Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II - 26


__ADS_3

.


.


Pagi hari Laila sudah menyiapkan sarapan di kediamannya. Semalam Bi Eti datang dan menginap, dan kini wanita paruh baya itu tengah menyiram tanaman.


Laila pergi ke kamarnya. Ia merasa canggung saat melihat Gilang. Entah kenapa, rasanya ada yang mengganjal perasaannya. Melihat Gilang yang tengah bersiap-siap di depan cermin, menimbulkan rasa gundah dalam hatinya.


Tanpa Laila sadari, Gilang menatapnya dari cermin. Laila yang terhanyut dengan pikirannya, tersentak saat Gilang memanggilnya.


"La! Ngapain bengong pagi-pagi?"


Laila menggeleng pelan. Ia pun merapikan tempat tidur yang sedikit berantakan karena ada beberapa pakaian suaminya itu disana.


"Mm,, mas. Ayo sarapan." Ajaknya setelah kembali hening beberapa saat.


"Iya." Jawab Gilang yang melangkah melewatinya.


Laila mengikuti langkah suaminya itu. Sesampai di tangga, ponsel Gilang berdering. Ia mengangkatnya. Laila hanya dia menyimak pembicaraan Gilang meski sebenarnya ia cukup penasaran dengan siapa suaminya bertelepon.


"Asal nggak macam-macam, ya kak. Gue nggak mau lo bikin masalah lagi." Ucap Gilang sebelum mengakhiri pembicaraannya.


Setelah panggilan berakhir, Gilang melirik Laila dengan rasa hati yang tak menentu. Ada rasa bersalah kini karena ia tak bisa membawa Laila. Apalagi melihat raut wajah Laila yang tak banyak tersenyum.


Laila melewati Gilang yang masih mematung memandangnya. Gilang tiba-tiba menahan tangannya sehingga Laila menghentikan langkahnya.


"Kalau kamu pasang muka kaya gitu, apa bunda sama ayah nggak akan mikir yang macam-macam?" Ucap Gilang pelan.


Laila menepis pegangan Gilang di tangannya. Ia menatap datar lelaki jangkung di hadapannya itu.


"Dengar Laila! Mama itu selalu ingin tahu sama pernikahan kita, mama nggak mungkin nggak merhatiin kamu. Jadi, aku minta kamu jaga sikap kamu. Jangan bikin orang lain berpikir buruk tentang aku." Kata Gilang dengan raut wajah yang menurut Laila menegangkan.


Setelah berkata seperti itu, Gilang berlalu begitu saja. Meninggalkan Laila yang berdiri terpaku dengan kemelut yang memenuhi pikirannya. Sesak di dadanya, saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut suaminya.


Apakah hanya itu yang dipikirkan Gilang? Apa hanya dirinya sendiri yang dicemaskan oleh suaminya? Lalu, bagaimana dengan perasaannya? Apa Gilang tak memikirkan hal itu sedikitpun?


Ingin sekali Laila berteriak merutuki sang suaminya yang membuatnya tersakiti. Namun, ia hanya bisa menghela napas dan menghembuskannya, sembari mengucapkan dalam hati, Ia harus tetap sabar. Dan suatu saat suaminya pasti akan luluh.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang berdiri di dekat tangga, tiba-tiba merasa hatinya tertohok saat mendengar perkataan sang majikan. Ia menyayangkan apa yang telah dilakukan Gilang. Masih pagi, tapi majikannya itu sudah memulai pertengkatan kecil dan menyakiti hati istrinya.


Bi Eti, merasa miris melihat kepasrahan dan ketabahan Laila. Mungkin wajahnya memang tak menunjukkan bahwa dirinya tersakiti oleh perkataan dan sikap sang suami, namun Bi Eti merasakan jikalau Laila tak baik-baik saja. Setiap orang pasti akan merasakan hal yang sama jika diperlakukan seperti itu.


Setelah Laila berlalu ke ruang makan, Bi Eti menatap Gilang yang baru menuruni anak tangga. Ia lalu berkata "Berhentilah bersikap seperti ini, mas. Sebelum ada penyesalan nantinya."


Gilang menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Bi Eti. Ia tak berkata apapun. Sejujurnya ia juga tak tenang setelah lagi-lagi menyakiti sang istri. Ia merutuki kebodohan dirinya sendiri yang tak masih tak bisa menurunkan egonya.


