Cinta Dan Benci

Cinta Dan Benci
II -27


__ADS_3

Seminggu berlalu. Selama itu pula Gilang berada di kota gudeg tersebut. Rencana yang ia perkirakan akan pulang ke Jakarta empat hari sekali itu ternyata tak terlaksana. Begitu banyak pekerjaan yang harus ia urus. Juga ada masalah yang terjadi dengan proyek pembangunan yang ia tekuni.


Gilang tak sadar melupakan beberapa hal. Kadang ia lupa jam makan, bahkan ia juga bekerja hingga larut malam selama beberapa hari ini. Untung saja ia tak melupakan kewajibannya beribadah kepada sang pencipta. Namun, meski demikian satu hal yang salah yang juga Gilang lakukan adalah melupakan keberadaan sang istri.


Mengapa begitu? Ya, awal kembali ke Jogja, Gilang mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya dan mengenyampingkan urusan tentang Laila. Alhasil, ia benar-benar larut dengan kesibukannya yang bertubi-tubi. Bahkan, tak ada celah untuknya lengah sedikitpun dari dokumen-dokumen, proyek dan meeting. Ia benar-benar lupa akan istrinya.


Kini lelaki super sibuk itu masih dengan aktivitas yang sama, mempelajari proposal yang baru saja ia dapat dari klien barunya setelah meeting mereka setengah jam yang lalu. Gilang fokus membaca tulisan di lembaran kertas tersebut dengan pulpen berada di tangannya.


Saat tengah fokus, ponselmya tiba-tiba berdering. Ada panggilan video dari Sahabatnya Rio, namun juga ada Faizan dan Lian dalam undangan. Gilang pun menggeser tombol hijau dan mengatur ponselnya untuk menghadap ke arahnya. Lalu muncullah ketiga wajah sahabatnya itu.


"Wuiihh, Pengantin baru kayanya sibuk banget, sampai nggak ada waktu nih buat calling sama kita." Ujar Rio memulai obrolan mereka.


"Iya, tau tuh. Baru juga 2 hari nikah, udah masuk kerja aja. Kasihan tuh Laila lo tinggal-tinggal begitu." Rio yang tak ingin diam pun ikut menggoda Gilang.


Akibat perkataan Rio dan Lian, seketika Gilang tersentak. Gilang baru tersadar bahwa sudah seminggu ini ia melupakan sang istri, tak memberi kabar sedikitpun. Wajah Gilang berubah gusar. Ia juga teringat Delon yang selalu berusaha mendekati istrinya.


Gilang memencet tombol merah di layar, keluar dari grup panggilan video tersebut. Cepat-cepat ia mencari kontak sang mama dan langsung meneleponnya.


Baru saja ia hendak berbicara, terdengar suara wanita yang telah melahirkannya itu. Terkesan dingin. Gilang yakin, sang ibu saat ini tengah marah padanya.


",,,,,,,,,,, apa kamu benar-benar ingin pernikahan kamu hanya bertahan sebentar? Mama nggak ngerti ya sama jalan pikiran kamu...."


Gilang hanya bisa memejamkan guna menahan dirinya agar dari kekesalan karena ucapan sang Mama.


"Mah,, Aku bener-bener sibuk disini. Makanya aku jadi lupa sama urusan lain. Aku minta maaf, mah. Tapi, aku janji bakalan pulang besok pagi." Katanya mencoba memberi penjelasan agar Bu Anne tak lagi marah padanya.


"Terserah kamu." Ucap wanita paruh baya itu dan kemudjan memutus panggilan secara sepihak.


Gilang kembali menghela napas berat. Ia meremas rambutnya. Pekerjaannya masih banyak yang harus ia urus dan selesaikan secepatnya, sementara masalah rumah tangganya masih dalam dilema.


Gilang memutuskan memesan tiket pesawat untuk keberangkatan malam ini. Ia tak ingin membuat masalah semakin berat.

__ADS_1


.


.


Suasana dikediaman Faizan terlihat ramai. Laila, Rere, dan Mega sedang berkunjung menjenguk Baby Milla. Bayi kecil itu terlihat sangat menggemaskan. Rere terlihat meletakkan baby Zea di sebelah Baby Milla. Terlihat Baby Zea yang memencoba mendekatkan tangannya menyentuh baby Milla.


"Wah, kayaknya Zea mau temenan nih sam Milla." Ujar Mega yang juga merasa gemas.


"Iya, nih. Nanti kalau udah gede, harus temenan yang akur, ya." Kata Naya.


