Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
Membuat Pilihan


__ADS_3

Waktu terus berlalu dengan sangat cepat dan di tempat nan jauh di sana Caca terbukti bisa mengelola toko bunga yang dia punya dengan baik, tetapi akhirnya hal itu pun terjadi. Dari pagi hari Caca merasakan badannya sedikit terasa aneh, bahkan dia menjadi mual dengan mencium bau nasi


Caca sudah berulang kali pergi ke toilet dan mengeluarkan kembali semua yang berada di dalam perutnya, bahkan kini Dira nama gadis yang membantu Caca di toko tersebut sudah mulai merasa khawatir


"Apa ga sebaiknya kita pergi ke klinik mbak? seenggaknya mbak bisa di periksa"


Caca yang sudah merasa benar-benar lemas hanya menjawab dengan melambaikan tangannya


"Tapi mbak muka mbak sekarang udah keliatan pucat banget, ayo mbak dan mbak ga boleh nolak biar aku antar mbak ke klinik"


Dengan sedikit desakan dari Dira akhirnya Caca pun terpaksa mengikuti ucapan gadis tersebut, Dira pun membawa Caca menggunakan motor yang dia punya untuk pergi ke klinik


Hari itu langit terlihat cerah tapi lain hal dengan hati Caca pada saat itu, hatinya benar-benar di selimuti awan mendung saat sang dokter memberitahukan kepada Caca apa yang sedang terjadi kepada dirinya. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan akhirnya sang dokter memberitahukan sebuah kabar kepada Caca bahwa saat itu di dalam rahim Caca ada nyawa yang sedang tumbuh


Setelah kembali ke toko bunga Caca memutuskan untuk langsung menuju ke bagian belakang bangunan tersebut yang dia jadikan sebagai tempat untuk dia beristirahat, Caca pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Upaya apapun yang dia lakukan saat itu tetap tak berhasil membuat kedua matanya terpejam sama sekali


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? jalan termudah adalah aku keluarkan anak ini, tapi aku ga akan sanggup untuk melakukan hal itu. Anak ini ga memiliki salah sama sekali, ya aku harus kuat menghadapi ini semua." tersenyum tipis


Caca pun pun mengelus perutnya yang masih terlihat rata tersebut


"Mama yakin jalan yang akan kita tempuh saat nanti kamu hadir ke dunia ini ga akan mudah sayang, tapi mama janji mama akan selalu ada untuk kamu. Kita berdua pasti akan hidup dengan baik walaupun tanpa ada dia di antara kita berdua"


Dan akhirnya Caca pun membulatkan tekad nya untuk tetap mempertahankan janin yang sedang tumbuh di dalam rahim nya, dan saat jam makan siang Dira pun datang ke kamar Caca untuk membawakan makan siang untuk Caca


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk"


"Aku udah beliin mbak makan siang, sebaiknya mbak makan dulu ya." tersenyum


"Terima kasih"


Dira mulai meletakkan makanan yang dia bawa di dekat Caca tetapi dia tetap berdiri di sana dan terus ke menatap ke arah Caca, terlihat dengan jelas bahwa gadis tersebut sedang ingin mengetahui sesuatu


"Aku udah buat keputusan," tersenyum

__ADS_1


Wajah tegang pun langsung terlihat jelas di wajah Dira


"Apa aku boleh tau keputusan apa yang mbak ambil?"


Caca pun tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya


"Aku udah putusin untuk tetap mempertahankan anak ini," penuh keyakinan


FLASH BACK


Selepas kepergian Caca dari klinik tersebut mereka pun mampir di sebuah apotik untuk menebus resep obat yang tadi di berikan


"Mbak duduk aja biar aku yang antri ya"


"Terima kasih ya," tersenyum tipis


Dira pun mulai mengikuti antrian yang ada, setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan dia pun mulai memberanikan diri untuk duduk di samping Caca


"Ini mbak," menyerahkan sebuah bungkusan


"Sama-sama mbak, tapi maaf banget ya mbak kalau aku udah berbuat lancang. Apa mbak yakin mau mempertahankan anak itu?"


Caca pun hanya bisa terdiam


"Kalau aku ga salah ingat mbak pernah bilang kalau mbak belum menikah, jadi kan anak itu...."


Dira menahan ucapan yang akan keluar dari mulut nya karena melihat wajah Caca yang sudah mulai terlihat sedikit bersedih


"Di kota ini cuma kamu yang aku kenal, apa boleh aku cerita sesuatu ke kamu?"


Dira langsung menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali


"Yang kamu bilang benar aku memang belum menikah, tapi aku sudah melakukan sebuah kesalahan sebelum aku sampai di kota ini. Dan ini adalah hasil kesalahan aku hari itu," lirih sambil memegang perutnya


Melihat kedua bola mata Caca yang sudah mulai berkaca-kaca Dira pun langsung menggenggam tangan Caca dengan erat, dia mungkin terbilang baru mengenal sosok Caca tapi Dira bisa merasakan kesedihan hati Caca saat itu

__ADS_1


"Mbak jangan terlalu sedih ya, setiap orang di dunia ini pasti pernah berbuat kesalahan di dalam hidup mereka mbak. Aku juga yakin mbak itu orang yang kuat, mbak pasti bisa menyelesaikan masalah ini." tersenyum


Caca pun merasakan kehangatan di dalam hatinya karena ucapan Dira yang benar-benar terdengar tulus


"Boleh ga aku minta pendapat dari kamu?"


Dira pun langsung menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali


"Kalau menurut kamu apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang?"


Dira pun terdiam karena merasa sedikit bingung untuk menyampaikan apa yang berada di ujung lidahnya pada saat itu


"Ga apa kok bilang aja, aku bener-bener butuh masukan dari orang-orang yang ada di sekitar aku. Dan di sini cuma kamu yang aku kenal," penuh keyakinan


"Apa aku boleh ngomong jujur mbak?"


"Iya, aku lebih seneng kalau kamu bisa ngomong jujur." penuh keyakinan


"Kalau mbak memilih untuk mempertahankan janin ini mbak harus mengalami banyak masalah, dan sebaiknya mbak juga harus pikirin gimana nasib dan perasaan anak itu ke depannya nanti? gimana pandangan orang di sekeliling anak itu nantinya ke dia?"


Caca pun mulai menundukkan kepalanya


"Apa yang Dira bilang benar, pasti nanti anak ini akan menderita saat semua orang di sekeliling kami mulai menghina dia karena dia lahir tanpa seorang ayah"


"Tapi sebagai seorang perempuan saya kurang setuju dengan pilihan itu mbak"


Caca pun mulai mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dira dengan serius


"Karena bagaimana pun juga anak itu ga melakukan kesalahan apapun mbak, aku lebih setuju dengan mempertahankan anak ini mbak. Biar Tuhan yang menentukan garis hidup anak itu dan menurut aku anak itu juga punya hak untuk lahir ke dunia ini." penuh keyakinan


Caca hanya bisa terdiam dan menatap kagum ke arah Dira, bagaimana mungkin gadis yang jauh lebih kecil dari dirinya bisa punya pemikiran sejauh dan sematang itu


"Sebelum mbak ambil keputusan sebaiknya mbak pikirkan dulu baik-baik, karena segala sesuatu yang sudah terjadi ga akan bisa di ulang lagi mbak. Aku cuma ga mau mbak menyesal dengan keputusan yang akan mbak pilih"


FLASH OFF

__ADS_1


__ADS_2