.


.


Selepas sarapan, Gilang mengantar Laila ke kediaman orang tuanya. Sesampai disana, Laila berusaha untuk menampilkan wajah cerianya. Meski sejujurnya hatinya penuh dengan rasa sakit.


Meski Gilang belum bersikap layaknya suami yang baik terhadap dirinya, namun Laila tak ingin menjadi istri durhaka dengan memperlihatkan keadaan rumah tangganya yang seperti sekarang.


Laila mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang selalu menjadi pelipur laranya. Ya, Bunda Nora berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut dan senang.


"Laila?" Ucap Bunda Nora terkejut.


"Bunda." Kata Laila tersenyum.


"Kamu kesini sendiri?" Tanya wanita paruh baya tersebut.


"Diantar sama mas Gilang, bun." Jawabnya.


Kemudian Bunda Nora membawa Laila memasuki rumah. Wanita berhijab instan panjang itu, terlihat sangat bahagia berbicara dengan sang putri. Sepertinya ia memang sangat merindukan putrinya.


"Ila mau nginap disini beberapa ya, bun. Mas Gilang lagi ada kerjaan ke luar kota." Kata Laila.


"Ya nginap aja sayang. Bunda senang kalau kamu disini. Jadinya bunda nggak kesepian. Abang kamu tuh malah ngajak Kakak sama keponakan kamu ke Lampung. Makanya kalau siang tuh rumah sepi." Ucap Bunda dengan wajah sedih di akhir perkataannya.


Laila memegang lengan Bunda Nora dan mengusapnya. "Abang ke Lampung, bun? Kok tumben ngajak Kak Della sama Arsen?" Tanya Laila heran.


"Katanya sih mau honeymoon kedua." Jawab Bu Nora yang diiringi kekehan.


Laila ikut tersenyum melihat wajah bahagia sang ibu. Ia menjadi lebih tenang saat bersama Bundanya.

__ADS_1


"Sayang. Mama mau tanya, kamu sama Gilang baik-baik aja, kan? Nggak ada masalah dalam rumah tangga kalian, kan?" Pertanyaan Bu Nora membuat Laila tertegun.


"Mm,, iya, bun. Aku sama Mas Gilang baik-baik aja, kok. Mas Gilang juga baik kok." Jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Syukurlah kalau memang hubungan kamu dan Gilang baik-baik aja. Mama senang kalau kamu bahagia, sayang."


"Iya, bun." Ucap Laila terdengar pasrah.


Mereka lanjut mengobrol di ruang keluarga. Hingga tiba-tiba terdengar sahutan dari arah depan diiringi ketukan pintu. Laila pun bergegas membukakan pintu. Seorang kurir berdiri dengan memegang bucket bunga di tangannya.


Laila merasa dadanya bergemuruh. Ia takut untuk menerima bunga tersebut, mengingat kiriman bunga beberapa hati yang lalu membuatnya bertengkar dengan Gilang. Masih terngiang dengan jelas dalam ingatannya bagaimana marahnya Gilang atas keberadaan bunga tersebut.


"Mbak,,, permisi mbak." Berkali-kali kurir tersebut menyahuti Laila namun ia tak menyadarinya hingga beberapa saat.


"Eh, maaf mas. Ini bunga buat siapa, ya?" Tanyanya.


"Oh, ini sih buat mbak Laila. Apa benar ini rumahnya?"


"Oh, iya pak bener. Dan kebetulan saya orangnya. Bunganya dari siapa, mas?"


Si kurir terlihat mengerutkan keningnya sembari melihat kembali kartu yang ditempel di tangkai bunga tersebut.


"Nama pengirimnya nggak ada, mbak." Jawab si kurir.


Laila tepaku. Lagi-lagi tak ada pengirim. Ia memilih untuk menerima bunga tersebut. Meski sebenarnya hatinya tak tenang.


"Terima kasih, pak." Ucap Laila.


"Iya, mbak. Saya permisi." Balas Kurir tersebut yang kemudian berlalu.


Sebelum masuk, Laila mematut bunga tersebut. Ia jadi malas dan enggan untuk menerima kiriman-kiriman tidak jelas seperti ini. Siapa pengirimnya saja ia tak tahu. Lalu kenapa ia harus menerimanya. Sungguh membuatnya bingung.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


.


.


__ADS_2