
Faizan tiba di rumah pukul 9 malam. Ia mengambil keberangkatan setelah shalat maghrib. Kini ia sudah berada di depan rumah minimalis yang ia tempati bersama sang istri semenjak menikah.
Gilang cukup heran melihat keadaan di dalam rumah yang gelap. Hanya lampu bagian luar yang menyala.
"Pak. Ini kenapa di dalam gelap banget, ya? Laila nggak nyalain lampu?" Tanya Gilang pada security di rumahnya.
"Oh, memang di dalam nggak ada siapa-siapa, pak. Bu Laila beberapa hari ini kan nggak nginap di rumah Nyonya." Jawab lelaki berusia empat puluhan tahun itu.
Gilang terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hingga saat si securiti tersebut pamit, ia tak menyadarinya.
Gilang kembali ke garasi. Ia mengeluarkan mobilnya dan mengemudikan kembali keluar dari halaman rumahnya tersebut. Beberapa menit di perjalanan, ia memasuki halaman sebuah rumah besar, memarkir mobilnya di sana. Jantung Gilang berpacu dengan cepat. Ia ragu untuk langsung masuk ke dalam.
"Loh, den Gilang? Udah pulang, toh?" Bi Eti tiba-tiba muncul membawa kantong plastik besar. Sepertinya ia akan membuang sampah.
"Iya, bi. Mmm,, Laila ada disini?" Tanyanya.
"Loh, bukannya non Laila udah pulang ke ke rumah den Gilang, ya? Baru aja diantar sama supir baru bapak." Kata Bi Eti.
Lagi-lagi Gilang terhenyak. Menyebalkan sekali. Mengapa ia dan Laila harus berada dalam situasi seperti sekarang. Melelahkan.
"Kalau gitu, saya pulang dulu, bi." Pamitnya yang diangguki oleh wanita itu.
.
.
Laila menutup pintu mobil. Ia menatap bangunan minimalis berlantai dua itu. Sepi. Sama seperti 5 hari yang lalu. Hah,, jika begini sama saja seperti sebelum ia menikah.
Terkadang Laila merasa ingin menyerah untuk menjalani pernikahan ini. Kehampaan membuatnya merasa lelah. Memiliki suami tapi serasa jika dirinya belum menikah. Menjadi istri, namun seperti tak dianggap oleh suami sendiri.
Selama seminggu ini, Gilang bagai menghilang di telan bumi. Tak ada kabar sedikitpun dari lelaki itu. Hal itu semakin membuatnya dirundung kesedihan. Hah,, entahlah. Seharian ini moodnya sangat berantakan. Terkadang ia merasa senang, namun bisa berubah sedih dalam beberapa saat kemudian. Mungkin efek kesepian.
Ia memasuki gerbang. Terlihat securiti berjaga di pos.
"Loh, ibu nggak sama bapak?" Tanyanya.
"Enggak, pak. Saya diantar supir papa." Jawab Laila.
"Berarti ibu belum ketemu sama bapak?"
__ADS_1
Laila terheran dengan kening berkerut. "Maksud bapak gimana, ya?"
"Tadi Pak Faizan kesini, nanyain ibu. Setelah saya kasih tau kalau ibu di rumah nyonya, bapak langsung pergi lagi." Jelasnya.
"Mas Gilang pulang?"
"Iya, bu."
" Oke pak. Makasih udah ngasih tau saya." Kata Laila.
Ia pun memasuki rumah dan menyalakan lampu. Setelahnya Laila kembali ke teras dan duduk di kursi, karena tiba-tiba ia merasa pusing. Tak lama, terlihat mobil Gilang memasuki gerbang. Setelah memarkir mobilnya di garasi, lelaki itu pun keluar.
"Mas." Sapa Laila saat Gilang mendekat ke arahnya.
Gilang melihatnya sekilas, lalu berlalu begitu saja. Laila hanya bisa pasrah melihat sikap suaminya itu.
"Kalau kamu mau keluar rumah, kemanapun,,, bisa kan kamu izin dulu?" Ucap Gilang sarkas, saat Laila baru saja sampai di ambang pintu.
"Jangan bikin orang repot nyariin kemana-kemana." Lanjutnya.
