasaan, tapi saya tetap tidak akan tinggal diam saat kalian berbuat sesuatu yang berlebihan kepada orang yang penting bagi saya." penuh penekanan


"Urusan saya sudah selesai pak, saya permisi dulu"


Abian hanya terdiam dan memasang wajah datar, Adel pun langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu. Tiba-tiba saja Adel menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan pintu


"Dan kamu juga ga usah terlalu besar hati, ini akan jadi perjuangan terakhir saya buat kamu. Terus lah seperti ini maka saya akan menyerah kepada kamu untuk selamanya," tanpa menoleh sama sekali dan keluar dari ruangan tersebut


Abian di buat terpaku akan ucapan terakhir Adel, dia pun teringat kembali semua perjuangan Adel untuk dirinya selama ini. Wanita yang bisa mendapatkan semuanya di dalam hidupnya telah banyak melakukan hal-hal yang sulit untuk bisa dekat dengan dirinya


"Mungkin itu lebih baik, karena sampai kapan pun saya akan merasa tidak pantas untuk menerima perasaan kamu. Sekuat apapun saya berjuang untuk bisa layak berdiri di samping kamu hasilnya akan sia-sia"


Sedangkan di meja kerjanya Caca tak merasakan keanehan apapun, dia di berikan tugas yang layak dan partner kerjanya pun banyak mengajari dia sesuatu yang tidak dia pahami. Serta Daniel pun menunjukkan sikap yang biasa saja terhadap dirinya


Dan hari itu Daniel ada sebuah pertemuan dengan seorang yang penting di luar kantor, saat itu Daniel memilih untuk membawa Caca karena asisten yang satu lagi sedang banyak tugas. Saat itu Daniel memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri tanpa sang supir karena dia ingin mendekatkan diri kepada Caca


Awalnya semua berjalan lancar karena makan siang itu berjalan dengan lancar di sebuah hotel yang cukup ternama, tetapi kejadian yang tak terduga pun terjadi. Saat mereka akan keluar dari hotel tersebut berpapasan dengan Leo dan Siska yang baru saja tiba di sana


Siska yang berlatar belakang sebagai seorang artis menjadi ambasador dari produk yang di keluarkan oleh perusahaan Leo, dan saat itu hotel tersebut di jadikan tempat untuk launching produk terbaru mereka


"Wah siapa ini?" tersenyum mengejek


Caca pun tak mau ambil pusing dan tetap melangkahkan kakinya melewati kedua orang tersebut, sedangkan Daniel hanya melirik sekilas ke arah mereka melihat Caca tetap melangkahkan kakinya dia pun melakukan hal yang sama. Sedangkan Siska yang merasa di abaikan langsung memegang tangan Caca


"Apa kabar Ca? kamu habis ngapain keluar dari hotel jam segini Ca?" dengan nada suara mengejek


Leo pun langsung memasang wajah kurang suka

__ADS_1


"Jangan bikin malu, di sini banyak wartawan"


"Aku bukan mau bikin malu sayang, tapi gimana juga Caca ini teman kita." tersenyum


"Kalau kamu memang butuh uang kamu tinggal bilang sama aku dan kak Leo, kami pasti akan bantu kamu Ca"


Caca hanya terdiam dan memandang malas ke arah Siska


"Jangan lakukan hal yang memalukan hanya untuk uang," berbisik


Entah mengapa hati Leo pun sedikit marah melihat Caca berada di tempat itu, Leo sudah membayangkan bahwa Caca melakukan hal yang memalukan hanya untuk bertahan hidup


"Yang Siska bilang bener Ca, kalau kamu butuh apapun kamu bisa cari aku. Jangan sampai kamu.."


Caca pun langsung menatap tajam ke arah Leo membuat Leo tak jadi melanjutkan ucapannya


"Lepasin tangan aku," penuh penekanan


Siska pun melepaskan tangan Caca, Caca yang merasa hatinya sudah hampir meledak pun memilih untuk meninggalkan mereka. Tetapi Siska yang merasa belum puas mulai membuka suara dengan suara yang sedikit besar


"Kamu ga usah merasa malu untuk meminta bantuan kami Ca, dari pada kamu harus menjual diri kamu sama laki-laki hidung belang. Gimana juga kamu cuma seorang mantan narapidana, pasti susah bagi kamu mendapatkan pekerjaan yang layak!!"


Caca pun menghentikan langkah kakinya dan menundukkan kepalanya


"Kalian berdua tau yang sebenarnya, apa kalian juga harus menghina aku sejauh ini? kenapa aku masih belum punya keberanian untuk menghadapi kalian berdua?"


Tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam erat tangan Caca dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Siska dan Leo


"Apa kalian pikir orang saya bisa kalian hina dengan mudah?" penuh penekanan


Kata-kata yang Daniel lontarkan membuat ketakutan Caca menghilang begitu saja, Caca menatap ke arah Daniel dengan tatapan kagum bagaikan melihat seorang pahlawan yang sedang membela kebenaran

__ADS_1


__ADS_2