Refina yang tadinya juga fokus melihat kedua baby itu, kini tiba-tiba perhatiannya teralihkan ke Laila yang sedari tadi diam. Wanita yang masih menyandang status sebagai pengantin baru itu terlihat berbeda menurut Rere. Ia sangat dekat dengan Laila, tentu ia paham bagaimana karakter gadis itu.


Laila yang ceria hari ini terlihat berbeda. Laila seperti menjelam menjadi gadis kalem dan tak lagi ceria. Ada apa dengannya?


"Laaa,, Kok kalem gitu? Biasanya kan lo yang paling heboh ya. Apa jangan-jangan setelah nikah lo udah berubah jadi pendiem?" Tanya Rere yang juga terselip nada bergurau.


Mega pun ikut menimpali karena ia memang menyadari perubahan sikap Laila. Meski mereka dulunya tak begitu dekat, namun untuk mengetahui sedikit watak Laila tentu saja bisa. Karena, ia dan sang suami juga sering datang ke Kafetaria.


Laila terlihat salah tingkah menanggapi pertanyaan kedua wanita itu. Ia pun menatap Naya yang sepertinya juga menunggu jawaban darinya.


"Enggak kok, mbak. Aku nggak apa-apa, kok. Mungkin karena lagi kurang enak badan aja. Makanya kelihatan kurang bicara." Jawabnya.


"Bener nih? Jangan sungkan ya, La. Kita ini temenan udah deket banget, loh. Nggak perlu ada lagi yang disembunyi-sembunyiin." Kata Rere lagi.


"Iya, mbak. Makasih karena udah pengertian sama aku." Ucap Laila.


Rere dan Mega mengangguk. Mereka sudah menganggap Laila seperti adik mereka sendiri, karena usia Laila yang lebih muda. Karena itu mereka merasa harus mengerti gadis itu. Mereka pun kembali menonton baby Milla dan baby Zea.


Berbeda dengan Naya. Ibu muda itu terdiam dan hanyut dengan pikirannya. Ia tentu saja tak akan percaya begitu saja dengan perkataan Laila. Ia yakin sikap Laila berkaitan dengan pernikahannya dengan Gilang. Apalagi Naya tahu bagaimana kini hubungan pengantin baru itu. Semakin memperkuat dugaan Naya bahwa Laila sedang kepikiran Gilang.


Sepertinya ia harus bicara empat mata dengan Laila agar gadis itu mau terbuka.

__ADS_1


"Nay. Gue mau pulang. Udah sore. Nanti keduluan sama Mas Gilang nyampe rumah. Nggak enak gue." Rere pun pamit.


'Wah, iya. Udah jam 5. Aku juga, Nay." Kata Mega.


"Iya, Re, Ga. Besok-besok kita kumpul lagi, dong." Jawab Naya.


"Itu sih pasti. Iya kan baby..." Kata Mega menirukan suara anak kecil.


Mereka pun berlalu, kini tinggal Naya dan Laila. Sepertinya Laila kembali melamun. Karena ia hanya hening dan tak menyadari jikalau Mega dan Rere sudha berlalu.


"La!" Ucap Naya membuat Laila tersentak.


"I,, iya. kenapa mbak?" Tanyanya.


"Kamu nggak mau ngomong apapun sama aku?" Tanya Laila dengan menatap lekat padanya. Laila tak berani membalas intens tatapan Naya.


"Nggak ada apa-apa kok, mbak." Ucapnya mencoba untuk tersenyum


"Ini ada hubungannya sama Gilang, kan? Kamu berubah karena kalian sebenarnya nggak baik-baik aja, kan?" Lagi, Naya bertanya.


Laila gelagapan. Tak mungkin ia membuka masalah rumah tangganya pada orang lain.


"La. Aku kenal kamu, dan kamu pasti mengenal aku. Kalau kamu ada masalah, aku tahu La. Sikap kamu pasti berubah. Seperti sekarang ini. Semenjak kejadian di kantor mas Faizan, kamu sangat berubah La. Apalagi setelah kalian menikah. Aku tau kamu nggak bahagia. Bener kan?" Naya benar-benar menginterogasinya. Laila semakin tak bisa berkutik.


"Mbak. Aku,,,, Aku bahagia kok. Aku nggak ada masalah apapun mbak. Mbak Naya tenang aja." Ucapnya menatap dalam Laila.


Oh, rasanya ia ingin sekali menangis di dalam pelukan wanita yang ada di depannya ini. Naya benar-benar sudah ia anggap sebagai kakaknya. Keberadaan Naya bisa jadi penenang untuknya dikala ia dirundung permasalahan seperti ini contohnya.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG............


__ADS_2