"Mas, aku bukannya nggak mau minta izin mas. Tapi, selama seminggu ini kan mas Gilang nggak ngehubungin aku. Aku pikir mas Gilang sibuk, aku takut bikin mas Gilang terganggu." Jawab Laila menjelaskan.
Sementara Laila, lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Sikap suaminya ini membuat kepalanya terasa berdenyut. Lebih baik ia menenangkan diri. Ia pun menyusul suaminya ke kamar. Sesampai di kamar Laila langsung mengganti baju dengan gaun rumahan. Ia juga mencuci wajahnya. Setelah itu, Laila langsung tidur.
Faizan yang sedari tadi duduk di sofa dekat jendela hanya memperhatikan gerak gerik sang istri. Sejujurnya ia merasa iba melihat wajah Laila yang terlihat lelah dan pucat. Apa istrinya sakit?
Gilang terus memperhatikannya. Merasa sang istri sudah benar-benar tertidur, Gilang pun bangun dari kursi dan menghampiri sang istri. Ia menaiki ranjang, membenarkan selimut. Sebelum berbaring, Gilang mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Menatapnya lekat, lalu ia mencoba menyentuh pipi Laila.
Maafin aku, La. Lagi-lagi aku bikin kamu sakit hati. Aku masih harus menentukan bagaimana perasaanku untuk kamu. Aku harap kamu masih bisa bersabar.
Gilang mengecup kening Laila lama. Setelahnya ia menarik selimut dan beringsut untuk berbaring. Beberapa saat kemudian, ia merasakan ada pergerakan. Laila memeluk lengannya. Gilang hanya tersenyum pasrah. Ia pun mulai memejamkan mata.
.
.
.
Laila terbangun dari tidurnya saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia membuka mata, dan mendapati suaminya berada di sebelahnya. Ia hening sebentar mencoba berpikir. Perlahan, Laila turun dari ranjang. Ia pergi ke dapur.
__ADS_1
Dengan rasa lapar di perutnya, Laila berjalan ke arah dapur. Ia membuka kulkas meneliti setiap isi kulkas yang tersusun. Pandangannya tertuju pada kue putu ayu yang ada di dalam piring. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambilnya dan membawanya ke meja makan. Laila mulai melahapnya setelah menuangkan air putih ke dalam gelas.
Sementara di kamar, Gilang terbangun saat merasa ada yang hilang. Ia menyadari Laila tak ada di kamar. Kemana istrinya? Ia pun bangun dan mencari Laila ke luar kamar. Gilang melihat lampu di ruang tengah menyala. Ia berjalan ke arah sana, dan benar saja. Laila tengah duduk di salah satu kursi makan dengan posisi membelakanginya.
"Kamu lagi ngapain, La?" Tanya Gilang.
Laila sedikit terkejut mendengar suara Gilang. Namun, ia mencoba menenangkan dirinya agar tak panik, karena terkejut oleh suara sang suami yang tiba-tiba terdengar.
"Mas? Aku lapar, mas. Jadinya aku makan kue ini."Ucap Laila sekenanya. "Mas ngapain kesini?"
"Eh,, itu. Mmm,,, aku haus. Mau ambil minum." Kata Gilang berkilah.
"Oohh.." Laila mengangguk. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya menyantap cemilan itu. Tanpa Laila sadari 8 buah kue tersebut sudah habis ia makan.
"Loh, kamu ngehabisin kuenya?" Tanya Gilang saat ia kembali dari mengambil gelas dan melihat Laila menjilat ujung jarinya.
Wanita itu hanya mengangguk. Namun Gilang terheran. Ia baru tahu jika ternyata istrinya begitu. Apa Laila memang banyak porsi makannya? Tapi, ia tak pernah melihat Laila makan banyak sejak dulu.
Masih dengan wajah yang tercengang, Gilang menatap sang istri.
"Mas Gilang kenapa?" Tanya Laila.
"Eh, enggak. Aku mau balik ke kamar. Kamu mau bareng?" Tanyanya mengalihkan.
"Mm,, boleh deh. Aku taruh piringnya dulu." Jawabnya kemudian membawa piring bekas kue putu tersebut ke wastafel.
Mereka pun kembali ke kamar dan kembali tidur. Laila benar-benar langsung tidur setelah merasa kekenyangan.
.
.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1